
"Boh-"
"Bukannya kamu pemilik AQ Campany?" ucapan Meli terpotong oleh sang papah.
"Ia Pah, saya Adam pemilik AQ campany!" sahut Adam dengan berani.
"Panggil papah mu!" sentak papahnya Meli.
"Woy gua disini!" nada grono dari Denis dengan kedua tangannya yang di lipat di dada, seperti tengah menentang.
"Wah mereka pasti musuhan, syukur lah! Saling adu jotos noh hahhaha, belain anakmu ini Pah!" ucap Meli dalam hati kegirangan.
"Beraninya loe gak bilang kalau anak loe mau nikah ama anak gue!" sentak papah Meli, dan meli semakin tersenyum lebar beda dengan Adam dia hanya mengerutkan sebelah alisnya.
"Mana gue tau, anak gue juga baru ngomong sekarang!" sentak Denis.
"Hei apa kalian midun!" tunjuk papa Meli, membuat Adam bingung, karena papahnya Meli mengucapkan kata asing yang sedang tren di kalangan anak remaja.
"Enak aja, nggak Pah!" dengan cepat Meli menyahuti.
"Heh Indra apa midun?" tanya Denis pada papahnya Meli.
"Hamil duluan!" bisik Indra. Kini mereka terlihat akrab membuat Meli bingung sebenarnya merwka musuhan apa enggak?
"Heh Adam apa kamu membuat cucuku duluan bersama Meli?"
"TIDAK! Semua itu tidak benar! Aku baru kenal saja sama dia waktu semalam karena dia tengah mabuk berat dan aku harus menginap semalam menemani dia!" pekik Meli dan hal itu malah di artikan lain oleh kedua pria paruh baya itu. Meli yang menyadari kata-katanya ada yang salah segera menutup mulutnya sedangkan Adam hanya tersenyum menanggapi.
Indra dan Denis saling tatap.
"Anak loe mabuk!" sahut Indra.
"Anak loe yang nemenin!" timpal Denis.
"Kalian harus menikah!" sentak bareng Indra dan Denis.
"SIAP!" sahut Adam
"TIDAK!" teriak Meli.
Di luar ruanganan Bu Merry dan satu orang perempuan seumurannya terperanjat mendengar teriakan di dalam dan segera mereka masuk.
"Ada apa?" tanya kedua ibu-ibu itu.
__ADS_1
"Mamih tolong aku mih, masa aku di paksa nikah sama papih!" Meli berlari dan segera menghampiri ibu-ibubyang berada di samping ibu Merry.
"Susan, Meli anakmu?" tanya Bu Merry.
"Iya dia anakku! Kamu kok bisa di sini nak?" tanya Susan mamihnya Meli.
"WO yang mengurus pernikahan itu dari aku Mih!" beritahu Meli.
"Terus ini kenapa? Ada apa?" tanya Susan.
"Mih Anak kita dan anak Denis telah kikuk kikuk semalam!"
"APA!" teriak Merry dan Susan.
"Nggak mungkin anakku kaya gitu. Bukannya anak Denis akan nikah, sekarang kita kemari untuk menyaksikan pernihakan mereka kan! Ini pasti ada yang tidak beres!" selidik Susan.
"Mamih memang yang paling mengerti dan berfikir logis!" guman Meli.
"Kalian saling kenal sejak kapan, bukannya siang tadi juga kalian bersama di apartemen. Ngomong-ngomong ada hubungan apa kalian?" kini Merry menatap Adam dan Meli bergantian.
"Iya saya akan tanggung jawab. Sekarang juga akan menikahi Meli!" Ucap Adam, karena dia merasa pusing dengan keadaan ini. Lagian tujuan dia juga akan menikah dengan Meli yang baru dilihatnya malam tadi yang langsung mencuri perhatiannya.
"Tidak, biar aku yang jelaskan sedetail mungkin!" sahut Meli.
Amelia tidak di kasih kesempatan untuk bicara, tanpa mereka sadari ada sepasang mata berbinar. Yakni Merry dan Susan mereka senang Adam dan Amelia menikah.
"Kita besanan!" sahut Denis pada Indra.
"Kita bakalan lebih kaya bukah, hahahah!" Sahut Indra.
"Jeng gak nyangka dibalik kesedihan pernikahan Adam ini tersiarat cahaya kebahagiaan bagi kita, semoga mereka langgeng terus kasih kita cucu yang gemas gemas." Merry memeluk Susan.
"Niat jadi tamu undangan eh! Malah menjadi ibu hajat! Taoi tidak apa itu lebih membuatku bahagia!" Susan membalas pelukan Merry.
"Baiklah buat MUA dandanin sepasang calon pengantin kita, sekarang kita nikahakan saja mereka!" Teriak Denis.
Adam dan Amelia saling tatap, tersirat tatapan kebencian dari mata Amelia sedangkan Adam hanya tersenyum. Layaknya Alenza yang membenci Rio, sedangkan Rio tetap memilih Alenza menjadi pasangannya tidak peduli sebenci apa Alenza pada Rio.
Kini acara nikahkan yang sangat megah itu tergelar, sepasang pengantin telah duduk di kursi bersiap untuk ijab qobul. Sedangkan terlihat Sarani mengerutkan dahinya.
"Itu Adam?" tanya Sarani pada dokter Ruslan.
"Ia dia kawanku!" jawab Ruslan.
__ADS_1
"Aku terakhir melihat anak ibu Merry itu saat sekolah dasar dan ternyata besarnya seperti Rio yang ada dalam nivel itu!" gumam Sarani tersenyum.
"Ngomong-ngomong juga kenaoa aku selali dekat dengannya dna kenapa hatiku selalu menerima dia berada di sampingku?" Sarani menatap Ruslan di dampingnya.
"Ada sesuatu di tubuhku? Sehingga kamu terus menatapku?" tanya Ruslan seraya tersenyum pada Sarani.
"Ah tidak!" Sarani segera memalingkan pandangannya, malu jadinya tertangkap basah telah memperhatikan.
Sedangkan di luar gedung pernikahan itu, ketiga laki-laki berbadan tegap suruhan Adam telah menghabisi wartawan yang telah lancang merekam adegan tadi saat di ruang pengantin.
"Saya beli film dan bibir mu!" Ucap salah seorang dari ketiganya, yakni laki-laki yang tadi mengemudi saat Amelia di bawa ke gedung itu paksa, melempar tiga gepok uang pada wartawan itu.
"Lain kali jangan asal rekam, kamu harus bilang dulu!" mereka pun pergi setelah mengambil apa yang dibutuhkannya dari dalam kamera itu.
Semua tamu undangan menjadi riuh selain waktu yang lama, dia pun melihat sepasang orang terkenal didunia perbisnisan itu hadir di depan meja akad nikah.
"Katanya Adam hanya menikah dengan orang biasa? tapi kenyataannya dia malah menikahi anak dari orang yang luar biasa kaya juga!" ucap seorang ibu-ibu pada ibunya Sarani.
"Mungkin karena mereka sudah takdirnya!" sahut sang ibu Sarani.
"Lagian mana mungkin orang kaya mau dengan orang biasa-biasa, aku dengar di balik pernikahan ini sempat ada desas desus kalau wanita yang akan menikah dengan Adam ketauan telah mengandung anak dari laki-laki lain, bodoh ya itu wanita. Tapi aku juga setuju sama yang ini lihatlah sepasang pengantin cantik dan tampan!" Ucap teman ibunya Sarani.
"Suuutttttt, privasi Merry kita harus menjaganya!" bisik Ibunya Sarani.
"Iya mana aku bilangnya bisikan juga kan tadi!" sahut teman sang ibu.
Pernikahan telah di gelar tidak lama hanya membutuhkan ijab qobul dan foto keluarga serta kerabat dekat, hingga pukul tiga sore hari acara pernikahan itu telah usai. Adam dan Amelia di antar orang tua mereka untuk mendaftarakan pernikahan secara resmi hukum.
"Sekarang aku sah suamimu!" sahut Adam.
"Aku juga gak buta kali!" jawab Amelia.
"Kamu harus nurut sama suami!" Adam menggengam tangam Amelia.
"Emang kamu nyuruh aku apa sampao alu harus nurut!" nada ketus itu keluar dari mulut Amelia.
"Cium!"
"WHAT, ini masih di kantor KUA!"
"Kalau gitu nanti saat kita berdua!"
"Ya ampun!" Amelia mencubit keras lengan Adam sampai Adam kesakitan.
__ADS_1