
STAKKKKKKKK (berakhirnya alur novel)
Annasya dan Bhadra mengembuskan nafas panjang setelah mereka berada di dalam panggung cerita. Annasya merogoh kopi yang berada di meja itu lalu meneguknya samapai habis hal itu disaksikan oleh Bhadra.
"Katanya gak suka! " selidik Bhadra.
"Itu cuma di cerita saja, sebenarnya gue suka nih kopi! " sahut Annasya.
"Hm semenjak kapan loe sadar kalau dunia novel ini memiliki dua kehidupan?" tanya Annasya.
"Entahlah begitu saja mengalir dan lambat laun bisa paham dengan keadaan, tapi ada satu hal yang ingin gue tanyakan sama loe," ucap Bhadra.
"Apa? " penasaran Annasya.
"Loe bisa langsung sadar berada di dunia novel ini, tapi kenapa gue baru menyadarinya sekarang. Apa loe tau kenapa? " tanya Bhadra.
"Awalnya juga gue bingung bisa masuk aja kemari dan bertemu orang-orang asing gitu. Tapi gue juga lambat laun mengerti dan bertemu dengan Alenza jadi paham betul! " jelas Annasya.
"Oh begitu! " sahut Bhadra.
"Bhad sebenarnya ada yang mau gue omongin nih, kebetulan kita lagi bersama! " ucap Annasya dan membuat Bhadra salah tingkah.
"Ya udah cepat katakan! " Bhadra sambil kembali meneguk kopinya.
"Nanti pas di ulang tahun siNaraya loe harus bantuin gue nukerin minuman yang buat gue. Jangan sampai gue meminumnya!" ucap Annasya membuat Bhadra mengerutkan alisnya tidak mengerti.
"Maksudnya? " tanya Bhadra.
"Ia nanti kalau gue mau minum loe singkirin minuman itu, atau tukerin aja sama orang lain karena di adegan novel berikutnya gue bakalan di racun sama Stelanie dan Sahara! " terang Annasya selain dia tau dari novel itu, dia juga melihat bayangan yang sama saat pusing kepala itu melanda bersama Elmnno saat itu.
"Eah beneran loe! Tapi bisa tau dari mana? " tanya Bhadra.
"Gue tau cerita novel ini, sebelum gue masuk nih Novel gue udah tau jalan ceritanya jadi gue ingin rubah dikit aja agar si Annasya ini tidak begitu menderita dan asal loe tau jangan sampai Alenza tau!" Annasya menunjukan telunjuknya tepat di muka Bhadra.
"Hm, gak mau lah! " sahut Bhadra dan seketika mata Annasya melotot.
__ADS_1
"Yak! Kenapa? " tanya Annasya dengan amarahnya pada Bhadra.
"Tapi gue gak bisa, saat drama novel ini berlangsung badan gue selalu mendadak kaku! Jadi mana mungkin gue bisa bantuin loe! " alasan Bhadra membuat Anansya mengangguk, lalu telunjuknya dia letakkan di kening mencari jalan lain agar kejadian itu tidak berhasil. Hingga akhirnya Annasya mengingat sesuatu.
"Aha, loe cukup tukerin gelas itu semoga aja keajaiban datang! " Ucap Annasya girang sambil memikirkan Elmanno. Dia yakin kalau Elmanno bisa membantu mengubah alur cerita ini.
"Gue akan lakukan apa pun demi loe, walau gue gak yakin! " setuju Bhadra dan terukir indah senyum itu pada wajah Annasya.
"Makasih ya! " Anansya seraya tersenyum pada Bhadra.
Mereka pun meninggalkan kedai kopi itu, Annasya menjalankan sebuah motor sedangkan Bhadra kembali dengan mobilnya.
Annasya telah sampai di rumah dan ternyata di sana ada Stepanie tengah duduk sambil menyesap minumannya bersama dengan Naraya juga Sahara, melihat Annasya yang membuka pintu membuat Stepanie memiringkan sebelah bibirnya mengejek.
"Dari mana saja loe?" tanya Naraya, Annasya merasa tidak ada gunanya menjawab pertanyaan mereka dia pun begitu saja melongos menuju kamar.
"Tidak sopan! " gumam Stepanie.
"Gue heran dia masih saja betah dirumah ini padahal udah kita siksa apa emang dia tidak tau diri ya mamih? " Naraya bersandar di bahu Sahara.
"Tante gak baik loe anak orang di siksa gitu kasian! " pura-pura Stepanie berlagak baik.
"Kau memang menantu idaman, udah cantik, model terkenal dan baik hati lagi! Entah kenapa malah si Nasya itu yang menjadi penghalang buat kalian! " pekik Sahara, semua yang mereka bicarakan terdengar jelas oleh Annasya dia mengepalkan tangannya. Annasya berbalik lalu berjalan dan duduk disebelah Stepanie hal itu membuat orang-orang disana menatapnya meremehkan.
"Ngapain loe kesini? " tanya Naraya.
"Cuma ingin mendengar pembicaraan kalian saja, aku rasa ada hal yang mengganggu telingaku tadi ah lagian Mamih dari pada sindir menyindir mending bicara langsung pada orang nya bukan! " Annasya seraya tersenyum.
"Ada nyali juga kamu! " sentak Sahara.
"Kenapa harus takut kalian semua manusia kan! Bukan setan! " sahut Annasya.
"Hey loe gak baik ngatain orang tua setan! " hardik Stepanie kepada Annasya.
"Benarkah? Apa telingamu sudah gak berfungsi ya? Aku bilang bukan setan kan!" Annasya menopang dagunya lalu menoleh pada Stepanie.
__ADS_1
"Sana loe pergi! " usir Sahara pada Annasya membuat Naraya dan Stepanie tersenyum.
"Terkadang manusia hanya melihat dari penampilan luarannya saja tanpa mereka tau hal yang sebenarnya, iya kan Stepanie! Ah lagian aku di sini jadi gerah sendiri makasih mamih udah ngusir aku tau aja kalau aku gak betah berada di antara kalian, aku permisi pai pai! " Annasya berdiri dan pergi sedangkan Stepanie menatap punggung Annasya yang semakin menjauh.
Annasya telah sampai dikamar disana tengah ada Elmanno menatapnya dengan tajam, tapi Annasya begitu saja melongos ke kamar mandi.
"Dari mana? " tanya Elmanno.
"Dari luar! " jawab singkat Annasya.
"Dari luar kemana? " Elmanno beranjak dari kasur dan menghampiri Annasya yang tengah membuka pintu kamar mandi.
"Tadi ada adegan aku bersama Bhadra di cafe, emang kenapa? " Annasya hendak melangkah ke kamar mandi tapi baju Annasya di tarik paksa dari belakang oleh Elmnno selain Annasya terkejut dan jatuh ke pelukan Elmanno baju Annasya pun kancing depannya terputus dan berserakan ke lantai.
"Yak! " Annasya segera mengeratkan bajunya agar bagian dalamnya tidak terlihat.
"Jadi tadi kamu udah selingkuh?" Elmanno mengeratkan pelukannya.
"El sebenarnya kenapa sikap loe seperti ini, mendadak bucin gini sama gue! Apa yang loe suka dari gue mendingan jangan bersikap kaya gini jangan membuat gue yang jomblo ini merasa akan ada penerangan untuk tidak bersetatus demikian!" ucap Annasya seraya berusaha melepaskan diri dari rangkulan Elmanno.
"Aku sebenarnya bukan tipe laki-laki yang suka merendahkan atau menghina perempuan karena papih yang selalu mengajarkan aku untuk tidak seperti itu! Tapi setelah aku dijodohkan oleh mu, aku merasa kalau kamu itu wanita murahan yang selalu ingin dibelai dan juga selalu menyerahkan tubuhmu! "
"Enak aja gue dibilang murahan sonoh loe! " Anansya memotong pembicaraan Elmanno.
"Dengerin belum selesai! " Elmanno menyentil pelan bibir Annasya.
"Setelah mengetahui perbedaan anatara Anansya dan Sarani serta ucapan mu yang mengingatkan akan tanggung jawabbku sebagai seorang suami aku jadi sadar kalau aku salah dan selalu menyakitimu dengan selalu bersama Stepanie dan juga kata-kata kasar dari mulutku, entah karma atau apa sekarang aku selalu ingin didekatmu tidak mau jauh-jauh dan sekarang jadi susah untuk ingin bersamamu bahkan ingin memeluk mu kaya gini juga selalu mendapat penolakan kan! Dan didalam cerita pun nggak ada adegan yang intim akhir-akhir ini! " sambung Elmanno menjelaskan.
"Apa yang kamu maksud intim? Lah kasian bagaimana perasaan loe sama si Step itu?" Annasya bertanya dan Elamnno merasa bahagia dia tanya seperti itu.
"Entahlah gak ada rasa apa-apa! " jawab Elmanno.
"Oh! "
JANGAN LUPA TUNGGALKAN JEJAK YA........
__ADS_1