
HAI PARA PEMBACA SEKEDAR MAU MEMBERI TAU SAJA ALENZA GRANITA DAN ALENZA YANG DI CINTAI RIO BEDA ORANG YA, MEREKA HANYA SAMA NAMA DAN WAJAH NYA SEDIKIT MIRIP SAJA. TERIMA KASIH.....
HAPPY READING
"Rio mohon tenangkan pikiran dan kendalikan tubuh loe! Bukankah dia seseorang yang loe sangat sayangi. Dia hanya mengikuti alur sikapnya emang begitu sadarlah Rio jangan sampai loe lukai dia karena keegoisan." Annnasya kembali mengingatkan.
"Gue minta maaf! " Alenza menunduk sambil menitikan air matanya pada Rio.
Rio terhenyak dia pun menatap Alenza, dirinya hendak memegang tangan Alenza tapi Annasya mencegahnya.
"Jangan lakukan apa pun pada sahabatku! " ucap Annasya dan perkataan Annasya sukses membuat Alenza mengerutkan dahinya, merasa ada sesuatu yang mengganjal pikirannya kala Annasya mengucapkan lah itu.
"Annasya! " lirih Alenza.
"ARrrggghhhhhh! " erang Rio prustasi, dia pun meningglakan kelas itu.
"Za apa loe baik-baik saja? " tanya Annasya.
"Sya, apa loe pernah mengatakan hal itu sebelumnya? " tanya Alenza dan kini malah Annasya yang dibuat heran oleh Alenza.
"Apa? " Annasya mengerutkan dahinya.
"Waktu loe berkata gue sahabat loe! " Alenza mengingatkan.
"Emang ia kan gue sahabat loe, dan kayaknya dulu loe juga bilang kaya gitu saat Stepanie mau nyulik gue ia kan! " sahut Annasya dan Alenza tersenyum dia lun mengingat kejadian saat Annasya di culik oleh model itu.
"Oh ia gue ingat, dan di pikir pikir kenala ya Rio matanya bisa merah gitu dan terasa ada yang aneh aja gitu perasaan pernah liat dia marah seperti itu tapi kapan ya? Apa cuman halusinasi saja! " Alenza menatap Annasya.
"Sebenarnya gue gak tau bagaimana hubungan kalian tapi yang pasti kalian suka bertengkar tapi kadang kamu juga pernah romantis, loe gak ingat Za! " Annasya kembali duduk di bangkunya.
"Za sebenarnya loe dan Rio itu kenapa sih ngomongnya gue pernah romantisan sama Rio, bahkan Rio juga kekeh kalau gue pernah cinta mati sama dia! " Alenza di buat bingung dna hal itu membuat Annasya tersenyum.
"Mungkin ini hal gila tapi dulu juga loe pernah percaya bahkan loe sendoro pernah kasih tau juga. Ini dunia novel Za dimana ada dua kehidupan di dalam dan di luar alur cerita. Gini deh loe ingat ingat kalau Rio marah sama loe, ingat ya save dalam memori otak loe! " Annasya berencana untuk mengingatkan kembali ingatan Alenza.
"Heh, dia pasti sudah lelah ngejar gue syukur lah selain play boy dia juga ternyata sangat garang!" Alenza bergidik.
STAAKKKKKK ( Masuk alur cerita)
__ADS_1
Tiba-tiba saja Alenza berada dipalkiran dan suasan bumi itu masih berhujan.
"Alenza sayang bareng abang yuk! " Rio begitu saja menghampiri Alenza dengan motornya.
"Ogah gue! " sahut Alenza dna tanpa sengaja mereka saling tatap, dan seketika mata Alenza membulat sempurna.
"Mata itu bukannya Rio, Dia lagi marah sama gue! Kenapa sekarang dia ngajak gue pulang bareng mana bicaramua alay banget lagi! " Dalam hati Alenza.
"A! " Alenza hendak bicara namun mulutnya gak bisa dia gerakan.
"M! " Kembali Alenza mencoba tapi tidak bisa.
"Kenapa ini! " Alenza mulai panik dan seketika itu bayangan-bayangan saat bersama Rio, sedih senang yang mereka lakukan bersama, perpisahan panjang yang pernah mereka lalui berputar jelas di otak Alenza seperti film layar lebar.
"Ini hujan loh nih jas hujan buat loe aja biar gue kehujanan, cepat naik jangan jual mahal! " Suara Rio mengagetkan dan memudarkan bayangan-bayangan itu.
"Gue bilang ogah ya ogah, apa loe tuli? " sentak Alenza pada Rio, kali ini Alenza sendiri sangat terkejut dengan omongannya sendiri yang begitu saja terlontar dibibirnya.
"Oke gue duluan!" pamit Rio menyalakan motornya.
JDDERRR
"Hm butuh kan sama gue! " lirih Rio tapi tidak terdengar oleh Alenza.
Terkadang alur cerita itu mendukung Rio untuk selalu bersama Alenza, bisa menikmati rasa yang melekat dalam hati yang berdebar.
Motor Rio membelah jalanan dengan gemercik air hujan yang deras, rasa dingin dan basahnya kuyuonya mereka tidak memudarkan hati Rio yang kini tengah berbunga. Walau tadi dia kepancing emosi saat berada dikelas tapi setelah kembali bersama Alenza dan membutuhkannya rasa amarah itu seperti hilang begitu saja.
"Ini bukan dirimu, tapi aku bisa mengambil kesempatan saat alur cerita novel ini mendukung perasaanku Za! " Ucap hati Rio.
Beda dengan Alenza yang kini memegang tas gandong milik Rio, dirinya terpikir rasa bersalah dan sedikit ada rasa senang saat ingatan itu pulih. Tapi ada satu hal yang memebuat Alenza ketakutan saan ancaman Alenza Granita kepadanya waktu diperpustakaan itu.
FLASHBACK ON
Saat di perpustakaan.
Al lakukanlah aku sudah tidak kuat, setidaknya aku tidak akan melupakan mu! " ucap Rio tertatih.
__ADS_1
"Rio! " Alenza mulai mendekatkan mukanya ke muka Rio, tapi gangguan tiba-tiba muncul.
"Dengan loe mencium dia, kalian tidak akan bisa mengubah nasib! " ucap Elmanno.
Spontan Alenza mendorong Rio sampai tersungkur ke lantai.
"Aw! " ringis Rio.
"Maaf! " Alenza menarik tangan Rio agar bangun.
"Ngapain anda ke sini tuan? " tanya Rio setelah berdiri dibantu Alenza.
"Hah tuan? " gumam Alenza.
"Gue tau sekarang dan ingatan gue udah pulih, sekarang loe ikut gue! " Ucap tegas Elmanno.
"Tapi tuan tanganku! " Rio mengodorkan kedua tangannya yang penuh dengan darah.
Prookkkk
"Adaw! " ringis Rio saat Elmanno menepuk kedua telapak tangan Rio.
"Gak usah lebay! " Elmanno melongos begitu saja dari ruang perpustakaan itu.
"Wah dia bisa menyembuhkanmu? Dan tuan? Emang si Elmanno itu siapa sebenarnya? " beberapa pertanyaan dari Alenza membuat Rio menghembudkan nafasnya panjang.
"Nanti aku jelaskan ya sayangku! " Rio mengusap puncak kepala Alenza lalu pergi mengikuti Elmanno.
Setelah kepergian Elmanno dan Rio, Alenza duduk di bangku perpus itu sambil mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Annasya tapi tiba-tiba cahaya putih menyinari dari arah depan dan membuat Alenza silau dibuatnya. Alenza pun meletakan tangannya dipelipis agar sinar itu tidak begitu masuk kedalam matanya.
"Hai Alenza, kau hampir saja membuat Rio berkorban nyawa hanya untuk menyelamatkanmu dan membuat dunia novel hancur!" ucap seseorang yang keluar dari cahaya putih itu.
"Siapa loe! " sentak Alenza.
"Alenza Granita yang akan membenarkan alur cerita ini sebagaimana mestinya!" ucap seseorang itu, cahaya memudar dan menampakan wanita anggun dan cantik hpir mirip dengan dirinya.
"Apa maksud ucapan loe, kalau Rio hampir berkorban nyawa untuk gue? Memang apa yang membuat gue dalam bahaya?" Alenza menelan silvanya dengan susah dia merasa sedikit takut dengan aura yang di pancarkan oleh Alenza Granita itu.
__ADS_1
"Oh kamu belum tau ya! Kamu bertemu denganku ini merupakan sebuah ancaman nyawa bagi mu! Kamu itu hanya singgah sesaat, seharusnyabkamu kembali saat novel pertama tamat tapi keegoisan cinta kalian kamu menjadi bumerang didunia ini! " teriak Alenza Granita dan tentu saja membuat Alenza ketakutan.