Transmigrasi Mendadak Jadi Istri

Transmigrasi Mendadak Jadi Istri
Pengantin Pria diculik


__ADS_3

"Siapa namamu?" tanya Sarani pada anak yang di gendongnya itu.


"Aku Rio! Sewaktu mamih tidak sadarkan diri aku dan papih sering mengajak mu bicara walau tidak ada sahutan dari mamih. Tapi aku senang sekarang karena bisa ngobrol sama mamih!" ucap Rio dan memeluk leher Sarani.


"Aku harus menemui seseorang, nanti kita ketemu lagi ya Rio!" Sarani tersenyulalu menurunkan Rio dari gendongannya.


"Maaf karena telah lancang mengenalkanmu sebagai mamihnya!" dokter Ruslan salah tingkah.


"Mungkin ada alasan dokter melakukannya, biar nanti aku meminta penjelasannya! Sekarang aku ingin menemui calon pengantin pria, kebetulan dia adalah temanku!" ucap Sarani seraya tersenyum pada dokter Ruslan.


"Biar aku yang antar, kamu tidak tau di mana ruangannya bukan!" Dokter Ruslan sambil mengndong Rio.


"Hem!" gumam Sarani mengangguk, ajakan dokter Ruslan.


Mereka pun beriringan menuju ruang pengantin, tapi dari arah berlawan mereka melihat dua orang kalang kabut entah apa yang terjadi. Sarani dan dokter Ruslan menghampiri mereka.


"Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Ruslan,pada seorang wanita yang terlihat cemas itu.


"Mempelai pria belum datang sedangkan acara akan segera dimulai!" sahut wanita itu.


"Kok bisa mempelai prianya belum datang, apa kalian sudah menghubunginya atau menghubungi keluarganya?" Tanya Meli, yang terluhat kelelahan karena telah berlari.


Sarani dan domter Ruslan sepontan meluhat Meli, Sarani tentu saja dia menampilkan muka terkejutnya.


"Alenza!" gumam Sarani.


"Akad akan di muali beberapa menit lagi!" ucao wanitabitu membuat semua orang yang berada di sana cemas karena mempelai pria itu belum kunjung datang juga.


"Biar aku temui orang tuanya! Tadi aku melihatnya di depan!" Meli kembali berlari dan tentu saja dengan memakai helsnya.


"Rani tolong gendong dulu Rio!" Dokter Ruslan menitipkan Rio.


"Sini Rio!" Sarani menggendong Rio.

__ADS_1


Setalah itu Ruslan segera merogoh ponselnya dan menghubungi seseorang


"Kamu di mana?" setelah sambungan telepon itu yerhubung Ruslan langsung menanyakan keberadaan orang yang sedang di teleponnya, tentu saja Ruslan tengah menelepon Adam sahabatnya.


"Mau tau apa mau tau banget?" ucap Adam di sebrang sana, dan ternyata dia masih di apartemen sambil menyeruput kopi hangat buatannya sendiri.


Tentu saja itu Adam yang semalam Meli tabrak, tapi Meli tidak mengetahuinya karena yang menyewa WO itu ibu Merry bukan Adam. Dan tidak ada acara prewedding juga.


"Sialan kamu! Kesini sekarang! atau aku kerahkan ornag untuk mencarimu dan membawanya ke sini dengan sudah tidak berdaya lagi!" Ancam Ruslan membuat Sarani dan kru WO itu merinding di buatnya.


"Udah kerahkan saja, gua memang sudah tidak berdaya sekarang!" sahut Adam.


Mendengar ucapan Adam, Ruslan merasa kalau ada masalah yang menimpa sahabatnya itu.


"Kamu di mana, aku akan kesana?" Ucap Ruslan.


"Tidak, aku tidak akan memberitahu mu! Nanti orang-orang di sana akan mengikutimu dna menemukanku!" sahut Adam.


"Ini adalah acara pernikahanmu bersama Sindi. Bukankah Sindi yang selalu kamu inginkan. Sekarang udah mau terkabul malah menolaknya. Apa ada yang salah samapai kamu kabur-kaburan kaya gini kaya bocah aja." Ruslan berjalan menjauh dari sana.


"Waw seperti itu rupanya, kasihan!" ucap Ruslan dengan nada sedihnya.


"Yah, dan kamu bisanya mengejekku sekarang!" sentak Adam dan Ruslan hanya tersenyum menanggapi.


"Dari dulu, aku beritahu! Sekarang baru tau rasa kan! Oke kamu diam saja di sana jangan kemari!" Ruslan menutup sambungan telepon itu lalu berbalik.


"Ya ampun!" terkejut Ruslan karena kini tatapan Sarani dan Rio yang tertuju tajam terhadapnya.


"Sebenarnya ada apa, kenapa dokter Ruslan malah menyuruh untuk tidak datang kemari?" tanya Sarani.


"Anu! Itu!" Ruslan bingung mau bicara apa.


"Kasihan tante Merry dia pasti sudah senang anaknya mau menikah tapi sayang bakalan gak jadi!" lirih Sarani.

__ADS_1


"Mendingan kita duduk di taman deoan gedung itu ada hal yang aku sampaikan kepadamu!" ajak Ruslan mengalihkan pembicaraan.


"Mamih aku mau turun, kasihan Mamih tubuhku berat!" ucap Rio dan Sarani pun menurut. Entahlah setelah bertemu anak itu dia menjadi gemas sendiri pada anak kecil itu.


Sarani menurunkan Rio, lalu kini matanya tertuju pada Ruslan. "Lagian ada hal juga yang harus aku bicarakan sama dokter!"


"Baiklah kita ke taman!" Ruslan memegang tangan Rio dan seketika itu juga Rio memegang tangan Sarani. Mereka seprti keluarga yang bahagia jika orang asing yang melihatnya.


Sedangkan Meli dia tengah cemas karena mempelai pria susah untuk di hubungi. "Bu bagaimana?" tanya Meli.


"Dasar anak itu! Maunya apa sih, padahal ini hari spesial untuknya bahkan hal yang dinanti olehnya. Apa jangan jangan Adam diculik?" bu Merry malah membuat susana menjadi tambah pelik.


"Bagaimana ini kalau Adam di culik! Dia itu anak ku satu-satunya yang paling ganteng!" ucap Bu Merry sambil menitikan air mata dan rasa cemasnya, sedangkan Meli yang mendengar ucapan Bu Merry hanya tersenyim di paksakan.


"Kalau pernikahan ini batal, semua tenaga dan hasil lembur ku terbuang sia sia!" guama Meli dalam hati.


Tanpa disengaja Meli melihat foto Adam yang di tabraknya malam tadi, dia menjadi cemas dan khawatir.


"Apa jangan-jangan dia kembali merasa sakit karena aku tabrak, tapi pagi tadi dia terlihat bugar saat di apartemen. Ah ia dia di apartemen Bu Merry!" seketika mata Meli membulat sempurna. Tanpa permisi Meli begitu saja berlari meninggalkan semua orang yang berada disana menuju apartemen bu Merry.


"Sayang sekali Bu Merru kalau benar benar pernikahan dibatalkan selain uangnya yang ludes sia-sia rasa malu pun pasti dia rasakan pada tamu undangan. Bu Merry sangat baik padaku setidaknya aku harus membuat pernikahan ini tidak di batalkan dan Bu Merry tidak sedih dan malu akan hal ini!" Dia terlalu fokus berlari hingga dia lupa kalau hels yang agak tinggi itu mulai tak seimbang dan akhirnya dia terjatuh.


"Aw!" Meli mengelus pergelangan kakinya yang di rasa sakit karena keselo. Tapi dia tetap berdiri walau tertatih, sandal jangkungnya itu dia jinjing dan kembali lagi dia berlari menujun mobilnya.


Diapartemen Adam sedang asik dengan game dileptopnya, di saat semua orang tengah mencari keberadaannya dan bahkan ibu yanng sampai menganggap dirinya diculik, padahal dia tengah bersenang senang.


Suara deringan ponsel sudah ratusan kali terdengar tapi dihiraukannya oleh Adam, sampai tersengar bel berbunyi Adam menghentikan permainanya dan berjalan menuju layar persegi yang manampakan seseorang yang mengunjunginya.


"Wanita cantik ini ternyata, mau apa dia kemari?" pikir Adam, dia tidak tau kalau Meli merupakan orang yang telah mengatur acara pernikahannya. Dibukanya pintu itu dan Meli mulai menampakan kekesalannya.


"Ternyata kau mempelai pria yang tidak bertanggung jawab itu, semua orang telah mencarimu dan kamu malah enak-enakn di sini. Dimana titik warasmu!" sentak Meli.


"Hah!" Adam malah memasang wajah bingungnya.

__ADS_1


"Dasarrrrr,,,, Ah!"


__ADS_2