
Kini mobil sang ayah telah terparkir rapih di dalam garasi sedangkan Sarani berlari menuju kamarnya dan segera membaca novel itu langsung ke bab terakhir.
"Kami telah mengubah alur! Tamat novel ini berbeda dari sebelumnya! Apa pengarangnya beda?" tanya Sarani dalam hati membolak balikan novel itu.
"Tapi pembukaan dan awal cerita mirip hanya ada beberapa yang berubah termasuk akhir kisah ini! Akhir kisah ini sama persis dengan yang aku alami. Elmanno terbunuh dengan belati yang menancab di tubuhnya ulah preman itu!" Badanjya seketika melemas dia terbaring di kasur, yang sudah sangat lam dia tidak tiduri, dia menatap boneka winne the pooh besar di sampingnya kembali air matanya menetes, dia merindukan sosok Elmanno.
"Dia memang sudah tidak ada!" Lirih Sarani memebelai lembut boneka itu.
Sang ibu yang memeperhatikan tingkah laku Sarani merasa khawatir dia langsung membuka pintunkamar Sarami lebar lalu menghapiri Sarani.
"Sayang, kamu bisa cerita apa yang sedang kamu alami sedari kamu siuman samoai sekarang ibu melihat kamu merasa seperti tengah bersedih ada apa?" Tanya sang ibu, Sarani buru-buru mengelap air mata dipipinya ada keinginan dia untuk bercerita tapi dia merasa khawatir ibunya malah dibuat lebih cemas.
"Ibu tapi ibu jangan cemas denganku. Ini hanya yang aku alami nanyi ibu jangan ambil keputusan yang berlebihan setelah aku menceritakannya." beritahu Sarani sebelum bercerita pada sang ibu, lalu duduk diranjang mengadap sang ibu.
"Iya, iya!" ucap sang ibu.
"Aku merasa telah mimpi panjang bu. Aku bertemu dengan laki-laki yang seperti dokter Ruslan itu, lalu aku di paksa nikah sama dia dan dia sangat mencintaiku dia berkorban nyawa untuk menyelamatkan aku, aku jadi teringat terus akan dia. Apakah ada mimpi panjang yang seperti kenyataan itu bu?" tanya Sarani dia berkata mimpi pada sang ibu tidak mungkin kalau dia berkata telah terdampar didunia novel kan, dia takut sang ibu mengaggap otaknya bermaslah nanti. dan sang ibu hanya menelan air liurnya dan memalingkan pandangan dari sang anak.
"Mungkin karena kamu tidurnya terlalu lama saat koma, jadi mimpi itu berasa nyata. Tapi jangan terlalu di pikirkan, itu hanya mimpi saja atau mungkin itu petunjuk kalau dokter Ruslan jodoh kamu, hahha!" Sang ibu menjoba untuk memudarkan rasa yang sedang di alami anaknya itu, walau terdengar agak sedikit anah tapi sang ibu tidak terlalu memfokuskan cerita Sarani dia hanya ingin Sarani tidak berlebihan dengan tanggapan mengenai mimpi panjangnya itu.
"Ibu sukanya menggoda saja!" Cemberut Sarani.
"Sini Ran ibu peluk! Sudah lama kamu tidak ibu peluk ibu kangen kamu, ibu sangat khawtir saat kamu terbaring di ranjang rumah sakit itu dengan tidak berdaya ibu takut kehilanganmu sayang!" Sang ibu menarik Saraninkedalam pelukannya.
"Ingatlah sayang mimpi itu hanya bunga tidur jangan terlalu memikirkannya, sekarang kamu telah sadar dan kembali pulih jadi sekarang yang oerlu kamu pikirkan masa depanmu cita-cita mu yang ingin memiliki sebuah leb besar yang bermanfaat untuk semua orang itu, dan tentunya soal menatu ibu nanti!" ucap sang ibu lalu mencium puncak kepala Sarani.
"Bu padahal umurku udah dua puluh duabm tahun kok merasa masih anak kecil diperlakukan seperti ini oleh ibu!" ucap Sarani.
__ADS_1
"Haha, kamu itu kalau di hadapan Ibu merasa umurmu masih tujuh tahun. !" tawa snag ibu memenuhi ruang kamar Sarani.
"Ck ibu, tapi bu bagaiaman tanggapan ibu mengenai dunia novel?" tiba-yiba saja Sarani berkata dan sang ibu tersenyum sembari melepaskan pelukannya.
"Dunia novel itu cuma dunia halusinasi bagi pengarangnya, dia diciptakan atas penulis yang memiliki cerita dibenaknya yang dituangkan dalam sebuah buku. Dan menjadi hiburan bagi pembacanya." sahut Sang ibu.
"Dulu juga ibu pernah menulis cerita!" sambungnya.
"Benarkan?" Sarani tidak percaya.
"Hem, tapi sayang mogok di tengah jalan cerita.Karena ibu tidak terlalu fokus menulis hingga menggantung di tengah cerita dan setelah itu lupa deh apa yang mau ibu tulis!" kasih tau sang ibu.
"Ck ibu ini!" Sarani memalingkan pandangannya.
"Tapi Ran ada hal aneh yang ibu lihat dari dokter Ruslan itu dia seperti banar menyukaimu dia selalu bercerita dan baik kepada ibu dan ayah saat kamu koma. Dia tidak pernah absen untuk menemuimu selama koma bahkan saat libur pun dia tetap menjengukmu loh!" beritahu sang ibu.
"Benarkah?" tanya Sarani.
"Sut ibu ngomingnya!" sergah Sarani.
"Bukan itu maksud ibu, kamu bermimpi bertemu dia dan dia juga sering menemuimu gitu aja!" jelas sang ibu.
"Tapi ibu setuju kalau kamu sama dokter Ruslan dia baik dan penyayang dan harus kamu tau sebenarnya dia tidak memiliki anak dan bukan duren!" ucapan sang ibu menambah penasaran Sarani.
"Ibu bisa tau dari mana?" tanya Sarani.
"Itu sudah menjadi rahasia umum di rumah sakit itu, Dokter Ruslan merupakan seorang dokter tampan dan banyak dikagumi di rumah sakit, dia merulakan seorang lajang yang terpaksa harus mengurus keponakannya karena sang kakak dan kakak iparnya meninggal dalam sebuak kecelakaan. Dia tidak ingin anak itu nantinya merasa tidak punya orang tua jadi dia memutuskan untuk menjadikan anaknnya saja, itu yang ibu dengar dari orang-orang rumah sakit." jelas Ibu.
__ADS_1
"Jadi dia masih ori!" gumam Sarani dalam hati.
"Ran! Kok malah bengong, masih mau ngejar dokter Ruslan?" tanya sang ibu mencubit kedua pipi Sarani.
"Sakit napa bu, aku tidak berharap hanya saja sedikit berharap. Kerana dia hanya mirip mukanya saja tidak dengan cintanya!" ucap Sarani.
"Udah lupakan mimpimu itu, itu sudah berlalu kamu sudah kembali pulih jangan membuat ibu khawatir loh! Mendingan sekarang kamu makan sup ya nanti ibu bawakan, setelah itu makan obatnya dan tidur!" sang ibu pun berdiri hendak pergi.
"Baiklah bu!" sahut Sarani.
Setelah kepergian Snag ibu Sarani menatap buku novel yang tergeletak di sampingnya, dia tersenyum mentap novel itu.
"Walau ini hanya sebuah dunia yang pernah aku singgahi, setidaknya aku mengetahui cinta dan sayang yang tulus yang pernah aku rasakan. Merasakan masa sekolah SMA yang penuh dengan fantasi dan masalah, merasakan bagaimana garangnya seorang mertua yang tidak restu dan sebenarnya juga mengetahui kalau cinta tidak bisa di paksakan!" Sarani mengambil novel itu yang berjudul derita istri kecil.
Sedangkan diruang dokter, Ruslan menatap sebuah novel yang di genggamnya. Novel yang sama persisi dengan yang dimiliki Sarani.
"Annasya atau Sarani siapa pun itu aku begitu menginginkannya! Mimpi-mimpi yang terus aku rasakan setiap malam membuatku senang dan sampai lupa mana dunia nyata dan mimpi dan pada akhirnya dia terbangun dari komanya, mimpi itu tidak lagi aku alami. Mimpi yang mirip sekali sekenarionya seperti buku ini, aneh memang apa aku perlu ke psikiater?" Dokter Ruslan tersenyum kecut dan pandangannya tidak luput dari buku novel itu, hingga seseorang mengetuk pintu ruangannya itu.
"Masuk!" seru dokter Ruslan.
"Papih!" tiba-tiba dari balik pintu anak berusia emat tahun berlari menghampirinya sambil merentangkan kedua tangan seraya ingin di peluk olehnya.
"Anak Papih, sudah makan?" Dokyer Ruslan segera menggendong anak itu.
"Udah tadi di suapin sama sus Riri, Papih mana Mamih? Di ruang rawatnya nggak ada sudah lama sekali Rio gak ketemu Mamih!" cemberut anak kecil itu yang bernama Rio.
Dokter Ruslan tersenyum dia memang selalu mengenalkan Sarani sebagai maminya karena dia yakin akan mendapatkan wanita itu menjadi istrinya, keyakinan itu tentu saja dari hatinya yang disebabkan mimpi mimpi itu.
__ADS_1
"Nanti kita kerumah Mamih ya, doain Papih agar bisa mengambil hatinya Mamih!" ucap dokter Ruslan.
"Siap!" sahut Rio dan mencium pipi Dokter Ruslan.