
Suasana kelas yang hening hanya terdengar suara gemercik air hujan di luaran sana, Annasya terlihat mengeratkan jaket yang dia pakai sambil otaknya terus berfikir bagaimana dia bisa membuat Elmanno kembali.
"Hujan oh hujan, datang lah lain hari setidaknya hanya gue yang boleh bersedih jangan sampai langit sana juga ikut bersedih. Kasihan Alenzaku belum datang kesekolah pasti semua ulah mu wahai hujan! " kata-kata Rio yang berirama lagu anak-anak itu membuat Ammasya menoleh pada Rio lalu tertawa.
"Hahahahha, Heh loe gila? " Annasya menopang dagunya dan tatapannya tidak terlepas dari Rio.
"Iya gue tergila-gila sama dia, gue rindu dia!" Rio menempatkan kepalanya ke meja.
"Ya Ampun! Ada hal yang harus gue kasih tau sama loe! " sambung Rio, dan bergegas ke bangku samping Annasya.
Tatapan yang tajam dengan mata yang memerah Rio menatap Annasya, tentunsaja Annasya pun terkejut dengan hal itu.
"Loe loe baik kan? " tanya Annasya terbata.
"Kalian membuat Alenza Granita marah kan? Kemarin gempa hujan badai petir menimpa dunia ini Sya! " Rio berkata seaakn kejadian itu benar terjadi karena terlihat dari mukanya yang tegas dan menampakan keseriusan.
"Anu itu hem! " Annasya jadi kikuk dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
"Loe membuat El keluar dari dunia ini!" Rio menghembuskan nafasnya dna kini bola mayanya pin kembali memutih.
"Keluar maksud loe? " Annasya gak ngerti dengan apa yang dibicarakan oleh Rio.
"Yah! Rio di hukum, dia sekarang bukan tuan ku lagi dan tentunya bukan pengendali alur lagi dia didepak dari dunia ini. Tapi boleh tau emang kenapa bisa begitu? " Kini malah rio yang penasaran.
"Tapi dia masih ada kok! " Sergah pembicaraan Rio oleh Annasya.
"Itu hanya bayangan dia gak bakalan ada di luar alur cerita!" kasih tau Rio pada Annasya.
"Taoi tadi dia ada kok. dan di luar alur cerita juga. Ah kamu infonya hoax lah! " Annadya memalingkan pandangannya ke lain arah.
__ADS_1
"Beneran? Tapi emang itu hukuman yang di sepakati. mungkin loe kelru! " Rio menatap Annasya kembali serius.
"Tadi gue sempat debat sama dia maslaah kamar mandi, rebutan kamar mandi maksudnya! " Anansya membenarkan.
"Wah masa? " Gue baru tau hal itu, mungkinkah kalau Elmanno lukus dari cahaya krom itu? " Rio malah kepikitan tentang cahaya itu.
"Loe tau cahaya yang muncul dari tangan Alenza Granita. aoa loe juga ada di sana saat itu? " Annasya menatao rio tajam kali ini.
"Tentu saja gue tau Alenza Granita akan mengeluarkan cahaya Krom hal itu untuk menghukum kami sebagai penghuni asli dunia ini kalau melanggar aturan dengan sangat patal dan tidak takut pada ancaman, ya itu akan terjadi! " jelas Rio.
"Emang apa epek dari cahaya itu? " tanya Annasya penasaran.
"Jika seseorang terkena cahaya itu maka kami akan di depak dari dunia ini tau di depak gak? di usir gituh maksudnya! Dan tentunya orang yang terkena cahaya itu tidak akan ada di luar alur cerita mereka cuma ada di dalam alur cerita itu juga sebagai bayangan agar cerita ini berjalan menurut alur sampai tamat. " penerangan Ri malah membuat Annasya tersenyum.
"Berarti kalau tidak kena gimana? Bisa hilang ingatan? " pertanyaan itu malah membuat Rio menggaruk kepalanya.
"Terus bisa pulih kembali ingatannya? " tanya Annasya.
"Kita sama-sama berjuang Sya, gue juga lagi berusaha untuk mengingatkan Alenza akan kenangan kita saat di alur cerita !" Rio tertunduk.
"Dan bagaimana Alenza bisa hilang ingatan apakah dengan cara cahaya krom itu juga? " Anansya menelisik mata Rio dia ingin lebih mendetail menggali informasi tentang dunia novel itu.
"Kayaknya kalau Alenza di bunuh deh di luar alur cerita, dia gak bakalan ingat gue lagi!" Rio menunduk.
"Benarkah? Alenza! " Annasya menutup mulutnya kala dia melihat ada Alenza di belakang Rio, sedangkan Rio dia tidak tau kalau di belakang dirinya ada Alenza tengah melipat kedua tangannya di dada
"Tentu saja benar, karena sebelum itu saat di perpustakaan Alenza masih sehat malahan dia mencoba menolongku saat sekarat. Tapi pas muncul si Alenza Granita, Alenza punyaku gak ada di sana." Rio menunduk dalam, dia masih tidak rela Alenza diperlakukan seperti itu oleh orang atasannya.
"Rio! " panggil Annasya dia bermaksud memberi tahu kalau di belakangnua ada Alenza.
__ADS_1
"Bapa loe manggil gue padahal gue ada di hadapan loe! " Rio mentap Annasya.
"Alenza noh! " Anansya menunjuk kearah belakang Rio, Rio pun mengikiti arah telunjuk Annasaya.
"Alenza! " terkejut Rio.
"Baper loe mnghayal kalau goe cinta mati sama loe, dan mengarang cerita kalau gue bener-bener mencintai loe! Ingat ya Rio, jangan lagi dekat-dekat sama gua dan menyingkir dari sana! " sentak Alenza, dan beberapa orang di kelas itu pun menatap keduanya.
"Alenza, coba kamu pikirkan tentang bagaimana di cintai. Setidaknya kamu jangan bicara kasar kalau pun kamu tidak cinta kasihan dia." ucapan Anansya malah mengundang amarah Alenza.
"Sya sekarang loe percaya sama dia di banding gue sahabat loe? " Alenza malah menarikan suaranya dan hal itu membuat Annasya malu.
"Nggak gitu gue hanya saja sayang sama loe, pikrkan loe pernah cinta sama dia!" Annasya menepuk bangku yang kosong di sampingnya lalu Alenza menurut dia duduk di samping Annasya.
"Nasya liat mata dia dan perjuangan dia untuk cinta sama loe, setidaknya loe hargai dia walai pun kamu tidak mencintai dia." Annasya seraya tersenyum pada Alenza.
"Dia itu playboy cap kaki enam, cap kadal, cap buaya darat dan banyak lagi cap yang menandakan kalau dia hanya main-mainin perasaan perempuan!" sentak Alenz asbil menunjuk Rio.
BRRRAKKKKKKK
Rio menggbrak meja dan membuat Annasya serta Alenza terkejut. Mata Rio memerah rahanganya mengeras serta kedua tangannya mengepal menahan kejolak amarah dalam dirinya.
Tatapan tajam dan merah pekat itu membuat siapa saja sangat takut pada Rio, Annasya dan Alenza berdiri dan mundur beberapa langkah demi mengalihkan pandangan dari Rio.
"ALENZA!!! " teriak Rio menggema.
"Rio tenangka dirimu, ingatlah dia buka Alenza sesungguhnya yang kamu kenal! " Annasya mencoba meredamkan amarah Rio, karena kali ini suasan mencengkam menyelimuti ruang kelas itu berkat Rio dan menghiraukan tatapan aneh Alenza padanya.
"Rio! " Alenza memberanikan diri menatap Rio dengan sangat takut peluh membasahi pelipisnya dia tidak tau harus berbuat apa pikirannya buntu dan malah menutup mulutnya, menyalahkan bibirnya yang selalu ceplas ceplos dan berkata kasar pada Alenza.
__ADS_1