Transmigrasi Mendadak Jadi Istri

Transmigrasi Mendadak Jadi Istri
Menikah dadakan


__ADS_3

"Terima kasih telah memberi tau informasi yang begitu penting, hal ini sangat berguna bagi masa depanku kelak." Adam tiba-tiba saja menghampiri kekasih hatinya bersama selingkuhannya itu.


"Adam!" lirih Sindi membulatkan matanya sedangkan Iqbal dia hanya memalingkan pandangannya.


"Hai tuan Iqbal, terakhir kita bertemu saat penanda tanganan kontrak kerja sama kita dilestoran itu kan! Proposalmu begitu menarik dan bisa saja saling menguntungkan bagi kita. Tapi sayang semua itu akan segera berakhir, karena saya tidak menerima kerja sama dengan orang yang hanya memenfaatkan dan berniat menjatuhkanku!" ucap Adam menatap tajam pada Iqbal sedangkan Iqbal hanya terdiam menahan amarahnya, dia tidak bisa berbuat apa-apa karena telah tertangkap basah.


Adam mengambil baju pengantin pria yang di gantungakan itu lalu melemparkannya pada Iqbal.


"Peke baju itu, aku tidak sudi menikah dengan orang yang telah ternoda dan sedang mengandung benih orang jahat seperti anda!" ucap Adam dengan senyum meremehkan pada Sindi.


"Dan buat kamu Sindi, pernikahan ini hadiah terakhir dari ku dari mulai detik ini jangan tampilkan muka munafikmu di hadapan ku! Aku sangat menyesal mengenalmu, wahai wanita murahan!" kini Adam berbisik tepat di telinga Sindi.


"Panggil menejer WO yang mengurus persiapan pernikahan ini!" teriak Adam.


"Dan ada beberapa hal yang harus aku selesaikan!" Ucap tegas Adam.


Bu Merry dan juga Pak Denis menatap tajam pada Sindi yang kini dirinya hanya menunduk karena malu.


"Untung belam sah jadi menantuku!" Sentak Bu Merry, lalu segera pergi bersama Pak Denis.


Iqbal segera berlari mengikuti Adam, setelah itu dia menarik bahu Adam kasar.


"Saya bisa membiayai pernikahan sendiri!" Iqbal melempar kembali baju pengantin itu tepat ke dada bidang Adam.


"Oh, syukurlah kalau tidak ingin di bantu! Aku kira kamu ingin hartaku karena memang kamu itu gak bisa hanya sekedar menikahi Sindi! Karena kamu malah membiarkan kami hampir menikah, dan aku hampir jadi kambing hitam kalian! ledek Adam.


Tatapan yang sangat tajam dari keduanya itu, membuat suasana mencengkam.


Iqbal segera meninggalkan Adam lalu berbalik dan disana sudah ada Sindi, Iqbal segera membawa Sindi pergi dari sana.


Bu Merry dan Pak Denis kini tengah bingung, semua tamu undangan mulai riuh karena sudah siang dan acara belum juga di mulai.


"Pah ini gimana?" tanya Bu Merry.


"Kita harus memberi pengumuman kalau pernikahan ini dibatalkan!" jaeab tegas Pak Denis.

__ADS_1


"Pak mana bisa perusahaan papih dan bisnis fashion mamih bakalan tercoreng, dan menjadi bual bualan wartawan!" ucap khawatir Bu Merry.


Adam memgahampiri kedua orang tuanya, untung semua suruhan Pak Denis berjaga dengan aman sehingga tidak ada seseorang atau wartawan yang melihat kejadian yang memalukan itu.


"Adam ini gimana?" tanya Bu Merry.


"Heh!" Adam memijat kepalanya yang mulai pening!


Lain di apartemen milik Amelia, dia terlihat tengah mengurut kakinya dengan minyak.


"Kenapa masih sakit aja, ada tulang yang bergeserkah?" gumam Amelia atau bisa dipanggil Meli itu seraya kembali menuangakan minyak itu ke pergelangan kakinya.Hingga suara deringan telepon menggangunya.


"Ada apa, bukannnya pernikahan di batalkan kalian perlu pulang saja. Nggak bakalan rugi dikita!" melihat kalau yang menelepon itu salah seorang kru bawahannya, dia segera berkata begitu saja.


"Bu! Anda dipanggil oleh klien untuk segera kemari!" sahut suara perempuan di sebrang telepon sana.


"Lah kenapa?" tanya Meli.


"Entah kami pun tidak tau. Tapi disni telah ada pertengkaran mungkin ada hal penting sehingga Ibu di panggil kesini." jawabnya.


"Kenapa makin lama makin sakit ini kaki!" keluh Meli.


Ting tong


Suara bel berbunyi, Meli segera berjalan walau pelan dan tertatih hingga kini dia berhasil membuka pintu itu. Terlihat dua orang laki-laki bertubuh tegap berdiri di sana membuat Meli kembali ingin menutup pintu itu karena takut.


"Kami di suruh tuan muda Adam untuk menjemput Nona!" hingga akhirnya salah satu dari mereka memberi tahu maksud kedatangan mereka kesana.


"Ada masalah apa sampai dia harus menjemputku seperti ini?" tanya Meli bingung dan masih berusaha untuk menutup pintu itu, walau tidak bisa karena tenaga laki-laki itu lebih kuat.


"Sebaiknya Anda ikut kami, biar tau apa yang terjadi!" Kedua laki-laki itu menyeret tangan Meli dan memaksanya untuk ikut bersama mereka.


"Lepaskan! Ini namanya penculikan, Woy tolong! Tolong!" Teriak Meli, salah satu dari mereka segera membungkam mulut Meli dengan tangannya dan memangku dia menuju mobil.


"Maaf nona ini demi kelancaran tugas kami!" ucap seseorang yang begitu saja ada dimobil tepatnya di kursi kemudi.

__ADS_1


Meli telah dimasuk mobil dengan kedua orang tegao iti dan satu supir. Meli terus berdoa dalam hati agar dirinya bisa di perkenankan untuk hidup lebih lama lagi dan masih bisa bertemu orang tuanya.


Hingga sampai di gedung pernikahan itu lagi, Meli di bawa mereka lewat pintu darurat karena takut akan wartawan yang mengetahui mereka.


"Lepas!" teriak Meli setelah bungkaman itu dilepas.


"Ibu Meli!" teriak seseorang menghampirinya.


"Siska kamu masih disini? Bukannya pernikahan di batalkan kenapa kita masih harus terlibat. Kita cukup kru yang lain untuk membereskan gedung ini kan!" jawab heran Meli.


"Dan kenapa kalian memaksa ku untuk kemari, dengan cara yang tidak pantas!" Meli menunjuk ketiga orang laki-laki tadi yang membawanya paksa.


"Semua orang yang berada di sini wajib mendengarkan perintahku, termasuk kamu!" Adam tiba-tiba muncul dan menghampiri Meli.


"Kenapa?" tanya Meli.


"Karena-" Adam menggantungkan perkataannya.


Bruk


Adam mengangkat tubuh Meli agar lebih dekat dengan dirinya, lebih dekat bahkan tidak ada jarak membuat semua orang yang di sana menutup mulut mereka karwn aterkejut kecuali ketiga laki-laki berbadan tegap itu.


"Lepaskan aku!" sentak Meli.


"Well you merry me?" pertanyaan Adam membuat Meli mengerutkan dahinya bingung, dan kedua tanganya menyentuh dada bidang Adam mencoba untuk tidak terlalu menempel.


"Haha kamu jadi gila di tinggal kekasihmu, kasihan sekali!" sahut Meli tertawa, mendengar ucapan Meli yang membuat Adam kesal akhirnya Adam mencium paksa bibir Meli.


"KALIAN!" Teriak seorang laki-laki paruh baya, menghampiri Meli dan Adam lalu memisahkan tubuh mereka.


"Papah!" Meli terkejut dengan munculnya sang papa di sana.


"Kalian mau menikah tidak bilang dari jauh-jauh hari, Meliana Kalista! Kamu anggap apa papahmu ini hah!" teriakan dengan nafas yang memburu dari papahnya Meli membuat Meli menelan air liurnya dan membulatkan matanya.


"Pah bukan begitu tapi yang seb-"

__ADS_1


"Maafkan aku Pah! Aku telah benar-benar salah, sebenarnya aku baru mengenal Meli beberapa minggu ini dan aku sudah sangat sayang dan cinta sama anak papah ini, jadi aku memutuskan untuk segera menikahinya takut keduluan orang lain dan aku tidak akan pernah memaafkan diriku jika itu terjadi!" Adam memotong pembicaraan Meli.


__ADS_2