Transmigrasi Mendadak Jadi Istri

Transmigrasi Mendadak Jadi Istri
cerita tamat


__ADS_3

Masih dalam suasan mencengkam, kali ini Rio dna Elmanno serta kedua preman iti saling berhadapan bersiap untuk saling menyerang.


"Kalin benar-benar akan menyerang kami, hah payah! " ledeh preman itu.


"Kita tidak bisa menggunakan kekuatan tuan bagaiman? " tanya Rio.


"Apa pun dan bagaimana pun gue harus nyelamatin Sarani, walau nyawa gue ancamannya!" nada penuh penekanan dan sorot mata yang tajam itu menusuk pandangan kedua lreman di hadapannya.


Elmanno berhasil melewati bahaya saat Alenza Granita mencoba untuk melenyapkannya, dan hal itu membuat Rio kagum dengan sosok tuannya itu yang mau membela sang kasih hati Annasya berjiwa Sarani itu sampai akhir cerita. Jangan ditanya kenapa dia pura-pura hilang ingatan tentu saja untuk mengecoh agar tidak ada yang sadar kalau sebenarnya Elmanno masih berkeliaran di dunia novel itu, bukan hanya sebuah bayangan yang nanyinya akan hilang begitu saja.


Dari samping kiri warkop itu Annansya menatap Elmanno yang tengah bersiap menyerang, rasa hangat dirasakan hatinya dia tidak bisa memungkiri rasa cinta dan sayang yang tulus itu bisa dia rasakan didalam dunia khayalan ini.


"Baiklah Rio, kita hajar mereka!" Suara Elmanno dan tanpa menoleh pada Rio sendiri.


Akhirnya keemapat orang itu berkelahi, pukulan yendangan dam saling melukainitu yerjadi dihadaoan mata Annasya bahkan dia melihat dengan kepala mata sendiri bagaimana belati itu menancab mulus di dada bidang milik Rio.


"Rio!" pekik seseorang dari balik pohon dan menghampiri Rio, Alenza ternyata dia sedari tadi mengikuti Elmanno dan Rio.


"Rio jangan tinggalkan gue! " Alenza menopang kepala Rio, tangis itu menghampiri.


"Al, loe cinta sama gue kan?" Tanya Rio denhan mulut yang penuh dengan darah.


"Rio gue cinta sama loe, gue sayang jangan tinggalin gue! " Alenza mencium tangan Rio beberapa kali.

__ADS_1


"Akhinya gue lega mendengarnya, hidup yang baik ya, dan jangan pernah meluakai seseorang yang mencintai loe lagi. Ini sangat sakit Al, gue gak bisa nahannya lagi! " Rio menagkup kedua pipi Alenza, air mata menetes dari ujung mata Rio, tumpahan darah dari mulut mengiringi senyum getir itu.


"I love Alenza! " Kata terkahir yang diucapkan Rio membaut Alenza sesak di hati.


"RIIOOO! " teriak Alenza sekencang kencangnya.


Annasya yang melihat itu segera menghampiri Alenza dan menepuk bahunya.


"Nasya!" Lirih Alenza dan menatap Annasya sedih.


Sedangkan Elmanno masih berusaha untuk menyelamatkan nyawnya dia terus mengahjar preman itu.


"Nasya bantu Elmanno, ini adalah akhir cerita setidaknya loe gak kaya gue yang tidak bisa membela dirinya. Gue juga akan membantu kalian! " Alenza meletakan kepala Rio yang sudah tidak bernyawa itu di tanah.


"Ayo kita berjuang, mudah-mudahan kita bisa bertemu di dunia kita yang sesungguhnya!" ucap Alenza sedangkan Annasya hanya mengagguk dengan deraian air mata yang terus dia hapus dari pipinya.


Annasya dan Alenza menggunakan batu dan beberapa tangakai pohon untuk melawan salah satu preman itu. perkelahian itu terus berjalan beberapa menit lamanya hingga Alenza tidak bisa menahannya lagi dia telah gugur bersamaan dengan preman yang mereka serang tadi.


"Alenza! " pekik Annasya memeluk tubuh Alenza erat.


Elmanno memukul rahang lawannya itu dan membantingnya ke pohon.


"Oke gue nyerah, jangan pukul lagi! " ucap preman itu mengakat kedua tangannya wajahnya sudah begitu babak belur dan penuh dengan darah.

__ADS_1


"Musnahlah kau! " Sentak Elmanno, menghajar preman itu dibagian pitalnya.


"Tapi tujuan gue bukan loe tapi wanita itu!" preman itu melempar belati ke arah Annasya.


"Dasar! Sarani!" Elmanno dengan sekuat tenaga segera menghampiri Annasya.


Annasya menoleh karena Elmanno memanggil dan kini Annasya terkejut, Elmanno memeluknya dan belati itu mengenai tubuh Elmanno.


JLEB...


"Akh! " rintih Elmanno.


"El!" Pekik Annasya


Elmanno menatap Annasya dengan sayu lalu mendaratkan ciuman di bibir Annasya dengan lembut dan penuh getaran.


"Jangan lupakan aku, sayang! " ucap Elmanno lalu memejamkan matanya dan terjatuh di tubuh Annasya.


"El bangun El! " jerit Annasya.


Tangis pilu itu kini di temani rintikan hujan dan petir, Annasya menggoyangkan tubuh Elmanno yang sudah yidak bernyawa itu lagi.


"El jangan membuatku khawatir, ELMANNO BANGUNNNNN! " teriak histeris dan air mata yang menyatu dalam derasnya air hujan itu mengiringi kepergian orang-orang terdekat Annasya di dunia itu.

__ADS_1


__ADS_2