
Sang ibu, Sarani dan bibi tengah sibuk di dapur mereka tengah menyiapkan makanan buat keluarga Ruslan hingga sang ayah datang dari kantor dan mendapati kalau rumah sepi, padahal penguni rumah sedang sibuk memasak.
"Mereka pada kemana, rumah sepi!" gumam sang ayah, hingga snag ayah mendengar suara Sarani tertawa dan ayah pun menghampirinya.
"Ya ampun ada apa ini, kenapa bahan masakannnya begitu banyak!" ayah terkejut.
"Ayah udah datang, kita akan kedatangan tamu Yah!" sahut Ibu yang sedang sibuk dengan pisau.
"Tamu siapa dan kenapa masak sebanyak itu. Mau kedatangan tamu se rt emang?" sahut Sang Ayah, dan Ibu menghampiri.
"Yah kita akan kedatatangan tamu yangvakan melamar Sarani nanti malam!" beri yahu sang ibu dan tentu saja membuat ayah terkejut kembali.
"Siapa yang akan melamar anakku, dan dari kelauarga mana? Kenapa aku baru mengetahui sekarang tidak adanyang memberitahuku sebelumnya!" Sentak sang ayah membuat ibu mengekus dada Ayah.
"Dokter Ruslan Yah!" sahut Ibu dan mata ayah kembali membulat sempurna.
"Apa benar, kaapan dia kesini?" tanya Ayah tegas.
"Tadi dia kesini Yah! Ayah ini anaknya mau dilamar kok malah banyak tanya ini mendingan bantuin masak Yah!" Ibu Sarani tersenyum sedangkan sang ayah hanya menghela nafasnya.
"Ngaco kamu ibu, nyuruh ayah masak didapur ya mana bisa!" Sang ayah berjalan meninggalkanruang daour menuju kamar.
Hingga malam menjelang dan jam dinding sudah menunjukan pukul delapan malam, tapi keluarga Ruslan tidak kunjung datang.
"Ran, kamu beneran keluarga Ruslan mau kesini? Apa kamubtidka salah dengar?" tanya sang ayah.
"Tentu saja kupingku masih normal dia tadi bilang mau kesini sama keluarganya!" sahut Sarani.
Mereka semua telah menunggu tapi kelurga Ruslan tidak kunjung datang juga, hingga pikiran-pikiran negatif bermunculan di kepala Sarani.
"Dia bohong!" sahut Sarani dalam hati dengan kekesalannya.
"Ran, coba kamu hubungi dia!" pinta sang ibu dna sarani menggelang.
__ADS_1
"Aku tidak tau nomor kontaknya!" Sarani mengerucutkan bibirnya hingga jam sepuluh malam dan makann sudah dingin tersaji di meja makan serta cemilan di meja tamu sudah penuh.
Sarani menghentakan kakinya ke kamar, baju bagus serta dandan yang rapih telah Sarani kenakan untuk menyambut keluarga Ruslan tapi malah tidak ada, akhirnya dia menggerutu dan sangat marah. Hatinya sangat kesal dan merasa sesaknhingga air matanyabkeluar dari oelupuk matanya, Ruslan telah berbohong padanya juga pada kekuatganya.
"Dia ternyata berbohong aku sangat benci padanya!" teriak Sarani memukul bantal itu keras.
Di ruang tamu ibu dna Ayah tengah berbincang.
"Ini sudah jam sepuluh, mungkin keluarga dokter itu tidak akan kemari!" ucap Sanh ibu tertunduk pilu.
"Lihat saja, ada yang berani membuat anaku terluka maka akuntidka akan segan membuat dia menderita!" sang ayah mulai terbawa emosi.
Ting tong
Hingga suara bel berbuyi dan mengagetkan ayah dan ibu.
"Ayah apa itu mereka?" tanya sang ibu.
Pintu terbuka dan menampakan banyak orang di sana sekitar belasan orang dan dokter Ruslan di depannya.
"Assalamualaikum, maaf kami berkunjung terlalu malam ada hal penting sehingga kami terlambat datang ke sini maafkan kami semua!" Ucap laki-laki paruh baya itu seraya tersenyum sang ayah tertegun karean kalau di itung itung yang berkunjung ke rumahnya itu ada belasan orang.
"Waalaikumsalam mari silahkan masuk!" Sanga yah yang tadinya akn memarahi Ruslan malah tidak jadi.
Semua orang masuk karena tidka muat di sofa akhirnya bibi juga sang ibu mengambil beberala karpet berbahan bulu keruang tamu.
"Maaf sebesar besarnya, ini sudah sangat malam untuk berkunjung hanya saja anakku ini mengejutkan kami! Memberi tahu kalau dirinya akan melamar seorang wanita hari ini sedangkan saya sebagai papahnya masih berada di London serta kerabat yang lain. Masih diberbagai negara, omnya di Paris, dan tantenya berada di los Angeles sehingga kami saling menunggu untuk berkumpul hingga kemalaman datang kemari!" maaf papahnya Ruslan sednagkan Ruslan hanya menunduk.
"Oh. Saya kira kalian tidak akan datang, karean tidak ada pemberitahuan sebelumnya pada kami bahkan saya dan istri saya pun awalnya tidak percayab karena Sarani anak saya memberi tahunya juga tadi siang makanya kami persiapan dadakan untuk kedatangan kalian." Ucap sang ayah.
"Jadi merepotkan dan membuat menunggu mohon untuk memaklumi kami!" papah Ruslan dengan sangat sopan.
"Tidak apa, karena kalian sudah datang mari kita makan dulu perjalanan jauh pasti membuat kalian lelah!" ucap sang Ibu pada semua tamunya itu.
__ADS_1
"Terimakasih atas hidangannya tapi kami akan membicarakan hal penting terlebih dahulu!" kembali papih Ruslan berbicara.
"Kami ke sini ada maksud tertentu, yakni meminang putri bapak beserta ibu untuk anak saya Ruslan Prasetya. Saya berharap bapak dan Ibu bisa merima anak saya dan kembali maaf terucap dari bibir saya, kami tidak membawa apa-apa hanya ini dan beberapa bingkisan kecil untuk anak bapak juga bapak sekalian ibu disini!" sang papih menyodorkan satu set perhiasan beserta kunci mobil di dalam sebuah kotak kaca itu yang disodorkan pada ayah dan ibu.
"Yah! " Ibu menatap sang ayah.
"Kami tidak dapat memutuskan tapi nati anak saya yang akan memutuskannya, kebetukan dia lagi berada di kamar mandi!" Ucap sang ayah.
Sang ibu segera menemui Sarani dikamarnya, ternyata Sarani tengah menangis karena kesal pada dokter Ruslan yang telah membohonginya padahal mereka sudah berada dirumahnya kini.
"Sayang!" Sang ibu segera memeluk Sarani yang terduduk sambil menangis.
"Mah ternyata dia bohong aku sangat membencinya!" ucap Sarani.
"Dia tidak bohong nak ,sekarang mereka ada di ruang tamu menunggu mu sekarang kamu bersiap hapus air matamu dan pakailah sedikit bedak untuk menutupi muka sembab itu, ibu bahagia kamu akan segera mendaoatkan suami." senyum snag ibu mengembang.
"Apa mereka datang Bu? malam hari ini loh!" terkejut Sarani menghapus air matanya.
"Cepatkah kembali bersiap, mereka menunggumu!" Sang Ibu mengelus kepala Sarani.
"Hah!" Saranibm pun beranjak ke kamar mandi dan dandan kembali.
Semua keluarga Ruslan menatao takjub oada Sarani yang anghun dan cantik, bahkan Rualan tidak mengejao dia terlaku terpesona.
"Hey! Mata noh kejep!" Ucap sang Om meledek Ruslan.
"Apa sih Om!" Ruslan akhirnya mengerjap dan masih melihat Sarani yang duduk di kursi.
Sarani dibuat terkejut ternyata papahnya Ruslan adalah papah Elga yang ada di novel itu.
"Apakah ibunya, ibu Ratna yang galak itu?" tanya Sarani dalam hati.
"Nak mereka datang untuk melamarmu untuk Ruslan, untuk keputusan itu semua ayah dan ibu serahkan padamu!" ucap Ayah.
__ADS_1