Transmigrasi Mendadak Jadi Istri

Transmigrasi Mendadak Jadi Istri
Kepulangan dari RS


__ADS_3

Hari demi hari dan genap sekarang memasuki ke dua minggu di rumah sakit setelah Sarani siuman, hari ini adalah hari kepulangan Sarani ke rumah karena sudah pulih tinggal memaksimalkannya saat di rumah.


"Sekarang nona Sarani bisa pulang tapi jangan lupa untuk di minim obatnya dan nanti minggu depan untuk kontrol kembali." beritahu Dokter Ruslan pada Sarani.


"Iya!" Sarani tersenyum, dalam &atibdia sedih karena harus berpisah dengan dokter yang mirip dengan sang pujaan hati.


"Terima kasih banyak atas semua yang telah dokter lakukan untuk kesembuhan anak kami. Kami merasa hutang budi pada anda!" ucap sang ayah.


"Itu sudah kewajiban saya sebagai dokter, jadi jangan khawatir!" Dokter Ruslan melirik Sarani sesaat.


"Hem anu pak dokter, apa pak dokter sudah menikah?" tiba-tiba Sarani bertanya yang bikin semua orang yang berada di sana menatapnya. Dan kini Sarani di buat salah tingkah dengan semua tatapannya itu.


"Kebetulan saya sudah pisah lagi dengan istri saya!" Dokter Ruslan menjawab pertanyaan Sarani.


"Duren?" tanya Sarani memastikan.


"Hem!" Dokter Ruslan mengangguk dan mengalihkan pandangannya pada lain arah.


Sedangkan sang ibu dan ayah menjadi penasaran dengan anaknya itu ,yang selalu penasaran dengan kehidupan dokter Ruslan.


"Aduh udah gak ori ini!" sahut hati Sarani, "Dia bukan Elmanno Ran! Lihatlah dia sudah menikah dan udah pisah lagi! Kalo Elmanno dia pasti akan menunggumu!"


"Ran!" Sang ibu menyenggol lengan Sarani dan membuatnya terkejut serta kembali sadar dari lamunannya.


"Ah begitu ya!" Sarani dengan cengirannya.


"Udah nanyanya? Apa kamu tidak rela berpisah dengan dokter Ruslan?" tanya sang ibu menggoda anaknya itu.


"Udah kok, tapi bukan itu maksudnya dan yah Dok! Maaf kalau tinggkah laku ku dirasa anah terhadap dokter. Anda seperti seseorang yang sangat saya cintai jadi baper lihat mukanya dan selalu ingin memandangnya terus, ups!" Sarani tersenyum sambil membungkam mukutnya.


"Hahah, baru kali ini ayah mendengarmu mencintai laki-laki padahal sebelum kecelakaan itu mana dengar soal laki-laki, sibuk belajar terus malahan ayah berniat untuk menjodohkan kamu!" tawa sang ayah membuat Sarani tersenyum malu sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu.


"Udah jangan godain Sarani terus kasihan dia baru sembuh Yah!" Sang ibu tertunduk dengan senyumnya karena perkataan sang ayah ada benarnya juga.


"Tapi Dokter Ruslan kalau kamu jadi mantuku juga gak apa-apa kami siap restu kok." sang ayah bicara pada Dokyer Ruslan.


"Hahah bapa bisa saja, kalau jodohnya ya tidak apa-apa tapi saya hanya seorang duda anak satu apakah nona Sarani bisa menerima!" Dokter Ruslan dengan tawanya dan menatap Sarani.

__ADS_1


"Udah punya anak dia!" gumam Sarani dalam hati sambil terus memastikan kalau dokyer itu bukan Elmanno dalam hatinya.


"Baiklah kalau begitu kami pamit dulu, kapan-kapan dokter bisa mampir ke rumah kami kita makan makan bersama. Ini alamat rumah saya!" Sang ayah menyodorkan kartu pada dokter Ruslan.


"Nanti saya usahakan!" dokyer Ruslan mengantongin kartu itu.


Mereka semua pamit dan dokter Ruslan pun sempat mengantar mereka sampai garasi. Di jalan Sarani masih kepikirin soal Elmanno dan novel itu hingga dia menemukan toko buku di pinggir jalan, toko yang kumayan agak besar.


"Ayah! Ayah! Berhenti di toko buku itu sebentar!" pinta Sarani.


"Dimana?" tanya sang ayah yang tidak tau letak toko itu


karena sudah terlewati.


"Itu di belakang Yah. Mampir dulu kesana!" kekeh Sarani pada sang ayah.


"Ia biar papah putar balik!" sang ayah pun menurut.


"Mau cari buku itu Ran?" tanya sang ibu.


"Hem aku udah gak sabar ingin kembali membacanya Bu!" sahut Sarani.


"Hati-hati!" teriak sang ibu, mangingat Sarani baru pulih.


Di dalam toko buku itu Sarani menanyakan pada petugas tokok itu untuk membantu mencari buku yang di maksud, hingga akhirnya dia menemukan novel yang bercover warna putih itu di rak.


"Ini dia!" ucap Sarani dan seseorang di sampingnya bersamaan sambil sama-sama memegang buku novel itu.


Sarani dan laki-laki itu saling menatap.


"Bhadra!" lirih Sarani.


"Kamu manggil siapa?" tanya laki-laki itu.


Sarani kembali ke novel dia manarik novel itu tapi susah karen Laki-laki yang mirip Bhadra itu menariknya juga.


"Ini miliku!" ucap Sarani.

__ADS_1


"Aku yang duluan pegang!" sahut laki-laki itu.


"Pokoknya ini miliku. Singkirkan tanganmu itu!" Sarani terus menarik buku itu.


"Tidak bisa aku yang duluan dan aku juga yang berhak atas novel ini!" sentak laki-laki itu.


Sarani tidak bisa berdebat dengan orang di hadapannya itu, akhirnya Sarani pun mengigit tangan laki-lakinitu smaoi tangannya tidak lagi memegang novel.


"Sial!" geram laki-laki itu menatap kepergian Sarani.


Sarani segera berlari menuju kasir, "cepat bungkus yang ini!"


"Total nya tujuh puluh lima ribu mba!" ucap kasir itu Sarani segera merogoh tas bajunya lalu tangannya menepuk jidat. Dia lupa tidak bawa uang karena baru keluar dari rumah sakit.


"Jangan kemana-manakan novel ini akan saya bayar, uang saya ketinggalan dimobil noh mobilnya di depan tunggu sebentar!" Sarani berlari segera ke mobil sang ayah lalu mengetuk pintuk pintu jendela.


"Ada apa sayang?" tanya sang Ibu.


"Bu minta uang!" Sarani menyodorkan tangannya pada sang ibu.


"Ini?" sang ibu memberikan uang dua lembar berwana merah pada Sarani.


"Kelebihan!" sahut Sarani kembali mengembalikan uang itu satu lembar pada tangan sang ibu lalu kembali berlari ke dalam toko.


"Ck anakmu itu Yah, dia agak aneh setelah siuman!" Sang ibu menatap sang ayah di depan tepatnya di kursi kemudi.


"Dari awal siauman sih agak aneh, dia terus memanggil nama Elmanno, apa kita cari saja orang itu?" tanya sang ayah.


"Tapi dia siapa Yah? Selama ini dia tidak punya teman laki-laki" sahut sang ibu.


"Apa dia berhalusinasi akan mimpinya waktu koma Yah, apa kita periksakan anak kita ke pisikiater?" khawatir sang ibu.


"Kita lihat nanti dulu Bu!" Sang Ayah menatap pintu tokok itu dan akhirnya Sarani keluar juga dari sana dengan menjinjing tas berwarna putih di tangannya.


Sarani membuka pintu mobil dan kembali duduk disamping sang Ibu. "Ayo Yah kita pulang!"


Sang ayah tidak menyahuti dia hanya menjalankan mobilnya menuju rumah.

__ADS_1


"Itu sebuah novel?" tanya sang ibu pada Sarani yang kini tengah mengeluarkan sebuah buku dari tas pelastik berwarna putih itu.


"Iya Bun, Rani sudahntidak sabar imgin cepat membacanya!" sahut Sarani.


__ADS_2