Transmigrasi Mendadak Jadi Istri

Transmigrasi Mendadak Jadi Istri
Lahirnya baby twins


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu kini di ruang bersalin Amelia tengah berjuang untuk mengeluarkan sang bayi, didampingi Adam disampingnya. Sedangkan keempat orang tuanya tengah terdiam berdoa cemas cemas harap menunggu Amelia diluar ruangan.


"Aduh sakit Dam ini sakit!" Amelia memegang erat pergelangan tangan suaminya itu. Matanya tidak berhenti memejam menahan rasa yang negitu tak tertahan itu.


"Bu mulai sekarang tarik nafas pelan saja, lalu keluarkan!" titah dokter kandungan.


"Huhuh huh Aaaaaaaaa!" Amelia malah berteriak.


"Coba untuk tidak mengeluarkan suara, ibu rilex tarik nafar pelan pelan hembuskan! Coba lagi!"


"Hu huh emmmmm!"


"Terus ini kepalanya sudah keluar!" beritahu Dokter kandungan.


Bukan hanya Amelia yang merasa sakit dan penuh dengan peluh itu, Adam pun sekaan ikut serta seperti tengah merasakan hal yanf di rasakaan Amelia. Peluh itu membasahi tubuh Adam dan sangat panik kala melihat Amelia yang kini tengah berjuang mengeluatkan anaknya perlahan matanya melihat ke belakang di mana dia bisa melihat kalau bayinya sudah mulai keluar.


"Mel kamu kuat. Aku sangat sayang kamu! Bayi kita akan keluar sebentar lagi semnagt sayang aku akan ikut ngeden sama kamu!" ucap Adam dengan khawatir.


"Ayo bu keluarkan!"


"Eemmmmmmm aakkkhhhhhh!" ucap Amelia sekuat tenaga begitu juga dengan adam.


PRRREEETT


Oekkkm oeeee oekkkk


Jika Amelia telah berhasil mengeluarkan bayi, beda dengan Ada yang mengeluarkan kentut membuat petugas di sana menagan tawanya.


"Bu masih ada satu lagi, bisa kembali tarik nafas?" tanya dokter kandungan itu.


"Iya ada satu lagi, Mel aku tau kamu kuat!" Adam menggengam tangan Amelia.


"Dam ini sakit lagi Dam, kamu gak usah ikut ngeden!" teriak Amelia, dia takut nanti saat sudahm ngeden Ada malah mengekuarkan hal yang tidak sememstinya jadi Amelia melarang Adam untuk ikutan ngeden.


Petugas di sana lagi-lagi menahan tawanya, untung mereka memakai masker jadi tidka ketahuan oleh Adam.


"Bu masih kuat kah apa mau di op-"


"Tanggung aku normal semua!" pekik Amelia dan bersiap untuk ngeden lagi.


"Ya udah, tarik nafas pelan henbuskkan yang kuat!" pekik Ibu dokter.


"Aaakhhhh!" kembali Amelia mengeluarkan bayi itu.


Oekkk oekkkkk


"Hahhhhhhhh!" Amelia terdiam sangat lemas dan terlihat air mata keluar dari sudut matanya.


"Makasih sayang, makasih!" Adam menghapus air mata Amelia menciumi seluruh muka Amelia. Rasa haru menyelimuti, Adam pun menangis dibuatnya.

__ADS_1


"Selamat ibu dan bapak. Anaknya kembar dan laki-laki semua sangat tampan dan sempurna!" beri tahu suster lalu segera membersihkan kedua bayi itu.


Setelaj di bersihkan kedua bayi kecil munyil itu didekaokan di dada Amelia, Amelia malah semakin deras mengekuatkan air matanya sambil memeluk anak-anaknya.


"Anak-anak tampan mamah!" Amelia mencium puncak kepala anaknya itu bergantian.


"Anak-anak papah juga, sayaang makasih banget telah melahirkan anak kita yang ganteng kaya papahnya ini!" Adam mengusao kedua pipi anaknya itu bergantian.


"Enak saja, dia juga mirip aku!" ucap pelan Amelia lelah.


"Ia ia mirip kita!" Adam sembari mencium kening Amelia.


Setelah semuanya selesai dan sudah pindah ruangan Dokter kandungan beserta beberapa suster yeng membantunya izin pamit lalu keluar.


"Dok!" ucap Merry dan Susan mereka saling memelukm


"Selamat cucu anda sangat tampan semua, Allhamdulilah sehat dan sempurna!" senyum mengembang di bibir tipis ibu dokter itu.


"Syukur, Allhamdulilah! Apa kami sudah bisa masuk untuk melihat?" tanya Susan.


"Bisa di jenguk asal jangan mengganggu sang ibu!" Sahut ibu dokter itu.


"Baik!" ucap Merry dan Susan bergantian lalu bergegas masuk ke ruangan itu.


Merry dan Susan di buat haru dan sangat senang sekali saat pertama menginjakan kaki keruangan itu.


"Mamihh!" Lirih Amelia sambil mengangguk.


"Mel kamu memang wanita tangguh!" puji Merry, menggengam tangan Amelia.


"Wah Dam kamu hebat langsung dapat dua!" ucap Denis menatap kedua cucunya di kasur bayi itu.


"Jagoan jagoan Opah telah lahir, nanti opah gendong ajak kalian main bola ya!" Indra menatap haru pada kedua bayi di hadapannya.


"Nanti catur juga sama kakek ya!" sahut Denis.


"Nanti opah jajanin mainan mobil mobilan!" Indra mengusap pelan kedua kening cucunya itu.


"Kakek nanti kasih kamu papan catur keluaran baru!" ucapan Denis membuat kedua tangan Indra melipat didada.


"Yak Denis, emang mau catur aja kedua cucuku ini!" kata Indra menatap Denis.


"Kali kali dong bro, kaya kita juga juara catur penerus!" senyum Denis.


"Hah kalian ini!" pekik Merry dan Susan. Mereka segera menghamoiri kesua cucunya itu.


"Aduh Aduh cucuku ini sangat tampan tampan, omah gendong ya!" Ucap Susan.


"Wah lihatlah cucuku lucu lucu sekali, San aku juga mau gendong ih!" sahut Merry.

__ADS_1


Merry dan Susan pun menggendong cucu mereka, dengan perasaan senang tiada tara.


"Ndra kita udah tua aja!" ucap Denis menatap cucunya yang di gendong sang istri Merry.


"Ia Den, akhirnya kita punya cucu yang sama gak nyangka bakal besanan sama kamu bro!" Indra mengusap pipi bayi yang di gendong Susan.


"Kita di takdirkan bersama mulai kuliah Ndra!" ucap Denis.


"Bobrok dulu kita Den!" Indra menoleh pada Denis, begitu juga dengan Denis menoleh pada Indra. Lalu mereka pun tertawa.


"Moga gak nurun sama cucunya!" ucap Merry dan Susan bersamaan.


Sedangkan Adam dia terdiam dikursi sambil memeluk tangan Amelia yang terbaring di kasur itu.


"Mel apa kamu mau minum?" tanya Adam.


"Nggak tadi udah kan!" jawab Amelia.


"Mel aku sayang kamu!" Adam memeluk Amelia.


"Ia Dam aku tau! Makasih udah nemenin aku dari awal hingga akhir persalinan!" sahut Amelia.


"Jangan berterima kasih padaku, menemanimu tidak seberapa dengan pengorbananmu tadi jantung ku hampir copot aku takut kehilangan mu Mel." Adam memeluk Amelia.


"Kamu jadi cengeng sih!" sindir Amelia mengusap kepala Adam.


"Mel makasih banget untuk semuanya!" ucap Adam.


"He em! Ngomong-ngomong tadi kamu kentut nggak ada ampasnya?" Amelia tertawa tertahan.


"Terserah ampasnya keluar juga masa bodo!" sahut Adam dan mencium tangan Amelia.


"Parah kamu Dam, bikin suasana tegang jadi lawak!" pekik Amelia.


"Nggak apa-apa, aku hanya ining menyemangatimu!" Adam terua mencium tangan Amelia.


"Kamu jorok ih, sana liat di kamar mandi takut benar ada ampasnya keluar!" suruh Amelia.


"Ya nggak Mel, aku juga punya perasaan!" Adam menatap Amelia yang cekikikan.


"Ya kali Dam!" Amelia menutup tawanya.


"Kamu baru melahirkan udah membuat aku gemes tau, bagaiman ini aku harus puasa 40 hari coba" Adam mencubit pelan hidung Amelia.


"Beli mie sekardus tuh kan isinya ada yang 40 nanti kamu makan tiap hari kalau mienya udah abis berarti kamu sudah bisa sesuatu padaku!" tawa Amelia.


"Kamu itu nyuruh aku makan mie instan setiap hari, nanti aku malah sakit gimana?" Adam mengusap pipi Amelia, sedangkan Amelia terus cekikikan.


"

__ADS_1


__ADS_2