Transmigrasi Mendadak Jadi Istri

Transmigrasi Mendadak Jadi Istri
Kata hati Bhadra


__ADS_3

"Asal kamu tau, Jika Annasya terbunuh di dunia novel dia tidak akan mengingat Elmanno tapi jika dia terbunuh diluar alur cerita maka kamu yang tidak akan di ingat oleh Annasya!" ucapan Nasya membuat Bhadra terkejut juga sesekrang yang nerada di balik pohon rindang. Elmanno! Dia sedari tadi menguping di sana.


"Kebetulan akhir cerita ini Annasya harus terbunuh, dia pasti akan melupakan Elmanno! " Alenza turun dari ayunan lalu menepuk bahu Bhadra.


"Jika kamu hanya diam dan mengikuti alur cerita itu akan aman, "


STAKKKKKM (Masuk alur cerita)


Tiba-tiba saja Bhadra tengah bersama Annasya digerbang rumah dan di sana juga terlihat Elmanno yang akan pergi ke kantor, suasana pagi itu cerah membuat ketiga orang itu terdiam kaku dan mulai memerankan perannya masing-masing.


"Nasya ayo berangkat!" ucao Bhadra sedangkan Elmanno hanya terdiam melihat Annasya dan Bhadra.


"Maafkan aku tidak bisa! " sahut Annasyablalu menoleh ke arah Elmanno.


"Sana pergi! " sentak Elmanno lalu berjalan memasuki mobilnya.


Annasya tiba-tiba saja mengeluarkan air matanya seraya berkata, " Kenapa dia selalu membentaku?"


"Hiraukan lah dia, ada aku di sisimu ayo berangkat! " Ajak Bhadra dan Annasya pun menurut.


Elmanno menyeringai melihat peran Bhadra juga Annasya, sakit memang hatinya taoi dia harus menahannya sampai alur cerita ini selesai.

__ADS_1


Annasya dan Bhadra telah sampai dipalkiran sekolah, mereka pun turun dari motor dan membuka helm masing-masing.


"Nasya jika aku boleh mencintaimu maka aku akan mencoba mengeluarkanmu dari sana! " ucapan Bhadra malah membuat Annasya tersenyum.


"Tapi aku pun telah mencintainya!" sahut Annasya.


"Apa yang membuatmu begitu mencintai Elmanno? Bukankah sudah jelas dia tidak mencintaimu, dan kamu malah tersiksa kan?" Bhadra muali geram sambil menatap pandangannya pada Annasya.


"Dia adalah orang pilihan ayahku, aku harus mencintainya mungkin saja lain waktu dia bisa merubah hatinya! " Annasya tersenyum getir.


"Jangan menyiksa dirimu lebih jauh Nasya! " Bhadra menggengam kedua tangan Annasya.


"Tidak! " Nasya melepaskan genggaman tangan Bhadra.


"Bagaimana dengan kenyataan apakah kamu masih cinta sama Elmanno? " tanya Bhadra dan Annasya terkejut dengan pertanyaan Bhadra barusan.


"Apa elo ingin mengetahuinya? Kenapa?" Annasya malah bertanya balik.


"Hanya saja percakapan saat tadi didalam alur cerita itu sejalan dengan kenyataan hatiku Nasya! " Bhadra menatap teduh Annasya.


"Entahlah, tapi gue merasa ada yang kurang kalau sehari saja tidak melihat Elmanno. Maaf karena ucapan gue! " Annasya tersenyum pada Bhadra.

__ADS_1


"Mungkinkah sudah ada rasa dihati untuk Elmanno? Bagaimana kalau aku juga ikut bersaing untuk mendapatkann hatimu!" ucap Bhadra.


"Gue terlalu bodoh soal perasaan, gue hanya ingin yang nyaman dengan diriku saja!" Annasya tertawa garing.


"Tapi nasya aku harap kamu tidak mencintai Elmanno!" Lirih Bhadra.


"Hah Bhadra sudahlah jangan gitu bicaranya ini udah di luar alur cerita! Dan elo ngomongnya biasa aja, jangan aku kamu lah! "Annasya menepuk pelan pundak Bhadra.


"Apa perkataanku kamu anggap bercanda Nasya? " tanya Bhadra dengan nada serius membuat Annasya terdiam.


"Itu kenyataan, sesungguhnya aku mencintaimu Nasya! " kini Bhdrda malah mengungkapkan kata hatinya dan Annasya dibuat cengo


"Apa? " Nasya terkejut dan jadi gugup dibuatnya.


"Dia miliku! " Elmanno tiba-tiba saja menarik tangan Annasya untuk dekat dengannya. Elmanno ternyata setelah diluar alur cerita dia putar balik dan menghampiri Annasya di sekolah karena teringat kalau dia. bersama dengan Bhadra.


"Dalam novel memang ia , tapi hati Annasya sesungguhnya bukan milik kamu sepenuhnya benarkah itu Nasya? " Bhadra malah bertanya pada Annasya.


"Annasya sini! " Teriak Alenza dari kejauhan.


"Gue harus menemui Alenza! " annasya segera berlari menuju Alenza.

__ADS_1


"Alenza elo penyelamat gue! " ucap Annasua lalu memeluk erat Alenza.


"Ck loe ini ya! " gumam Alenza.


__ADS_2