
Sarani dan Ruslan kini berada di kamar, setelah mandi mereka malah duduk di pinggiran ranjang keduanya terlihat gugup.
"Aku mau keluar sebentar!" ucap Sarani.
"Mau kemana?" tanya Ruslan dan memegang tangan Sarani yang hendak pergi.
"Mencari udara, apa kamu mau ikut?" tanya Sarani.
"Hem apa kamu tidak lah mengerti!" Ruslan menunduk lalu berjalan menghampiri cendela hotel.
"Apa maksudmu?" tanya Sarani dia tau kalau ini adalah hari pertama di mana Ruslan dan Sarani memulai hidup bersama
"Gak apa-apa sana kalau mau pergi, pergi sana saja!" Ruslan berdiri dan berjalan menuju balkon.
Nada marahnnya pun terlontarn begitu saja dari mulut Ruslan. Membuat Sarani terdiam dia harus membujuk suaminya itu agar tidak marah lagi.
"Maafkan aku aku merasa canggung!" ucap Sarani menunduk.
"Hem kamu mau memeluk ku?" tanya Sarani, membuat Ruslan tersenyum.
"Tidak!" jawab acuh Ruslan.
"Apa ka ka kamu mau aku ci ci khm! Cium?" Sarani menggigit nibir bawahnya gugup.
Ruslan sangat senang telah membuat Sarani bersalah dalam canggungnya. Diringa ingin tertawa tapi dia tahan.
"Ya udah bukan salah di aku, aku pergi!" sentak sarani dia sudah begitu malunberkara seperti itu, seperti menyerahkan diri pada seseorang yang tidak mau menyentuhnya.
Sarani berjalan sambil menghentakan kakinyankasar ke lantai.
Grreppp
Ruslan segera menyusul Sarani lalu memluknya dari belakang.
"Aku tidak mau di cium tapi aku ingin mencium bagaimana?" tanua Ruslan membuat jantung Sarani berdegup lebih ceoat dari biasanya.
"Khm! Apa kamu tidak canggung terhadapku?" tanya Sarani.
"Kalau aku canggung aku gak bakalan punya anak dari mu! Aku hanya sedikit memberanikan diri saja!" sahut Ruslan.
"Em begitukan, ini sore hari dna kita haris bersiap buat nanti pesta malam!" beri tahu Sarani.
"Aku tau, bolehkan aku menyicilnya?" tanua Ruslan sambil mengusap perut Sarani.
"Menyicil apa, aku bukan barang yang bisa di cicil!" Sahut Sarani.
"Oke kalau begitu kita langsung saja unboxing bagaiamana?" Ruslan semkain erat memelik Sarani karena gemas.
"Emang paket,di unboxing?" racau Sarani.
"Kamu wangi Ran!" Ruslan sudah tidak bisa mengontrol pikirannya lagi.
__ADS_1
"Khm, Kamu membuatku geli!" ucap Sarani.
"Ran aku gemes loh!" Ruslan menggengam erat kedua bahu Sarani gereget.
"Hah terserah kamu aja!" bibir Sarani.
"Siap!" Ruslan pun menggiring tubuh Sarani menuju tempat tidur.
Ting tong
Suara bel berbunyi,
"Mamih! Papih!" suarai Rio.
Ruslan segera menumgecek layar m, melihat siapa yang datang.
"Rio kah! " terka Sarani.
"Biarkan dulu!" Ruslan tidak memperdulikan bel itu dia kembali menghampiri Sarani, dia lebih mementingkan sesuatu yang mengganjal di dalam tubuhnya.
Sedangkan di luar Rio terus mengetuk pintu kamar itu.
"Mamih! Papih!" teriak Rio.
"Rio mamih sama papih mungkin mereka lagi istirahat jangan di ganggu, mendingan kita main lagi aja yuk kita ke pantai disana pasti sejuk!" bujuk susterbuang mengasuh Rio.
"Nggak mau, aku mau main sama Mamih!" Rio terus menggdor pintu.
Hingga Adam yang baru keluar dari kamarnya melihat Rio terus mengetuk pintunyang tidka kunjung terbuka membuat dirinya menghampiri bocah kecil itu.
"Om Adam?" Rio menoleh pada Adam.
"Berisik tau, mendingan ikut Om mau gak!" bujuk Adam
"Nggak! Aku mau sama mamih!" Rio mengerucutkan bibirnya.
"Bagaiamana kalau om kasih kamu maianan, kita beli di depan sana ada tukang mainan kamu mau?" tawar Adam.
"Om janji ya bakalan tirutin apa yang Rio mau!" ucap Rio dnegn tatapan tajamnya pada Adam.
"Siap apa aja!" senyum Adam.
Setelah sampai ke toko maianna yang begitu besar, Rio berkeliling mencari maianan yanh di mau, hingga sampai dijajaran maianan anak laki-laki Rio mengambil sebuah kotak sedang dengan robit iron man.
"Om Om mau yang ini!" ucap Rio.
"Ambil saja om traktir!" Adam dengan sombongnya akan meneraktir Rio, tanpa menoleh mainan apa yang di bawa Rio.
"Makasih Om!" Rio sangat senang.
Hingga sampai di kasir.
__ADS_1
"Totalnya dua belas juta lima ratus ribu rupiah, mau kes apa mau pakai kartu?" tanya sang kasir dengan senyumnya.
"WHAT! Dua belas juta setengah, mainan segini aja liat nggak besar besar amat!" Adam sangat terkejut dia pikir maiann anak anak nggak sampai satu juta ternyata sampai puluhan juta juga ada.
"Kebetulan maiann itu edisi terbaru, dan itu ori Pak!" sahut kasir.
"Rio emang apa yang kamu ambil?" Adam merebut mainan yang ada di tangan Rio.
"Pantes! Kamu kenapa pengen ini! Hah!" Adam menatap sanga kasir laku membisikan seauatu.
"Apakah harganya ada yang lebih murah?" tanya Adam.
"Ada yang harganya empat jutaan, tapi sangat disayangkan baru saja habis terjual!" jawab kasir itu.
Adam menatap Anak sahabatnya itu yang tengah asik dengan mainan di tangannya, terlihat senyum bahagia di bibir munyilnya Adam mengepak mukanya kasar.
"Rio sayang, mendingan jangan yang ini mainannya masih banyak maianan di sana yang cukup bagus!" bujuk Adam.
"Nggak Om aku udah sayang sama maiann ini!" sahut Rio dan Adam hanya menghembuskan nafasnya itu.
"OkeOm turutin asalkan kamu harua baik sama om ngerti!" ucap Adam dan Rio pin mengangguk.
"Noh!" Adam menyodorkan kartunya pada kasir.
"Ruslan loe harus banyak berterima kasih sama gua! Karena gue berkorban demi sore pertamamu sama istri loe!" pekik Adam dalam hati.
"Om Adam baik deh. Makasih yah!" senyum Rio membuat hati Adam sedikit meleleh dia jadi tidak sabar mwmnunghu sang buah hati.
"Sama-sama awas janhan sampai ilang atau rusak!" tekan Adam dan Rio pun mengangguk.
Hingga tibalah acara resepsi pernikahan, semua orang memakai gaun indah mereka. Sarani dan Ruslan terlihat sangat cantik dan tampan bagai putri dan raja. Acara di dampingi oleh MC laki-laki anak buah Amelia tentunya.
"Baiklah setelah pelemparan bunga ini kita akan mengajak pengantin untuk bernyanyi, taoi sebelum itu ada sesuatu yang ingin diberikan pengantin pria pada pengantin wanita, apakah itu marinkita lihat bersama!" ucap MC lalu menoleh pada Sarani dan Ruslan dan diikuti oleh semua orang yang berada di sana.
"Bukannya aku yang akan memberikan hadiah kenapa jadi kamu, bukankah aku tadi bilang sama MC nya kok jadi kebalik!" ucap Sarani pada Ruslan.
"Karena aku juga ada sesuatu untukmu!" ujar Ruslan.
"benarkah?" tanya Sarani tidak percaya.
Ruslan mengambil kotak kado yang di berikan pelayan itu, lalu menyodorkannya pada Sarani, sebelim itu petugas telah memberikan microfon pada mereka.
"Kamu mungkin terkejut harusnya kamu yang memberikan hadiah padaku karena hari ini juga hari ulang tahunku, tapi ada satu hal yang harus aku berikan kepada istri ku ini!" Ruslan tersenyum, Sarani pun mengambil kotak itu.
"Buka!"
"Buka!"
"Buka!"
Sorak para tamu undangan, membuat Ruslan mengangguka kepala setuju dengan pernintaan tamu undangan. Sarani yang mendapat kode setuju itu segera membukanya.
__ADS_1
"Ayo kita hitung sama-sama, satu! Dua! Tiga!" teriak sang Mc bersamaan dengan keluarnya sebuah novel dari sana.
"Ternyata sebuah novel, bisa dilihat itu novel apa dan kenapa pengantin pria memberikan itu pada sang istri?"