
Elmanno melihat Annasya juga Bhadra tengah dusuk di bangku halte, hal itu membuat amarahnya semakin memuncak dia tidak terima kalau Annasya dekat dengan Bhadra.
Annasya yang melihat Elmanno pun segera menghampiri lalu tersenyum seraya berkata, " El loe ngejar kami? "
"Sya, kamu gak benar-benar suka sama dia kan? " tanya Elmanno cemas sedangkan Bhadra yang mendengar pertanyaan yang di lontarkan Elmanno pada Annasya hanya tersenyum miris.
"Nggak seperti yang loe pikirkan El! " Annasya tersenyum dan sepontan menggenggam tangan Elmanno.
"Nasya apa loe beneran menyukai dia?" Bhadra menghampiri Annasya juga Elmanno.
"Mungkin! " Annasya menatap Elmanno, sedangkan Elmanno mengerutkan dahinya, bukan mungkin yang ingin Elmanno dengar tapi iya.
"Nasya kita sama dia itu berbeda, jangan sampai loe malah menyakiti diri loe sendiri. Dunia novel ini masih tabu bagi kita Sya, jangan gegabah! Lihat Alenza, kita bisa belajar dari dia juga Rio. Kalian mana bisa bersama! " beritahu Bhadra sednagkan Elmanno kali ini hanya menunduk karena ucapan Bhadra ada benarnya juga.
"Kita hanya perlu nurutin alur doang, dan kita akan kembali ke tempat asal kita! " tambah Bhadra.
"Loe benar Bhad, mungkin gue sama El gak akan pernah bersama selamanya tapi kalau masih ada waktu untuk bersama kenapa harus di tolak. Semua orang di belahan dunia manapun pasti akan merasakan perpisahan kan, setidaknya memanfaatkan waktu bersama dan membuat hidup sedikit bahagia itu melegakan. Ketimbang memanfaat kan waktu bersama dengan hanya diam dan tanpa ada sesuatu yang membuat diri kita spesial bagi diri orang lain dan berujung penyesalan." Annasya menarik tangan Elmanno meninggalkan Bhadra di halte itu sendirian.
"Sya! Bisakah kita melakukan itu? Apa kamu sanggup? " tanya Elmanno.
__ADS_1
"Jika loe gak sanggup gue bakalan terima beneran si Bhadra!" sentak Annasya.
"Kok jadi gitu sih! " gak terima Elmanno.
"Tadi kan gue bilang kita, ya gue sama loe El berarti kalau gue berniat ingin bahagia sama loe dan loe juga sama maka kita harus tanggung sendiri resikonya jangan hanya bahagianya aja! " kesal Annasya.
"Akhirnya dapat pengakuan juga dari bidadari kecilku ini!" lirih Elmanno hendak mencium tangan Annasya tapi Annasya menepisnya.
"Gak sopan, dan tadi loe bicara apa gue gak denger! " Ternyata ucapan Elmanno tadi tidak terdengar oleh Elmanno.
"Ck, gue bilang tadi itu, kalau loe ngomong ke gue jangan pakai bahasa kaya gini. Coba pake sebutan Mas, kan waktu itu kamu udah janji nggak paks loe gue lagi kan! " Elmanno malah ngomong tidak sesuai dengan lirihannya tadi karena ada sedikit malu mengatakannya ulang.
"Tuh kan gitu! " Elmanno sengaja nadanya di buat kesal.
"Emang ia, maunya di panggil Mas emang kamu tukang bakso El! " Annasya cekikikan sedangkan Elmanno menggretakan giginya karena gemas dengan istri kecilnya itu.
"Bukan tukang bakso tapi tukang makan bakso, lebih enak baksonya punya kamu sayang bisa di jilat dulu nanti di gigit sampai merah, heh ehhh! " Elmanno benar-benar gemas hingga mengepalkan tangannya lalu mengigit bibirnya sambil pandangan Elmanno tertuju pada bagian depan Annasya.
Annasya hanya aneh melihat Elmanno yang geregetan, tak lama dia pun mengikuti arah pandang suaminya yang memiliki otak krikil itu.
__ADS_1
"Yak loe! " Annasya mencubit keras lengan bagian atas Elmanno.
"Aduh sakit Sya! " Elmanno menggengam tangan Annasya yang tengah mencubit dirinya itu, walau sakitnya tidak seberapa baginya.
"Pikiranmu itu loe kesana mulu aku itu masih kuliahan belum nikah tau! " sentak Annnasya.
"Tapi di cerita ini kamu istriku malahan kita sering kikuk kikuk kan, jadi normal dong! " ucal Elmanno.
"Aduh ampun! " Annasya melepaskan cubitannya dengan kesal. sehingga membuat Elmanno tertawa tertahan.
"I love u Sarani! "
"Diam loe! "
"Hahah istri ku ngambek, aku gendong deh! " Elmanno menggendong Annasya yang berjiwa Sarani itu.
"Turunkan gue! "
Disebuah bawah pohon rindang Alenza Granita menatap kedua pasangan itu dengan tatapan tajam, "El aku udah peringatkan kau tapi tidak menurut saja! "
__ADS_1