Transmigrasi Mendadak Jadi Istri

Transmigrasi Mendadak Jadi Istri
Bab 37 Amarah Rio


__ADS_3

Annasya dan Alenza kini berada di perpustakaan mereka tengah membuka buku novel bercahaya itu.


"Banyak adegan yang akan membahayakan elu Nasya! " Ucap Alenza dan Nasya hanya tersenyum.


"Tidak apa-apa gue kuat pasti bisa melewati itu semua!" sahut Annasya.


"Jangan berfikiran untuk mengubah alur cerita! " Alenza menatap tajam ke arah Nasya sedangkan Annasya sendiri hanya tersenyum di paksakan.


"Curiga senyumu Nasya! " Alenza menopang dagunya lalu menoleh kelain arah.


"Setidaknya selagi gue didunia ini, gue akan mencoba untuk tidak begitu bodoh menghadapi hidup, ia kan! " Annasya kembali membuka lembaran novel itu.


"Gue pikir alur cerita ini jadi semakin cepat adegan saat Bhadra menjemput gue, itu sudah hampir mendekati bab penyelesaian!" sambung Annasya membuat Alenza tersenyum kecut kepadanya.


"Itu semua karena elo selalu mengubah alur cerita! Gue sarankan lagi untuk tidak mencintai Elmanno! " kasih tau Annasya.


"Mana bisa gue mencintai dia ogah! Om om gitu! " tampik Annasya.


"Ah begitu rupanya gue bersyukur deh! " Alenza hendak bangun dan mengembalikan buku novel itu ke rak.


Annasya mengingat akan ucapan Elmanno saat dia bisa saja mengandung, hingga dengan ragu Annasya dengan malu bertanya pada Alenza.


"Anu Alenza tunggu! " Sergah Annasya dan Alenza menghentikan langkahnya lalu


kembali menghampiri Annasya yang tengah duduk dengan pipi yang terlihat memerah.


"Kenapa? " tanya Alenza.

__ADS_1


"Itu bisa elo duduk dulu ada bisikan untuk loe! " Annasya melambaikan tangannya agar Alenza mendekatinya.


"Aneh! " lirih Alenza tapi Alenza pun menurut.


Annasya mulai berbisik pada telinga kanan Alenza, setelah mendengar apa yang dikatakan Ammasya itu Alenza terlihat menganga sambil membualatkan kedua bola matanya.


"Tutup mulut kali! " Annasya membungkam mulut Alenza yang menganga itu.


"Apa itu benar elu sama Elmanno! Aku tidak tau tapi pasti akan ada resikonya! " Alanza menatap Annasya.


"Dan parahnya itu diluat alur cerita! " gumam Annasya.


"APA! " teriak Alenza sampai seluruh pengunjung perpustakaan itu menatapnya.


"Wah celaka! " Sambung Alenza.


"Elo ikut gue! " tiba-tiba saja Rio menghampiri dan menarik tangan Annasya, tentu saja kedua wanita itu terkejut.


"Tunggu! " Alenza menarik tangan Annasya yang satunya.


"Lepas! " Rio menampakan mata merahnya membuat Annasya juga Alenza menelan air lieurnya.


"Biar Annasya gue yang urus ya! " Ucap Alenza membujuk Rio.


"Tidak bisa!" Tegas Rio.


"Emangnya apa yang telah dia lakukan? Apa loe tau sesuatu?" Alenza sambil menarik paksa tangan Annasya.

__ADS_1


"Lepas! " terika Annasya dan kenbali perhatian tertujub


pada mereka.


"Apa yang kalian lakukan, gue akan pergi lepaskan tangan kalian! " sambung Annasya.


"Elmanno semakin mencintai loe! Bahkan dia berani menantang dunia ini, pasti ada yang tidak beres! " Rio menarik paska tangan Annasya lalu berlari. Alenza yang kehilangan Annasya segera berlari mengejar.


"Ayolah mulai masuk alur cerita! " lirih Alenza dia takut Rio akan melakukan sesuatu yang buruk pada Annasya.


Annasya yang dibuat takut serta bingung pada Rio hanya bisa berontak berharap terlepas. Annasya belum mengetahui kalau Rio merupakan seseorang yang penting bagi dunia Novel.


"Rio apa yang loe lakukan lepaskan gue! " teriak Annasya di tengah berlarinya.


Hingga mereka begitu saja sampai digedung megah tempat Elmanno bekerja.


"Ada apa ini! " suara Elmanno membuat Annasya terkejut karena baru sadar kalau dirinya begitu saja ada dikantor Elmanno.


"Apa kalian pernah melakukan sesuatu lebih intim di luar alur cerita?" tanya Rio tegas dan membuat Elmanno tersenyum sinis sedangkan Annasya hanya tertunduk diam.


"Ia kami melakukannya bukankah kami memang suami istri? " sahut santai Elmanno dan mendekati Annasya.


"Tuan ini sudah keterlaluan! Sadarlah kalau anda ini adalah pengendali Alur jangan sampai dunia ini hancur! " teriak Rio.


"Gue tau dan gue sadar, tapi gue gak akan melepaskan Annasya dia milik gue! " Elmanno melotot pada Rio.


"Tapi hal ini bisa berbahaya bagi jiwa Sarani!" Rio tak kalah berteriak.

__ADS_1


__ADS_2