
BRRRAKKKKKKK
Entah bagaimana pintu apartemen itu bisa terbuka padahal tidak ada yang tau sandi pintu itu selain Stepanie sendiri, Elmanno juga laki-laki yang kini berada di ruangan itu yang tengah menganga menatap beberapa orang yang menerobos masuk.
"Seorang model cantik dan terkenal, sayang sifatnya begitu hancur. Bagaimana kalau penggemarmu mengetahui ini semua? " Tiba-tiba saja Bhadra bersura dibalik orang-orang berjas hitam itu.
"Bhadra? " gumam Annasya tidak percaya, dia kira Elmanno yang akan menolongnya ternyata Bhadra. Karena memang di novel Bhadra lah yang akan menyelamatkan Annasya.
"Siapa loe! " sentak Stepanie pada Bhadra.
"Tidak ada waktu untuk berkenalan sekarang!" Bhadra tersenyum lalu menghampiri Annasya.
"Apa aku bermimpi tadi, kalau yang menyelamatkan aku Elmanno?" di saat Stepanie dan Bhadra tengah beradu argumen Annasua masih dibuat bingung dengan keadaan dirinya sekarang.
"Hey loe jangan coba-coba untuk mengambil wanita itu! " kini pekikan itubmuncul dari laki-lakibyang selalu bersama Stepanie itu
"Bereskan! " ucap Bhadra pada beberapa orang berjas hitam itu lalu memangku Annasya keluar apartemen.
"Apa loe baik-baik saja? " tanya Bhadra di sela jalannya.
"Hm! " gumam Annasya.
__ADS_1
Bhadra mendudukan Annasya di kursi mobil bagian depan lalu dirinya berlari memutar menuju kursi kemudi. Mobil itu mulai berjalan membelah jalanan yang ramai, Bhadra sesekali melihat Annasya yang hanya terdiam.
"Jangan takut ada gue! " ucap Bhadra.
"Makasih! " lirih Annasya.
"Loe gak usah makasih sama gue, karena gue ngelakuin itu untuk diri gue sendiri! " ucap Bhadra dan Annasya yang terlihat tidam paham dengan apa yang dikatakan Bhadra itu pun menoleh.
"Kenapa kamu menatapku? " tanya Bhadra setelahbmelihat kalau Annasya menatapnya.
"Apa maksud ucapanmu? " Annasya malah balik bertanya.
STAKKKKKK (Keluar Alur Cerita)
Annasya menunduk dalam dan Bhadra hanya fokus pada jalanan, kini tubuh Annasya sudah bisa di gerakan begitu juga dengan Bhadra.
"Apa gue tadi menghayal? " gumam Annasya tapi masih terdengar oleh Bhdadra.
"Apa maksud loe? " tanya Bhadra.
"Ah tidak, mungkin gue keliru! " Annasya tersenyum dipaksakan.
__ADS_1
"Nasya, gue benar-benar khawatir tadi sama loe! " Bhadra melirik Annasya sekilas.
"Terima kasih! " Annasya mendongkak mentap jalana kota itu yang ramai.
"Beneran, gue khawatir!" Bhadra dengan nada seriusnya.
"Gue tau!" sahut Annasya.
"Nasya loe tau dunia ini kadang membuat gue merasa senang, senang karena dijalan cerita dan kenyataan itu sama. Tapi sayang loe gak pernah menerima gue! " Bhadra menggigit bibir bawahnya.
"Hh! Apa loe sedang menyatakan perasaan loe? Gue emang ge eran orangnya tapi gue juga suka ceplas ceplos ngomongnya!" Annasya cekikikan.
"Kalau iya gimana? " Bhadta menatap harap pada Annasya.
"Itu tergantung kamu aja kali! " Annasya menatap kembali jalanan.
"Jujur gue merasa ada seseorang di dalam hati gue, jadi bisakah kalau gie berusaha untuk menarik loe dalam cinta gue? " tanya Bhadra.
"Itu terserah loe aja, gie gak bakalan larang loe cinta sama gue tapi untuk balasan kita lihat nanti karena hati memang todak bisa di paksakan. Maaf ya Bhadra? " Jelas Annasya.
"Loe nolak gue? " Bhadta memelototkan kedua matanya pada Annasya.
__ADS_1