
Hari ini Amelia benar-benar tidak keluar apartemen sama sekali, dia dikekang oleh Adam seharian penuh hingga waktu sore ini Amelia mengembuskan nafas panjangnya di sofa depan televisi tanpa sehelai benang pun melekat ditubuhnya.
"Baru kali ini aku libur pakai baju!" sindir Amelia dan Adam kini yang berada di sampingnya hanya cekikikan.
"Kali-kali membuat suasana berbeda!" sahut Adam.
"Kamu kuat banget Dam, aneh gak cape gak lelah!" ucap Amelia.
"Kamu harus bangga punya suami kaya aku, yang bisa memuaskanmu sampai puas sepuas puasnya!"
"Pingsan aku!"
Adam menaruh kepalanya di bahu Amelia sambil memainkan bulu-bulu indah milik Amelia di bawah sana.
"Jangan bablas tanganmu! Percuma aku bilang jangan, hentikan! Kamu tidak menganggapnya!" Amelia mengambil air minum di meja.
"Hem, lembut tau apalagi jika di tekan gini kan!" ucap Adam.
"Euh, Adam!" pekik Amelia tertahan.
"Aku semakin ingin memakanmu jika kata-kata itu terdengar oleh ku!" Adam segera menindih kembali tubuh Amelia.
"Hah sudahlah!" Amelia hanya pasrah.
Semetara itu dikamar bernuansa biru Sarani terdiam sambil membuka buku materi diperkuliahannya yang tertinggal karena kecelakannya diruang leb itu, yang mengakibatkan dirinya koma beberpa bulan lalu dan terdampar di dunia novel.
Sarani sudah tidak meperdulikan lagi soal dirinya yang pernah masuk ke dunia novel, dia hanya mengenang Elmanno dalam hatinya.
Bahkan Alenza dan Rio juga tidak sadar kalau mereka masuk kedalam novel, kini sepasang kekasih itu telah menikah didunia nyata dan berganti nama menjadi Amelia dan Adam.
Suara ketukan pintu terdengar, Saraninoun beranjak dan membuaka pintu kamarnya.
__ADS_1
"Ibu?"
"Di depan ada dokter Ruslan, ingin bertemu denganmu!" beritahu Ibu seraya tersenyum menggoda pada Sarani.
"Senyumu anah bu!" ledek Sarani.
"Hah kamu ini yang aneh, gini dong kali-kali ada teman laki-laki main ke sini! Cepat temui dia!" snag ibu pun meninggalkan kamar itu.
Sarani menutup lintu dari luar dan segera menemui Ruslan di ruang tamu.
"Dokter!" panggil Sarani, dan Ruslan pun menoleh lalu tersenyum sambil membenarkan kacamatanya.
Sarani duduk di depan Ruslan mengambil bantal dan meletakannya di atas pahanya.
"Ada sesuatu yang ingin dokter bicarakan padaku?" tanya Saranni.
Dokter Ruslan merogoh sesuatu didalam tasnya dan meletakannya di meja membuat Sarani terkejut dan membulatkan matanya.
"Iya, di saat kamu koma aku sering bermimpi tentang mu bahkan setiap malam. Mimpi itu bagai alur cerita yang setiap malamnya menyatu, aku merasa aneh dan aku pun pernah berniat untuk menemui dokter psikiater karena aku hampir tidak bisa membedakan dunia mimpi dan kenyataan. Hingga aku menemukan buku yang terbakar di dekat nakas saat di ruangaanmu, aku membacanya dan sedikit ada kesamaan cerita itu dengan alur mimpiku karena aku penasaran akan novel itu aku pun membeli novel yang sama seperti yang telah terbakar itu. Aku membacanya sampai tamat dan semua mimpi itu sama persis yang ada di novel itu, bahkan anehnya aku merasakan dunia lain di dunia mimpi itu." Dokter Ruslan mengambil nafas untuk melanjutkan kata-katanya sedangkan Sarani penglihatannya mulai buram karena air matanya.
"Di dalam novel itu diceritakan kalau Elmanno tidak cinta sama Annasya, tapi aku yang merasa menjadi tokoh utama dalam mimpi itu merasakan hal yang aneh, aku merasakan cinta yang teramat pada sosok Annasya itu tapi aku juga pernah mendengar kalau si Annasya ini pernah mengungkapakn bahwa dirinya adalah Sarani Nabiha tapi aku mencintai dan sangat menyayanginya." jelas Ruslan dan sekerika air mata Sarani terjatuh juga, dan Sarani sendiri segera menghapusnya.
"Dan aku sadar kalau muka Annasya atau Sarani itu sangat mirip dengan pasienku yaitu kamu! Setiap hari aku bercerita tentang cerita novel itu padamu, mengajakmu bicara hingga tanpa sadar juga aku telah cinta di dunia yang sebenarnya padamu! Dan aku yang merasa diri menjadi Elmanno didalamm mimpiku, menjadi yakin kalau Annasya juga adalah Sarani yaitu kamu! Apalagi pas kamu sadar akan koma dan menyebutkan nama Elmanno, hatiku gemetar ternyata kamu juga merasakan itu. Apa kamu masih mengingat cerita kisah Elmanno dan sarani di dunia yang berbeda? Aku sangat rindu kamu!" Ruslan menunduk, dia pun mengeluarkan air matanya.
"Aku mengingat semuanya, bahkan aku menyesal tidak sempat mengatakan perasaanku yang sebenarnya kalau aku juga mencintai sosok Elmanno itu!" Sarani pun menunduk.
Ruslan dan Sarani sama-sama terharu dan menitikan air matanya bersama di sana, mereka dipertemukan didunia lain yang tidak terduga oleh mereka. Kini mereka sadar sosok Elmanno dan Annasya itu adalah mereka berdua, rasa cinta dan sayang yang mereka rasakan di dunia lain terbawa sampai dunia kenyataan. Walau Sarani merasa kalu dirinya masuk sebuah novel berbeda dengan Ruslan yang mengaggap cerita itu mimpinya yang terasa nyata.
Tanpa mereka sadari dari balik pintu depan seorang nenek tengah tersenyum manatap mereka. "Ekspetasiku berhasil!" ucapnya.
"Nenek ternyara disini?" Ibu Sarani mengejutkan nenek itu.
__ADS_1
"Kamu ini buat nenek terkejut saja!" sentak nenek itu.
"Nenek lagi ngapain disini?" tanya sang ibu.
"Lagi liatin cicitku itu, lagi bermesraan!" tawa cekikikan nenek itu membuat ibu mengikuti arah pandang nenek.
"Dia lagi ngobrol mana ada mesra mesra an, nenek ini jangan suka baca novel lagi nek udah tua tidak pantas tuh sampai terbawa dunia nyata bapernya!" ledek sang ibu.
"Tidak ada yang bisa menghentikanku!" sentak nenek itu.
"Udah tua makin ngeyel!" ucap sang ibu setelah sang nenek pergi menjauh darinya.
Kembali pada Sarani dan Ruslan mereka menghapus air mata mereka bersama, Ruslan tersenyum pada Sarani.
"Aku mencintai dan menyayangimu hingga aku memperkenlakn Rio sebagai sebagai mamihnya maaf lancang karena itu lah alasannya. Aku ingin mewujudkan cinta dan sayang ku di dunia nyata aku ingin menikahi Sarani yaitu kamu!" ucap Ruslan menatap teguh pada Sarani.
"Khm! Kamu juga tau sendiri jawabnnya!" sahut Sarani.
Ingin rasanya Ruslan memeluk Sarani sangat erat, tapi dia belum berani dia sangat menghormati Sarani dia akan memeluknya nanti setelah mendapat izin orang tuanya lalu menikahinya.
"Bagaimana dengan Rio?" tanya Sarani.
"Dia sebenarnya adalah keponakanku hanya saja kakak dan kakak iparku beserta ibuku meninggal kecelakaan pesawat, saat hari bahagiaku kala itu." kasih tau Ruslan, mamalingkan pandangannya.
"Hem, maaf menyinggung kesedihanmu!" ucap Sarani.
"Di dunia nyata kamu sangat sopan, tapi aku tetap menyayangimu!" ucap Ruslan.
"Kamu belum tau aja kalau dikamous aku gesrek sama teman teman ku hahah!" ucap Sarani seraya tertawa.
Rasa sedih dan haru yang di ikuti rindu yang di rasakan Sarani dan Ruslan membucah hari itu, tergantikan dengan canda tawa dan air mata kebahagiaan. Hingga ucapan Ruslan yang membuat mereka terdiam seribu bahasa yakni dia berkata,
__ADS_1
"Bahkan kita merasakan hal yang luar biasa, diatas ranjang saat kita menjadi suami istri dalam dunia itu!"