Transmigrasi Mendadak Jadi Istri

Transmigrasi Mendadak Jadi Istri
Bab 24 Rio Menyadarinya


__ADS_3

Alenza terus berlari hingga Rio menyadari kalau pujaan hatinya tengah geram hingga Alenza tiba melewati Rio.


Grep


Rio segera menarik tangan Alenza sehingga mereka seperti saling berpelukan, "Loe! " sentak Alenza.


"Kayaknya ada yang lagi marah! Kenapa sayang? " tanya Rio, seketika hati Alenza berdebar.


"Le lepas kan gue! Ini di sekolah loe gak waras ya! " Ucap gugup Alenza, dia harus bersikap sesuai karakter saat di dalam Alur cerita agar tidak menyimpang.


"Nggak! Gue tambah cinta kalau lihat loe lagi marah! " Rio tidak melepaskan Alenza sedangkan terlihat dari kejauhan Annasya berlari kearah mereka.


"Lepas! " Alenza menggoyangkan tubuhnya agar terbebas.


"Diam lah sebentar saja! " sahut Rio.


Annasya ngos-ngosan disamping Alenza dan Rio, dia berlari terlau cepat. "Kalian! " ucap Annasya.


Annasya bersandar di tiang sambil melihat kemesraan Rio dan Alenza. Sedangkan Alenza begitu susah untuk melepaskan diri hingga dia mengigit dada Rio kuat, awalnya Rio menahannya tapi lama-lama semain sakit dan akhirnya bisa membebaskan Alenza juga.


"Udah peluk-pelukannya? " goda Annasya.


"Belum! " sahut Rio.


"Heh! " Geram Alenza dan beranjak dari sana, Annasya pun mengikutinya.


"Za! Loe masih marah sama gue?" Annasya merangkul tangan Alenza.


"Udah terjadi, mau bagaimana? Asal jangan sesekali lagi! " sahut Alenza.


"Hah? " tanya Annasya.


"Kita pergi dari sini dulu! " Alenza menarik tangan Annasya.


Dan sampailah mereka berada di atas gedung sekolah itu, menatap jalanan di bawahnya Alenza menatap Annasya.


"Nasya gue kembali mengingatkan loe jangan sampai mengubah alur cerita, itu berbahaya buat loe!" ucap Alenza.


"Lagi-lagi! Tapi loe bilang bisa keluar novel asal bisa menuruti alur cerita kan, nah loe terdampar di tiga novel sebelumnya kenapa masih betah aja didunia ini? Sampai sekarang juga masih disini? " ucap Annasya.


"Gue cuma mengingatkan aja, ada sesuatu yang gue inginkan! " sahut Alenza.


"Apa yang loe inginkan! " pekik Annasya.


"Gue ingin melindungi dia! " ucap Alenza, sebenarnya dengan mengubah alur cerita tidak dapat menghambat Annasya untuk keluar dari dunia novel malahan semakin mempercepat dia untuk keluar dari novel itu tapi ada satu Alasan Alenza menyembunyikan hal tersebut.


"Gue baru menemukannya sekarang, dinovel kedua dan ketiga kita tidak dipertemukan?" tanya Alenza.


"Loe lagi nunggu laki-laki yang jadi pemeran utama waktu di novel pertama? Sekarang juga ada dinovel ini, apakah Elmanno? " tanya Annasya.

__ADS_1


"Bukan! " Alenza menopang dagunya.


"Nasya sebenarnya selain berbahaya dunia novel ini untuk loe, dunia novel juga bisa berbahaya bagi Elmanno. Gue harap kalian tidak senasib seperti gue dan Rio yang terdampar didunia novel dan salah satu dari kami harus saling melupakan karena suatu kejadian. Gue gak bisa perjuangin cinta gue, makanya gue akan selalu mengikuti alur cerita agar gue bisa keluar dari dunia yang membuatku sakit ini.Malahan gue juga nggak tau kenapa gue selalu ingat saat diluar alur cerita! "ucap hati Alenza.


"Ekh katanya ada yang disembunyikan dari gue apa? " tanya Anansya.


"Nggak, gue hanya ingin pergi saja tadi dari Rio! " alasan Alenza.


"Oh, eh Za bagamana kalau gue bunuh diri saja sukur-sukur gue bisa pulang kedunia gue sendiri!"


"Loe gila! "


"Memang! " sahut Annasya, lalu mereka pun tertawa.


"Tapi siapa laki-laki itu, gue pasti tau kan! " Annasya menyenggol bahu Alenza.


"Jangan pikirkan soal itu, pikirkanlah dirimu! " sahut Alenza.


"Ck! " Annasya hanya berdecak menanggapi ucapan Alenza.


Bhadra terlihat duduk dengan buku ditangannya, dia penasaran dengan apa yang di baca Annasya waktu itu yang terlihat bercahaya.


"Gue hanya orang ketiga?" tanya Bhadra tidak percaya pada dirinya sendiri.


"Gue masih gak yakin! " Bhadra mengambil buku itu lalu memasukannya ke rak.


"Bhad! " Rio menepuk pundak Bhadra membuat Bhadra terperanjat kaget.


"Jangan mengubah alur cerita! " ucap Rio tiba-tiba.


"Apa maksud loe? " Bhadra tidak paham.


"Ah tidak! Ayo kita ngantin, moga saja istri-istri kita ada di sana! " ucap Rio merangkul pundak Bhadra.


"Kepedeann loe! " sahut Bhadra


"Jadi orang harus pede lah bro! "


STAKKKK


Bhadra kini berada di ruang musik sambil memainkan piano dan tiba-tiba saja air matanya keluar, dia juga bingung dengan dirinya hingga Annasya menghampirinya.


"Apakah ini yang disebutkan dengan panggung sandiwara? " ucap Bhadra dalam hati.


"Bhad? " panggil Annasya taoi Bhadra diam saja tanpa menoleh.


"Makasih karena loe selalu nolong gue, dan gue tau loe sakit karena gue kan? " Annasya menunduk sedangkan Bhadra segera menghapus air matanya lalu menoleh pada Annasya.


"Hm, gue telah jatuh cinta sama istri sodara gue! Tapi gue tetap akan selalu menjaga loe!" Bhadra tersenyum.

__ADS_1


"Thank banget tapi gue gak mau jadi beban loe, mendingan loe lupain gue saja! " Annasya berbalik lalu menjatuhkan air matanya.


"Mana bisa gue lupain loe Nasya! " sahut Bhadra.


"Gue hanya beban dan selalu nyakiti loe! Maafkan gue! " kembali Annasya berucap dengan sesegukan, hingga dia kembali merasakan pusing di kepalanya.


"Nasya! " pekik Bhadra menahan kedua bahu Annasya yang akan terjatuh sambil memegang kepalanya.


"Kejadian itu akan segera gue alami! " Ucap batin Annasya, dan kembali dirinya berdiri tegap.


"Loe baik-baik saja kan? " tanya Bhadra.


"Hm! " Annasya mengangguk.


Bel pulang terdengar Annasya dan Bhadra oun keluar dari ruang musik kebetulan di jam pelajaran terakhir diceritakan bahwa sang guru tidak hadir hari ini.


"Apa loe mau bareng gue pulang? " tanya Bhadra.


"Tidak gue bisa naik ojol! " jawab Annasya.


"Udah mending sama gue saja, sekalian gue mau ketemu paman! " ucap Bhadra.


"Tapi-" ucapan Annasya terputus saat tangan Bhadra menarik tangannya.


"Ayolah! " ajak paksa Bhadra dan Annasya pun tidak bisa menolaknya.


Dipalkiran Annasya dan Bhadra tengah menaiki motor dan bersiap untuk pergi, namun seketika Annasya kembali dibuat merasa bersalah pada Bhadra.


"Bhad gue naik ojol aja ya!" ucap Annasya.


"Gue gak denger loe ngomong apa! " sahur Bhadra di tengah perjalanan mereka.


Sesampainya dirumah Bhadra dan Annasya turun dari motor itu lalu masuk kedalam rumah.


"Bhad biar gue dulu yang masuk ya, takutnya orang rumah pada curiga!" ucap Annasya.


"Gue yang akan bilang kalau kita cuma temen! " kembali Bhadra menarik Annasya dan masuk kerumah.


Disana terlihat orang-orang tengah menghiasi ruang tamu yang megah itu, seperti akan diadakan sebuah pesta hingga pangutan tangan Bhadar dan Annasya pun terlepas bersamaan dengan Sahara yang menghampiri mereka.


"Kalian pulang bareng? " tanya Sahara penuh curiga.


"Ia bibi, Bhadra ada sesuatu yang ingin disampaikan dari Bunda sekalian aja Nasya aku ajak kan! " ucap Bhadra.


"Oh! " Sahara pun percaya, "Nasya sana ganti baju kamu dan bantuan kami disini! " lalu ucapnya pada Annasya.


"Iya! " Annasya pun berjalan menjauhi mereka menuju kamar.


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK!

__ADS_1


__ADS_2