
Terlihat Denis dan Indra sangat bahagia karena mereka bisa menjadi besanan, begitu juga Merru dan Susan.
"Aku pikir tadi papih dan om saling musuhan karena tadi di ruang pengantin saling membentak?" ucap Amelia.
"Itu karena kami sudah sangat dekat hal itu cuman lelucon saja kalau dilihat orang asing juga pasti anggapannya itu seperti kamu Nak, dan jangan pangghil aku om panggil papah ya!" sahut Denis.
"Tidak menyangka anak perempuan yang tetanggaan denganku dan sudah aku anggap anak ini adalah anakmu Susan!" Merry menepik bahu Amelia.
"Benarkah? Jadi Merry Mel , yang selalu kamu ceritakan pada Mamih ibu-ibu yang baik dan selalu perhatiam sama kamu itu?" tanya Susan.
"Hem!" Amelia mengangguk.
"Gak enak di liatin orang mendingan kita cepat pulang saja!" ajak Indra.
"Kalian langsung honeymoon sekarang, papih siapkan tiket untuk kalian!" Denis menwarkan.
"Tidak aku terlalu lelah dan kakiku juga masih sakit jadi aku akan pulang ke apartemen saja!" sahut Amelia.
"Kita!" Adam menegaskan dan kedua pasangan orang tua itu tersenyum menanggapi.
"Heh!" helaan nafas itu keluar dari mulut Amelia.
Kini mereka telah pergi dari gedung Capil itu, dan hanyaemakan waktu tiga puluh menit Amelia dan Adam telah samapai di apartemen Amelia.
"Aduh!" Amelia terlihat berpegangan pada lengan Adam. Sedangaka Adam menoleh pada Amelia lalu menggendongnya dan mendudukannya di sofa.
"Kenapa bisa keseleo gini dan lihat kakimu makin besar kaya gajah!" ledek Adam membuat Amelia mencubit bahu Adam.
"Ini semua gara-gara kamu yang begitu saja membatalakan pernikahan, aku jadi berlari dan terjatuh saat menghampirimu di apertemen bu Merry!" jelas Amelia.
"Pernikahan kita berjalan dengam khidmat tidak batal!" sahut polos Adam.
"Kamu seneng yah buat aku kesel! Pernikahanmu yang pertama!" sentak Amelia sedangkan Adam berjongkok di depan Amelia duduk.
__ADS_1
"Aku hanya menikah denganmu sayang!" ucap Adam, mengambil minyak urut di meja dan cepat membalurkanya pada kaki Amelia yang sakit.
"Dasar kamu ya!"
Krek
"Aaaaaaaaaaaa sialan kamu Adam!" teriak Amelia sekencang-kencangnya saat Adam membetulkan tulang kaki Amelia yang bergeser.
"Coba garakan!" titah Adam.
"Sakit tau!" Amelia mengelautkan air matanya saking sakiymt yang dia rasakan. Tapi hal itu justru membuat Adam gemas dia memang sudah terpikat saat pertama bertemu dengan Amelia.
Adam duduk di samping Amelia tanoa melepaskannya tatapannya dari wajah Amelia.
Cup
Satu kecupan mendarat di dahi Amelia dari Adam, seraya berkata"Gerakan kakimu sayang!"
"Ka ka kau membuatku merinding tau, menjauhlah! Suh suh!" Amelia menggerkan kedua tangannya pada Adam agar menjauh. Tapi sayang Adam malah mengangkat tubuh Amelia ke pangkuannya serta memeluknya erat.
Amelia pun menggerkan kakinya yang tadi keseloa, laku dirinya mengerutkan dahi karena kainya sudah tidka terlau sakit lagi.
"Makasih!" lirih pelan Amelia.
"Kurang keras!" sahut Adam.
"Udah basi!" ucap Amelia.
"Coba sebutkan lagi atau aku kulum bibirmu sampai merah bengkak!" ancam Adam.
"Makasih! Puas!" Amelia melipat kedua tangannya di dada dan masih dipangkuan Adam.
"Ada hal penting yang harus kita bicarakan, sini tanganmu!" ucap Adam sambil menyimpan kedua tangan Amelia di bahunya sehingga Amelia bertatapan dengan Adam.
__ADS_1
"Hah! Maaf telah membuat keputusan sendiri dengan menikah denganku dan tanpa persetujuan dari mu juga. Semenjak kau merawatku di RS dengan sangat telaten aku mulai tertarik denganmu, entahlah saat melihatmu hatiku mengatakan jika kamu itu milikku! Aku mengikutimu sampai apartemen, tujuanku ingin tau temoat tinggalmu dan kebetulan di depan apartemenmu itu adalah apartemen ibuku, bukankah itu takdir serta pernikahan ku bersama Sindi batal dan kedua orang tua kita ternyata saling sahabat. Bisakah ini disebut takdir perjodohan dari Yang Maha Kuasa?" Adam menatap teduh mata Amelia yanga hanya diam saat ini.
"Heh, entahlah memang benar kali kalau kita disatukan karena berjodoh! Aku tidak bisa mengelak, hanya saja kamu membuatku selalu memikirkamu karena kamu selalu membuatku kesal tau! Dan aku tadinya berfikir hanya di jadikan kambing hitam untuk menyelamatkan pernikahanmu. Memang itu juga kan tujuan awalmu, memperalatku?" Amelia menangkup kedua pipi Adam.
"Tidak. Malahan aku menjadikan kesempatan itu untuk membuat mu menjadi istriku!" sahut Adam
"Kamu playboy ya! Terlihat kamu itu suka gombal!" Amelia meleoaskan kedua tangannua dari pipi Adam
"Sama Sindi aku jarang bicara hati kehati seperti ini, boro-bori playboy bahkan kamu juga mendengarkan kata mamihku aku dulu samapai nungguin dia karena ingin menikah dengannya, syukurnya bukan jodoh dia hanya ingin hartaku dia yang malah berselingkuh bersama rekan kerjaku sampai tekdung duluan!" jelas Adam.
"Dan aku sangat senang karena malam sebelum pernikahan itu bertemu denganmu, yang hangat, tanggung jawab dan sangat telaten. Hatiku yang suram waktu itu mendadak cerah saat melihat mu! Sakit saat di tabrak mobilmu jadi tak terasa!" Adam tersenyum pada Amelia.
"Iya kali aku matahari! Hah udah bicaranya aku mau mandi!" seru Amelia.
"Bagaimana denganmu?" tanya Adam.
"Aku?" Amelia mengerutkan dahinya bingung
"Apa kamu punya kekasih?" tanya Adam dengan tatapan tajamnya.
"Aku terlalu sibuk bekerja, sampai lupa kalau aku juga manusia yang perlu berpasangan. Dan pada akhirnya tanpa di cari dan pacar pacaran langsung dapat pacar halal, lucu yah!" Amelia beranjak berdiri tapi Adam kembali menariknya dan kini Adam menidurkan Amelia di sofa dan menindihnya.
"Apa yang akan kamu lakukan?" Amelia menahan bahu Adam agar tidak terlalu dekat dengannya.
"Melihat matamu, apa kamu bohong atau tidak!" Adam menatap mata Amelia begitu pun sebaliknya.
Muka Adam semakain maju bakhan tangan Amelia pun malah meraih lehar Adam. Keduanya tidak sadar samoai bibir itu saling beradu dan menyalurka rasa gejolak di hati. Tautan bibir yang lembut dan penuh perasaan kedua kelopak mata mereka terpejam merasakan perasaan yang saling mengasihi dan saling menerima! Hingga Amelia yang baru pertama kali merasakan hal itu kehabisan nafasnya. Adam yang merasakan itu langsung menjauhkan bibirnya memberikan ruang agar Amelia mengirup udara segar di sekitarnya.
"Kita awali kenalan kita didalam naungan rumah tangga ini ya Amelia Kalista!" Adam mengusap lembut permukaan bibir Amelia yang penuh dengan air liur miliknya.
"Khm! Kita jalani saja, asal kita saling setia dan percaya hubungan pasti tidak akan terpecah. Aku mau mandi dulu!" Amelia segera beranjak dari sofa dan berlari menuju kamar, meninggalakn Adam yang tengah senyum penuh dengan kebahagiaan dihatinya.
Sedangkan Amelia segera meraih handuk dan masuk kemar mandi. Dia memegang bibirnya.
__ADS_1
"Akhirnya ciuman pertamaku diambil suamiku!" gumam Amelia dan sedetik kemuadian dia beergidik.
"Mudah-mudahan tidak untuk malam ini, nanti saja!" kembali gumaman itu terucap dari mulut Amelia, dia sempat berpikir akan malam pertama mereka.