
Amelia akhirnya bisa pulang ke rumah pagi harinya, tepatnya dini hari menjelang subuh. Helaan nafas berat dia selalu lontaran lantaran Adam, laki-laki yang dia tabrak yakni Adam mempersulitnya untuk pulang.
"Ini apartemen ku, Anda kenapa mengikutiku bukan kah sudah baikan! Lagian luka ditubuhmu tidak terlalu parah hanya luka kecil dan penyebab kamu pingsan itu karena anda mengosumsi Alkohol berlebihan!" jelas Amelia.
"Hai Nona! Anda terlalu percaya diri, apartemen ku di depan apartemen milikmu!" sahut Adam.
"APA? Mana ada! Yang berada di depanku itu ibu Merry bukan Anda, jangan membohongiku!" senyim mengejek dilontarkan oleh Amelia.
"Ibu Merry itu, ibu ku!" Adam begitu saja masuk ke apartemen di depan Amelia. Membuat Amelia sendiri tercengang sambil memelototkan matanya.
"Dia bisa masuk dan punya kuncinya juga! Apa benar dia anak ibu Merry? Bukannya anak ibu Merry cuma satu dan itu juga akan menikah nanti besok malahan nanti siang nikahannya, lah terserah yang terpentingbmasih ada duabjam untuk istirahant badanku terlalu penat!" gumam Amelia dan segera memasuki apartemennya dna tidak lupa menguncinya dari dalam.
Pagi hari menjelang tepatnya jam enam pagi, di rumah Sarani terlihat sang ibu tengah berdandan dengan cantik dikamar Sarani. Bahkan dia menyuruh Sarani untuk mendandaninya.
"Ibu mau ke acara nikahan siapa?" tanya Sarani.
"Ibu dan Ayah akan ke acara pernikahan anak teman ibu, itu loh Ibu Merry. Kamu masih tau kan sama dia?" jawab sang ibu masih sibuk dengan bajunya.
"Oh ia aku ingat Bu! Berarti aku sendirian di rumah dong, Bi Entin sedang belanja!" keluh Sarani.
"Apa kamu mau ikut, apa badanmu sudah sehat bentul?" tanya ibu.
"Hem aku kuat, ikut ya Bu!" senyum Sarani.
"Ck dari tadi napa!" sahut Sang ibu yang kini harus mengulur waktu untuk menunggu Sarani bersiap.
"Ibu ayo ini sudah siang!" Terdengar teriakan sang ayah dari depan pintu kamar.
"Wanita banyak gaya kalau mau pergi!" sang Ayah menghela nafas.
"Apa yang ayah katakan!" ucap Ibu, sang ayah tidak menyadari kalau baru saja pintu dibuka.
"Ah tidak Bu!" Ayah tersenyum di paksakan dan mengerutkan dahinya khawatir jika Ibu akan marah, pandangannya kini tertuju pada Sarani.
"Ekh! Rani mau ikut? Apa sudah baikan benar?" pertanyaan sang ayah mengubah topik pembicaraan.
"Iya Ayah, Rani takut sendirian di rumah!" jawab Sarani.
__ADS_1
"Ya udah ayo kita berangkat ini sudah siang!" ajak Ayah dan kedua peremluan yang dia sayangi itu senantiasa mengikutinya dari belakang menuju halaman rumah untuk pergi ke acara pernikahan.
Kembali ke apartemen yang di huni Amelia, kebetulan dia tinggal sendiri karena kedua orang tuanya yang selalu di luar negri karena Deddynya yang bekerja di sana.
Amelia kalang kabut di sana, semua baju berserkaan dia telat karena ketiduran janji dua jam kini dia bangun dan oada kenyataannya dia tertidur tiga jam lamanya.
"Sial, sial!" ucap Amelia sambil memakai gaun berwarna peach yang melekat di tubuhnya. Sedangkan rambutnya masih acak-acakan.
"Heh!" Amelai menahan kesal hingga dia teringat akan sosok Adam yang telah menghambat istirahatnya.
"Padahal dia yang cetoboh, tau lagi mabuk malah ke jalan! Sekarang akubyang jadi korbannya!" gumam Amelia menata rambutnya.
Penampilan yang sangat Elegan, kini dia memutuskan untuk menggerai saja rambutnya dan cukup memakai bandana dikepalannya. Hingga notifikasi pesan masuk terdengar dia pun segera mengecek ponselnya.
"Cepat kemari pernikahan sebentar lagi akan dimulai!" isi pesan teks dari temannya.
"Bawel!" sahut Amelia dan segera memasukan ponselnya ke dalam tas lalu segera pergi meninggalakan apartemennya yang acak-acakan.
Amelia tidak mau berdebat bahkan bertanya dia terlalu membuang waktu untuk hal itu.
"Mau kemana?" tanya Adam tapi Amelia menghiraukannya dia terus saja berjalan.
"Sombong sekali wanita itu!" gumam Adam setelah menatap punggung Amelia yang menjauh darinya.
Di sebuah gedung yang mewah dengan dekorasi pernikah yang megah yang di rancang WO terkenal di kota itu, semua tamu undangan menatal takjub akan hal itu.
"Hai Ibu Lili, akhirnya datang juga!" sapa seornag wanita paruh baya dengan dandanan yang sangat glamor tentu saja itu ibu hajat.
"Tentu saja aku datang Mer!" sahut ibu Sarani yakni ibu Lili itu.
"Syukur Allhamdulilah, aku senang melihat anakmu telah sehat kembali dan paling senang saat Sarani bisa keacara pernikahan ini!" Ibu Merry merangkul sayang Sarani.
"Iya tante!" sahut Sarani dan pelukan itu akhirnya terlepas.
"Kamu makin cantik aja walau baru bangun dari sakit!" puji ibu Merry.
__ADS_1
"Tante bisa saja, oh ia Mas Adamnya di mana? Rani ada sesuati untuknya?" Sarani seraya bertanya pada calon mempelai pria.
"Dia ada di ruang ganti! Sana temui dia pasti terkejut dengan kedatangan mu!" Ucap ibu Merry.
"Iya tante!" Rani oun mulai melangkahkan kakinya menjauh dari sana tapi sang ibu segera menyusul dan memegang pergelangan tangan Sarani.
"Nak, kamu baru saja sembuh jangan terlalu banyak bergerak!" khawatir sang Ibu.
"Aku sudah sehat Bu, lihat lah! Malahan kalau yidak banyak di gerakan takutnya malahngak bisa gerak lagi!" canda Sarani.
"Huss! Kamu itu bicaranya, ya udah pelan-pelan, hati-hati! Atau ibu antar kamu kesana?" Ucap Ibu.
"Ibu aku bisa sendiri!" Sarani meyakinkan.
"Baiklah!" Akhirnya sang ibu mengalah, membiarkan anaknya itu berjalan sendiri menuju ruang pengantin.
"Aku lupa menanyakan ruangnnya. Heh!" Saranu menepuk kepalanya hingga seseorang mendekatinya.
"Apa anda baik-baik saja nona?" tanya seorang laki-laki, Sarani pun menoleh lalu membualatkan kedua bola matanya.
"Ekh Dokter Ruslan ada di sini, aku baik-baik saja hanya saja aku bingung mau ke ruang pengantin dan tidak tau ruangannya." Sarani memalingkan pandangannya seketika ingatan tentang Elmanno kembali memenuhi pikirannya.
"Biar saya antar!" ucao Dokter Ruslan.
"Tidak usah, kalau Anda tau cukup beri tau saja jalannya!" tolak sopan Sarani, dia masih janggung dengan dokter itu, selain perlakuannya yang memalukan di rumah sakit dulu yang mengaggap dokter itu Elmnno. Dia juga berusaha untuk menghindarinya takiut hatinya akan kembali sakit saat mengenal laki-laki yang dicintainya saat di dunia novel itu.
"Tidak apa-apa, sekalian ada sesuatu untuk Adam yang akan aku sampaikan!" Dokter Ruslan.
"Papih!" seketika Rio menghampiri Dokter Ruslan.
"Hem, sini papih gendong!" Dokter Ruslan menggendong Rio dna memberi isarat pada sang lengasuh untuk makan dan meninggalakan mereka.
"Mamih juga ada di sini, aku rindu mamih!" Rio menatap Sarani dan minta di gendong, sedangkan Sarani hanya menatao heran dengan ucapan Rio padanya.
"Khm, maaf lancang mengenalkanmu sebagai mamihnya!" Dokter Ruslan memalingkan wajahnya takut Sarani marah.
"Sini gendong!" Sarani menerima Rio untuk di gendongnya tentu saja hal itu membuat Dokter Ruslan melongo tidak percaya.
__ADS_1