
Malam hari yang terang dari cahaya lampu yang menghiasi seluruh jalanan itu, Rio terlihat terdiam duduk di sebuah bangku yang berada di bawah pohon rindang. Rio masih menampakan wajah sedihnya, dia tidak terima kalau Alenza harus melupakan dirinya begitu saja.
Sesekali hembusan nafas berat itu keluar dari mulutnya, hatinya yang begitu kesal dna sakit harus menerima keadaan.
"Dasar abang baso sialan gue bilang cuma beli satu malah di bikinin dua! Jadi double bayarnya, mana lagi ngirit lagi! " suara perempuan menyadarakan Rio, dia pun menoleh kesumber suara.
"Al!" lirih Rio dia terkejut mendapati Alenza tengah mendumel sambil berjalan kearahnya.
"Padahal besok rencananya mau beli paket buat nonton drama, ah gagal sudah! Oh yeo jin goo, nanti gue harus nabung lagi! " keluh Alenza yang semakin mendekati Rio, sedangkan Rio dia terlihat tersenyum mendapati Alenza yang sedang kesal itu.
"Ya ampun! " teriak Alenza lalu menendang kaleng di depannya.
Plukkk
"Aw! " Rio meringis karena kaleng yang ditendang Alenza kena kepalanya. Alenza yang mendengar ringisan itu segera menghampiri Rio.
"Maaf-maaf! " Spontan Alenza memegang kepala Rio, walau sampai sekarang Alenza belum sadar kalau yang dia pegang kepala Rio.
"Panas-panas! " Kembali Rio meringis tapi kali ini dia mengusap pipinya, karena bakso yang di pegang Alenza menyentuh permukaan pipinya.
"Oh kena baso ya, maaf lagi! " Alenza kini mengusap pipi Rio dan pandangannnya menatap wajah Rio, setelah tau orang itu yang dia kenal Alenza segera melepaskan tangannya sambil membualatkan matanya menatap Rio.
"Loe! " pekik Alenza.
"Tega loe ya sama gue! " Rio terus mengusap pipinya.
"Hah gak sengaja jangan lebai kali! " Alenza membuang muka.
"Lagi dong di elus kaya tadi! " Rio tersenyum menggoda Alenza.
"Ogah, gak parah kan gue pergi bye! " Alenza hendak pergi meninggalakan Rio.
__ADS_1
"Tunggu! " Rio menarik tangan Alenza sehingga Alenza yang tidak siap itu limbung dan malah jatuh kepelukan Rio.
Alenza menengadah melihat wajah Rio yang tampan tengah tersenyum padanya, satu tangan Rio melingkar di punggung Alenza dan yang satunya masih menggengam tangan Alenza. Tatapan itu menimbulkan dua hati yang saling bergetar hingga Alenza yang menyadari hal itu menurutnya tidak benar segera menunduk dan mencoba melepaskan diri dari Rio.
"Lepas! " sentak Alenza.
"Dulu kita sering seperti ini Al! " Rio malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Dulu? Kapan dulu? Waktu loe mimpi? Lepas napa sih! Malu di lihat orang! " Alenza kesal hingga dia teringat baksonya yang masih utuh dalam kantong plastik yang dia pegang.
"Al cobalah ingat!" Bisik Rio tepat di telinga Alenza yang membuat Alenza sendiri geli.
"Heh! Loe itu kenapa selalu ngejar gue? Apa yang loe mau dari gue? Masih banyak wanita diluaran sana yang mau sama loe, tapi kenapa loe selalu ngejar gue yang gak cinta sama loe! " Alenza menggoyangkan badannya agar terlepas dari pelukan Rio.
"Loe itu spesial bagi gue! " sahut Rio dan malah membuat Alenza tersenyum mengejek.
"Loe nyamain gue sama martabak, kurang ajar loe! " Alenza mendekatkan bakso yang masih panas itu kekaki Rio.
"Lepasin gue! " kembali Alenza berucap.
"Al dengerin gue dulu, loe lihat gue baik-baik. Kita itu saling mencintai, kita berusaha untuk menetang pelaturan dunia novel ini Al sampai kita mau mengorban diri kita sendiri." Rio menatap harap pada Alenza.
"Akhir-akhir ini loe bicara aneh melulu, apa maksud loe kita ini berada di dunia novel gitu hahaha! Loe gak gila kan?" Alenza malah tertawa mengejek, Rio melepaskan perlahan pekukan itu dengan wajah kecewa menatap Alenza.
"Ini memang ujian cinta kita Al, tapi gue gak akan nyerah! Loe dulu pernah berkorban demi gue sampai novel yang ke empat ini loe masih bersama gue. Entah bagaimana akhirnya hubungan kita, walu kita tidak ditakdirkan bersama maka gue akan selalu bersama loe bagaimana pun caranya! " nada tegas yang dilontarkan Rio membuat Alenza bergidik di tambah lagi dengan tatapan mata yang tajam serta memarah itu.
"Khm, itu terserah loe aja. Gue gak tau apa yang loe bicarakan yang jelas gue memang begini adanya, gue emang gak suka sama loe bahkan loe sendiri tau kan alasannya! Maaf gue harus pulang!" Alenza berlari secepat mungkin agar terhindar dari tatapan Rio yang membuatnya ketakutan.
"Arrrgghhh! " Rio menjambak rambutnya, dia kehabisan akal untuk menyadarkan Alenza dia sudah tidak tahan lagi untuk sangat membenci dunia novel itu.
STAKKKKKK (Masuk alur cerita)
__ADS_1
Rio tiba-tiba saja berada di kelas sambil memegang balpoin dan kertas yang dia gengam di tangannya, sesaat pandangan Rio teralihkan pada Alenza yang tengah fokus mengerjakan soal ulangan itu.
"Loe akan lupa dengan yang gue ucapkan Al, hah dunia novel ini mengejutkan tadi aja malam hari sekarang udah siang hari saja!" Rio menunduk membaca soal bahasa inggris yang gampang menurutnya, dna kembali pandangannya mengarah pada Alenza.
"Dia paling bodoh soal bahasa inggris! " ucap hati Rio terkekeh.
"St st st st" Alenza mencolek lengan Annasya di sampingnya, Annasya merasa ada yang memanggil pun menoleh pada Alenza.
"Apa! " bisik Annasya.
"Nomor emat sampai tujuh apa jawabnnya? " tanya Alenza sambil berbisik.
"Loe ini memang selalu bikin rusuh kalau urusan bahasa inggris!" gumam pelan Annasya walau tidak terdengar oleh Alenza tapi Alenza tau kalau Annasya sedang menghardik dirinya tapi Alenza malah terkekeh menanggapi Annasya.
"Amal-amal! " kembali Alenza berbisik.
"Amal apaan, orang loe mampu juga! ck! " Annasya memberikan secercik kertas berisi jawaban pada Alenza.
"Orang gak mampu menjawab soal Sya! " Alenza terkekeh sedangkan Annasya hanya menggelangkan kepalanya.
Dari kejauhan Rio memperhatikan Alenza, sesekali tersenyum mendapati tingkah konyol Alenza saat meminta jawaban dari Annasya. Kalau boleh Rio akan memberikan semua jawaban pada Alenza hanya saja mungkin Alenza akan menolaknya walau niat Rio baik ingin menolong.
"Al! " Annasya menatap malas pada sahabatnya itu, yang setiap detik minta jawaban.
"Ayo lah Sya! " Alenz amerajuk.
"Kalian yang ada di sana ribut! " sentak Ibu guru, dan semua perhatian pun tertuju pada Annasya juga Alenza.
"Kalau masih ingin melanjutkan ulangannya maka diam, atau ibu akan paksa kalian keluar dari kelas! " peringati sang ibu guru membuat Annasya juga Alenza menggeleng.
Kini suasana kembali ke asal suasan hening kembali meneroa kelas itu walau banyak penghuninya, Annasya sebenarnya dari tadi merasa risih itu bukan karena Alenza yang selalu minta jawaban darinya melainkan Bhadra, dia terus memperhatikan Annasya. Entah kenapa seperti itu, tapi sepertinya ada yang ingin dia bicarakan pikir Annasya.
__ADS_1