
Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin dan ada yang mungkin bagaimana takdir, jalan hidup dan perjuangannya untuk berusaha tetap hidup. Walau pada dasarnya semua orang akan mati tapi,pada akhirnya tetap kebahagianan akan di cari di dunia ini.
Hal gaib, hal ilmu, logika, perasaan dan cinta menyelimuti setiap insan yang hidup di dunia ini. Semua orang sama saja yang berbeda adalah cara mereka menggunakan hal itu.
Sarani nabiha dia yang dulunya seseorang yang hanya mementingkan ilmu kini dia mulai menyeimbangkannya dengan perasaan setelah bertemu dengan sosok Elmanno disebuah dunia novel yang gaib entah di belahan dunia mana itu. Tidak bisa di tafsirkan lewar logika dan Ilmu tapi bisa menghadirkan perasaan dan cinta yang terbawa ke dunia nyata.
Walau dia tidak menemukan sosok Elmanno di dunia nyata, tapi dia kembali di pertemukan dengan Ruslan Prasetya orang yang mirip sama Elmanno hanya beda nama saja. Apakah itu bisa di sebut takdir? Tentu saja! Banyak sekali kejutan dalam hidup ini kita hanya perlu berusaha dan yakin dengan diri kita sendiri jika kita tidak bisa mendapaykan apa yang kita mau, berarti kita akan menemukan apa yang kita butuhkan.
Ruslan menatap wajah Sarani yang kini berada di sampingnya, wanita yang selalu di impikannya dan akhirnya dia bisa memilikinya. Sebuah mimpi yang menjadi kenyataan, atau sebuah mimpi yang memberi pertanda. Entahlah apa itu yang terpenting dia merasa telah masuk kedunia mimpi yang seperti nyata serta mempunyai peran seperti didalam sebuah novel.
Cinta bisa datang sama siapa dan bisa kapan saja serta di mana saja, rasa tertarik pada lawan jenis entah saat pandangan pertama, tertarik pada sikap atau kelakuannya, karakternya bahkan tertarik pada hal yang lain semua itu bisa menjadi awal seseornag tau akan cinta. Hati mereka akan bergetar, rasa senang akan terasa.
Tapi tau kah cinta itu bagaikan obat, dia bisa menyembuhkan rasa sedih dan gundah tapi bisa menyisakana rasa pahit seperti perpisahan.
Hidup itu tidak ada yang sempuran, cukup jadi diri sendiri saja ikuti alur kepercayaan dan memilih untuk tidak dirugikan atau pun merugikan. Jangan urusi hidup orang lain karena hidup diri sendiri juga perlu diperhatikan.
Ruslan mengelus pipi Sarani lembut, menyibakan rambut yang mengahalngi wajah cantiknya. Senyum merekah di bibirnya dia begitu sangat cunta pada istrinya itu.
Kelopak mata Sarani bergetar, dan perlahan terbuka dilihatnya sang suami tengah menatapnya sambik tersenyu.
"Sudah bangun?" tanya Ruslan.
"He em!" Sahut Sarani mengangguk pelan.
Semalaman mereka telah merajut kasih dan sayang, menumpahkan cinta yang membuat mereka melayang di lautan nikmat surgawi.
"Apa tidurmu nyenyak?" tanya Ruslan.
"Sepertinya nyenyak walau hanya satu jam lamanya!" sahut Sarani dan duduk di kasur merekatakan selimut yang membungkus tubuh penuh tanda kepemilikan Ruslan.
"Aku sama sekali tidak merasakan ngantuk, memandangmu tidur aku rasa sudah nyenyak duluan!" Ruslan memeluk Sarani dari belakang.
"Apakah kamu ingat dulu saat di dunia lain kita pernah melakuakn hal ini? Apa yang di rasakan olehmu?" tanya Ruslan.
__ADS_1
"Malu!" sahut Sarani memerah pipinya.
"Aku pernah memaksa mu kan!" ucap Ruslan.
"Bahkan sekarang pun sering memaksa!" Sarani memegang lengan Ruslan uang berada didadanya.
"Hahaha lucu sekali!"
Kini pernikahan Sarani dan Ruslan sudah menginjak empat bulan lamanya, hidup bersama dengan anak angkat mereka Rio membuat keluarga itu bahagia. Rasa sulit dan kesal pasti selali ada bagaimana mereka menyikapinya.
"Apa yang kamu pikirkan kali ini?" tanya Sarani pada Ruslan.
"Aku ingin ada kehidupan di sini!" Ruslan mengusap perut rata Sarani.
"Aku pun!" sahut Sarani.
"Kita harus sering melakukannnya!" ucap Ruslan.
"Itu mah hobi kamu!" ledek Sarani
"Mandi bersama?" bisik Ruslan teoat di telinga Sarani.
"Bakalan lama dan membuat tangan serta kakiku keriput karena kedinginan!" Sarani mengerucutkan bibirnya sedangkan Ruslan hanya terkekeh menanggapi.
"Apakah tidak akan pergi ke rumah sakit?" tanya Sarani dan masih mencoba untuk melepaskan pelukan sang suami itu.
"Nanti agak siangan!" jawab Ruslan.
"Oh!" gumam Sarani.
Di lain tempat Adam dan Amelia tengah asik mengusap perut buncit milik Amelia.
Cinta datang pada mereka dipertemukan dengan pandangan pertama yang di rasakan Adam, dan paksaan yang di rasakan Amelia tapi semua itu menjadi satu kesatuan membentuk kasih sayang dan cinta yang kokoh hingga sang buah hati hidup sehat di dalam perut itu.
__ADS_1
"Apa kamu senang?" tanya Adam mencium peruy sang istri.
"Tentu saja! Bisa mengandung dan merasakn hal yang berbeda dari biasanya itu luar biasa" jawab Amelia.
"Aku gak pernah menyangka akan bertemu dan cinta mati sama kamu Mel, awalnya aku yang patah hati lalu di pertemukan dengan mu. Sikap lembut, cerewetmu membuatku selalu mengingatmu bahkan aku tidak ragu saat ingin menikahimu karena hati selalu berkata kalu kamu lah orang yang tepat untuku, dan tenyata memang kamu yang terbaik Mel. Bahkan membuatku candu!" ucapan Adam membuat Amelia menatal tajam padanya.
"Kamu ini gombal!" sahut Amelia.
"Ih emang benar, kamu juga gak bisa menolak pesonakukan?" Adam mengecup pipi Amelia.
"Itu sudah takdir," jawab acuh Amelia.
"Ih kamu gak bisa di ajak romantis!" Adam mengerucutkan bibirnya lalu bersandar di pundak Amelia.
"Kamu ini yah! Aku bukan tipe wanita yang suka romantis walau kebanyakan wanita menginginkannya. Tapi aku berterim kasih pada Tuhan telah memberikanku sosok laki-laki seperti mu. Walau menyebalkan dan suka membuatku kewalahan, dibuat pusing juga tapi sukses membuat aku nyamann jika didekatmu. Emang awalnya ragu tapi kamu selalu meyakinkanku kalau kamu yang terbaik, makasih ya!" senyum tulus Amelia merekah di bibirnya membuat Adam terdiam dan mengeratkan pelukannya.
"Kita harus berterima kasih juga pada keadaan waktu itu dan orang tua kita. Mereka telah membuat kita bersama sampai saat ini, memang pilihan orang tuan dan doanya juga mujarab manjur!" ucap Adam.
"Padahal awalnya aku kjra papahku marahan sama papahmu loh, ekh ternyata mereka teman baik hingga ucapan kasar mereka di jadikan lelucon saking mereka akrabnya." Amelia menoleh pada Adam di belakangnya.
Cup
Adam mengecup pipi Amelia, membuat Amelia sendiri memerah pipinya.
"Kenapa masih tersipu saja, membuat aku gemas!" ucap Adam.
"Akh tidak biasa aja!" Amelia memalingkan pandangannya.
"Malu ya kamu!" ledek Adam.
"Mana ia aku malu sama kamu, bahkan kamu sudah tau semua tentangku!" sahut Amelia.
"Tapi tetap aku merasa gemas di buatnya, jadi selalu ingin berdekatan denganmu gitu!" Adam mencubit pipi Amelia pelan.
__ADS_1
"Diam!" senntak Amelia.
JANGAN LULA TINGGALKAN JEJAK YA.....LIKE KOMEN FAVORIT DAN VOTE TENTUNYA....