Transmigrasi Mendadak Jadi Istri

Transmigrasi Mendadak Jadi Istri
Kembalinya Annasya menjadi Sarani.


__ADS_3

"ELMANNO! " Pekik Annasya, dia terkejut nafasnya tersengal. Pekuh bercucuran didahinua matanya melihat sekeliling dnegan tatapan nanar.


"Rani, Rani anak ibu! Syukurlah kamu sudah sadar sayang! " suara ibu paruh baya menggema di telingga Sarani, yakni Sarani adalah jiwa dari Annasya di dunia novel itu.


"Ayah! Ayah cepatlah kemari lihat anak kita sudah sadar! " teriak ibu paruh baya itu, lalu datanglah dengan tergesa seorang laki-laki paruh baya dati balik pintu kamar mandi itu.


"Anak ayah! " laki-laki dan wanita paruh baya itu senantiasa memeluk Sarani bersamaman yang tengah cengi dan terduduk di kasur.


Sarani kini telah keluar dari raga Annasya, yang merupakan peran utama sebuah novel. Dia telah kembali pada raganya kembali. Suasana kamar raway itu menunjukan rasa haru mengingat Sarani yang koma itu akhirnya bisa kembali bangun.


Tetesan air mata bahagia yang kini meliputi sepasang paruhbaya itu membuat Sarani melirik kedua orang yang berada dikiri kanannya seraya tengah memeluk erat dirinya.


Sarani menatap sekeliling tuangan itu yang berdominasi putih, beberapa alat kedokteran melekat pada tubuhnya. Sekarang dia mengerjap dan menyadari sekelilingnya.

__ADS_1


"Ayah! Ibu! " lirih Sarani, ada rasa sesak di hati. Akhirnya dia bisa kembali ke alam bumi ini.


"Ayah akan panggilkan dokter kamu yang tenang ya sayang! " Laki-laki paruh baya yang merupakan ayahnya itu mencium kening Sarani, lalu bergegas keluar ruangan itu.


"Sayang mendingan kamu tiduran lagi ya, biar nanti dokter periksa kamu dan kita bisa pulang dan bersama-sama kembali di rumah." tangis haru sang ibu masih terlihat diwajahnya.


Sarani menurut dia pun tidur terlentang dikasur dengan mata berkaca dia masih mengingat bagaimana belati itu menghantam Elmanno dan bagaimana bibir Elmanno yang mengatakan cinta diakhie hidupnya itu. tetesan air mata keluar dari ujung matanya sang ibu yang melihat hal itu segera menghapus nya.


"Apakah kamu juga merasa terharu, ibu menunggumu empat bulan lamanya dan akhirnya kamu kembali nak! " sang ibu mengelus tangan Sarani.


"Ia, sayang taoi biarlah yang lalu berlalu sekarang kamu sudah sadar ibu dan ayah sangat senang! " Sang ibu memeluk erat tubuh Sarani.


"Elamnno! " lirih hati Annasya, hingga dia teringat sebuah novel yang lernah dia baca bahkan dia perankan itu.

__ADS_1


"Ibu apakah ibu melihat sebuah novel yang covernya berwarna putih dengan judul derita istri kecil?" tanya Sarani pada sang ibu.


"Entahlah, tapi ibu pernah lihat waktu kamu di bawa ke RS ada buku di tangan mu tapi buku itu terlihat terbakar jadi tidak jelas warna cover sama judulnya cuma terbaca deritanya aja judul buku itu. Emang kenaoa sayang, kalau kamu ingin nanyi ibu carikan nivel yang kamu inginkan itu!" sang ibu mengelus puncak kepala Sarani.


"Ibu, aku menginginkan novel itu! " ucap Sarani, bicaranya sedikit kesusahan karena selang oksigen yang melekat di hidung serta mukutnya itu.


"Biar nanti ibu belikan yang baru," ucao sang ibu seraya tersenyum.


Annasya hanya menggaguk dan dia berharap novel itu masih ada, tibalah dokter dan sang ayah masuk kedalam untuk memeriksa Annasya.


"Dok cepatlah periksa anakku, pastikan dia baik-baik saja dan cepat keluar dari rumah sakit ini! " ucap sang ayah.


"Itu biar saya periksa dulu! " ucap dokter laki-laki dengan paras tampannya serta kacamata yang tersemat di hidungnya itu menambah aura ketampanan dari sosok dokter itu.

__ADS_1


Annasya pun otomatis menatap dokter itu seketika matanya membulat, "Elmanno! "


__ADS_2