
Pagi hari yang hujan ditemani guguran menggema diudara, dari kejauhan Rio menatap Alenza yang tengah membaca buku dikelas. Dirinya merasa kecewa pada diri sendiri, dia menyesal telah membuat Alenza jadi tidak bisa mengingat kenangannya.
Alenza mengeratkan jaketnya merasa kedinginan, hal itu terlihat oleh Rio yang duduk di bangku pojokan. Rio pun berdiri dan menghampiri Alenza.
"Al!" panggil Rio tapi Alenza malah meliriknya sekilas.
"Ngapain loe kesini jauh-jauh sana! " sentak Alenza membuat Rio tertunduk.
"Al apakah loe benar-benar telah melupakan kenangan kita? Apa loe benar-benar tidak mengingatnya? " Rio duduk di bangku deoan Alenza.
Brakkk
Alenza menutup buku tebal yang di yakini nopel itu dengan keras lalu menatap tajam pada Rio yang ada dihadapannya.
__ADS_1
"Kenangan apa? Gue gak pernah ada kenangan sama loe! Cinta kita? Apa gak salah? Itu yang cinta cuma loe doang!" Alenza terseyum kecut pada Rio.
"Al , loe tau tangan gue kadang selalu merasa skait dna berdarah dan loe lah orangnya yang selalu nolongin gue! Al loe itu cinta sama gue, loe sampai sekarang berada di dunia ini itu semua gara-gara gue karena kita saling mencintai Al! " jelas Rio, dia tidak tahan kalaubharus dimusuhi dan selalu di tolak oleh Alenza. Cukup hanya di dalam alur cerita Alenza bersikaf seperti itu tapi tidak untuk di luar alur cerita.
"Ngaco! " Alenza berdiri dia merasa risih dan ucapan Rio sedikit membuatnya pusing karena kata-katanya yang di rasa aneh.
"Ayolah Al, kamu harus mengingat semuanya! " Rio menggenggam tangan Alenza.
"Lepaskan tangan loe dasar cowok playboy, apapun hasutan rayuan dan rajukan loe itu semua gak bakalan mempan pada gue! Gue gak suka sama cowok yang suka gonta-ganti pacar yang hanya nyakitin perempuan. Dan ah! Emang ini dunia milik loe sampi gue berada di sini harus sesuai dengan keinginan loe, hey loe mulai gila ya! Ha! " Alenza menepis tangan Rio lalu berlalu pergi meninggalkan Rio sendirian di kelas dengan rasa pilu.
"Al! " teriak Annasya sambil melambaikan tangannya, Alenza pun menoleh dan tersenyum serta membalas lambaian Annasya.
"Dingin tau ayo ke kelas! " Ucap Annasya sesampainya di samping Alenza.
__ADS_1
"Ogah gue ke kelas ada cowok playboy!" tolak Alenza membuat Annasya mengerutkan keningnya.
"Siapa yang loe maksud? " Annasya menatap Alenza di sampingnya.
"Siapa lagi kalau bukan si Rio playboy cap bibir beo itu! Pagi-pagi udah bikin kesal, ngomongnya aneh dan ngaco tau apa dia udah gila ya. Masa dia bilang kalau gue beneran cinta sama dia kami saling mencintailah, padahal gue selama ini selalu nolak dia loe juga tau kan dan lagi dia bilang kalau gue hidup di dunia ini gara-gara dia karena kita saling mencintai,, ih gue bergidik dengernya. Emang dunia ini milik dia? Atau dia merasa ini di dunia drama gitu! " ucap Alenza panjang lebar, membuat Annasya menatap aneh pada Alenza.
Annasya menggerakan kakinya, dia menatap Alenza kembali dia pikir ini bukan didalam alur cerita tapi kenapa Alenza bersikaf layaknya sedang berada dalam alur cerita.
"Hey Nasya! Loe bengong! Napa? " Alenza melambaikan tangannya ke muka Annasya.
"Eh loe aneh deh, ini diluar alur cerita jangan membuat gue heran sama loe. Emang loe sebenarnya sangat mencintai Riokan, bahkan loe yang ngomong sama gue! Nah sekarang kenapa loe-" ucapan Annasya terhenti karena tekunjuk Alenza membuangkam mulut Annasya.
"Loe hilang ingatan apa kenapa ya! Aneh tau gak, mana ada gue ngomong sama loe kaya gitu! Kapan? Dimana? Coba loe ingat-ingat lagi Sya! " Pekik Alenza menyilangkan kedua tangannya lalu berjalan mendahului Annasya.
__ADS_1
"Dia apa gue yang aneh? Akhir-akhir ini banyak kejadian aneh di dunia novel ini! Sebenarnya ada apa? " Gumam Annasya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.