Transmigrasi Mendadak Jadi Istri

Transmigrasi Mendadak Jadi Istri
BAB 34 Pengendali alur


__ADS_3

Semua orang bergegas mengangakat tubuh Elmanno yang terlihat kesakitan, tangannya sangat erat memegang dada bahkan urat didahinya begitu jelas terlihat.


STAKKKK ( Diluar alur cerita novel)


Annasya menutup mulutnya dia masih belum mengerti dengan apa yang di alami Elmanno karena di novel memang Elmanno tidak memiliki riwayat penyakit apa pun.


"Lihat! Suaminya kesakitan dan kamu hanya terdiam di sana? " Teriak Sahara sekaligus menyadarkan Annasya dari lamunannya.


"Arrrrggghhhh Nasya! " Elmanno kesakutan sambil matanya menatap Annasya. Jantung Annasya begitu saja berdegup antara cemas dan takut dia pun segera berlari menghampiri Elmanno yang kini tengah di papah oleh Elga.


Tiba di kamar tiba-tiba Elmanno tidak merasakan sakit yang teramat di dadanya seperti tadi hanya saja dia sengaja membohongi Annasya.


"Papih dan Momih bisa keluar!" ucap Elmanno.


"El mana mungkin momih keluar, momih sangat cemas kamu kesakitan kaya gitu pokonya momih harus selalu berada di sisimu mana mungkin mengandalakan anak ingusan itu untuk menjagamu, bisa-bisa kamu malah menjadi lebih sakit! " pekik Sahara seraya ujung matanya melirik Annasya.


"Momih hentikan ucapanmu itu! Biarkan Nasya yang menjaganya nanti dokter akan kemari!" Elga menatap tajam Sahara dia masih tidak percaya kalau istrinya menjadi kejam.


"Tapi Papih! " Sahara merajuk.


"Urus Naraya di rumah sakit itu semua kamu penyebabnya kan! Ingatlah kalau Papih membenci orang yang suka jahat sama orang lain bahkan berbuat hal yang merugikan diri sendiri! " Elga begitu saja keluar dari kamar Elmanno.


"Papih! " teriak Sahara, kemudian menoleh pada Nasya.


"Semua gara-gara kamu Annasya keluargaku hancur! " Tunjuk Sahara pada Annasya.


"Bukan karenaku tapi karena sikafmu dan ambisimu itu tante! " sahut Annasya.


"Kamu berani menjawab ucapanku! " mata Sahara melotot seakan tengah menghardik diri Annasya.


"Aku akan menjawab kalau tante masih menyalahkan aku!" sahut Annasya tegas.


"Ih kamu berani melawanku sekarang! " Sahara hendak melayangkan tamparan pada Annasya tapi dengan sigap Annasya menahannya. Sedangkan Elmanno hanya terdiam sambil menonton pertikaian momih dan istri kecilnya itu.

__ADS_1


"Sarani di lawan! " Ucap hati Elmanno lalu tersenyum.


"Tangan ini membuktikan kalau tante berbuat sesuatu itu tidak di pikir dulu! Jangan pandang orang lain hanya karena dia tidak sesuai dengan harapan tante karena tante juga bisa jadi bukan harapan orang lain kalau masih bersikaf seperti ini! Dan mungkin orang yang diharapkan tante justru akan membuat tante sendiri lebih merugi karena dasarnya hati manusia tidak ada yang tau!" jelas Annasya dan hal itu malah membuat Sahara mengeraskan rahangnya lalu menepis tangan Annasya dan begitu saja pergi dari kamar Elmanno.


Elmanno memeluk Annasya dari belakang seraya mengecup tengkuknya sehingga Annasya merasa geli dan bergidik dibuatnya.


"Yak lepaskan! " pekik Annasya melepaskan diri dari pelukan Elmanno tapi tidak terlepas juga.


"Makin cinta aku ini! " Elmanno malah menjatuhkan dirinya dan Annasya ke kasur.


"Ih lepas! Katanya sakit! Apa cuma pura-pura?" tanya Annasya menggerakan tubuhnya agar telapas dari pelukan Elmanno.


"Tidak! Aku beneran sakit hanya saja setelah melihatmu rasa sakit itu jadi hilang!" Elmanno menenggelamkan mukanya di leher Annasya.


"El, bisakah untuk agak renggang sedikit ini sangat sesak! " Ucap Annasya.


"Diamlah!" Elmanno semakin erat memeluk Annasya.


"Kenapa? " tanya intens Elmanno.


"Khm, aku bukan penghuni novel ini dan kapan-kapan aku juga akan keluar dari dunia ini kembali menjadi Sarani!"


"Kamu ingin aku tidak mencintai mu! Apa kalau aku cinta sama kamu akan menghambat kamu kembali kedunia mu! Apa kamu tidak berfikir bagaimana perasaanku! Bagaimana kalau kamu melahirkan anakku? Bukan tidak mungkin kamu tidak mengandung bahkan benuh ku sudah jutaan menyirami rahimmu! " seakan ancaman Elmanno semakin menghujam tatapan Annasya.


"Khm, kenapa kamu bisa berfikir sampai sana?" Annasya memalingkan pandangannya agar tidak menatap Elmanno.


"Ingatlah mau kamu Sarani atau Annasya, siapapun kamu! Aku tidak akan melepaskanmu!" Elmanno beranjak dari kasur dan meninggalkan Annasya dengan tatapan cengonya.


"Bahaya melanda gue, bahkan tadi gue ngomong sama dia aku kamu! Aduh parah bagaimana ini! " Annasya menenggelamkan kepalanya dibantal.


Elamnno yang kini berada di ruang kerjanya teringat akan perkataan Rio, agar dia tidak mencintai Annasya yang berjiwa Sarani itu. Dan dia pun berfikir rasa sakit itu memang dia rasakan saat Annasya mulai membela diri di dalam alur cerita yang tidak seharusnya di lakukan.


"Apa gue harus nemui laki-laki itu? Tapi dimana?" Lirih Elmanno hingga seseorang begitu saja berdiri di depan pintu dan membuat Elmanno terkejut.

__ADS_1


"Elo! " pekik Elmanno.


"Tuan anda memanggil saya? " tanya Rio.


"Siapa yang memanggil elo! " Sahut Elmanno dengan teriakannya.


"Hati dan pikiran anda yang membawaku kemari!" Rio berjalan menghampiri Elmanno.


"Apa pun yang membawa elo kesini, sekarang gue perlu bertanya sama loe! " Elmanno berdiri dan menghampiri Rio.


"Silahkan tuan! " Rio menunduk.


"Kenapa loe manggil gue tuan? " tanya Elmanno.


"Karena anda orang lebih penting didunia ini! " jawab Rio.


"Penting, hahahaha bahkan loe membuat gue gak paham dan penasaran dengan jawaban yang loe berikan! " Elmanno kembali duduk di kursinya.


"Tuan Elmanno pengendali alur semua cerita bisa anda ubah orang yang dekat dan anda cintai juga bisa mengubah cerita hanya saja ada resiko bagi anda sendiri. Sakit di dada itu sebagai penanda agar anda tidak mengubah alur, atau anda harus mengubah alur agar cerita yang tadinya tidak sesuai kembali harus sesuai dengan alur cerita yang penulis kehendaki. Jangan mencintai Sarani agar dia tidak bisa mengubah alur cerita saat berada di dekat anda! Selain berbahaya bagi anda, Sarani juga akan merasakan resikonya. Biarakan semuanya mengalir dengan semestinya tuan! " jelas Rio tapi malah membuat rahang Elmanno mengeras.


"Tidak! Gue tidak akan melepaskan Sarani dia milik gue tidak ada yang bisa memisahkan kami! " teriak Elmanno.


"Tapi bagaimana dengan Sarani, apakah dia juga sama mencintai dan tidak mau berpisah dengan anda?" sindir Rio.


"Lambat laun dia juga pasti akan cinta! Dan lagi gue gak peduli dengan dunia ini!" Elmanno berdiri lalu memasukan kedua tangannya kesaku celana.


"Saya hanya mengingatkan, akhir cerita ini membuat Sarani terbunuh jadi jika anda gegabah bisa saja Sarani tidak akan hidup didunianya atau pun didunia novel!" Ucap Rio lalu begitu saja pergi entah kemana.


"Apa loe mengancam gue!" teriak Elmanno, walau Rio sudah tidak terlihat di sudut penjuru ruangan itu.


"Tuan kamu bisa saja membuat kami semua keluar dari dunia novel ini!" gumam Rio dari kejauhan lalu berjalan menjauh dari rumah itu.


"Rio! "

__ADS_1


__ADS_2