
Pemandangan kota oxford yang indah, Sarani dan Ruslan tengah berada di sebuah kampus terkenal dipenjuru dunia yaitu university oxford. Mereka memutuskan ingin berbulan madu ke London.
Tampak gedung yang tinggi dengan bangunan kuno itu, Sarani mengeratkan jaketnya memandang gedung universitas dihadapannya.
"Kita sudah hampir seharian disini, apa kamu belum puas melihat nya?" tanya Ruslan.
"Aku gak jadi menimba ilmu di sini, rasanya memang sangat sedih tapi kalau di pikir lagi jarak yang sangat jauh mengalahkan semuanya. Mereka terlalu menyayangiku termasuk kamu!" ucap Sarani.
"Kamu bisa lanjutkan kuliahmu di tanah air, aku mengizinkannya!" Ruslan memeluk Sarani dari belakang.
"Hem, aku akan melanjutkannya ya minimal cita-citaku yang ingin memiliki leb besar di tanah air harus tercapai!" Sarani memegang tangan Ruslan yang melingkar diperutnya.
"Aku terserah padamu, asal kamu tidak mengabaikanku nantinya!" ucap Ruslan.
"Bagaimana kalau kita pergi ke paris saja sekaranga?" sambung Ruslan bertanya pada sang istri.
"Kenapa harus ganti lokasi?" Sarani malah bertanya balik.
"Aku tidak mau bulan madu kita hanya habis dengan memikirkan cita-cita dan meratapi kesedihan mu karena tidak bisa kuliah disini" sahut Ruslan.
"Udah di sini saja, aku suka London!" ucap Sarani.
"Kalai begitu ayo kita kembali ke mension," ajak Ruslan.
"Hem, pasti papih sedang menunggu kita!" sahut Sarani.
Sarani dan Ruslan pun pergi meninggalakan gedung kampus ternama di dunia itu.
Dengan mobil yang di kendarai oleh Ruslan, mereka akhirnua samaoi di sebuah rumah mewah di kawasan elit. Papah Ruslan merupakan seorang pebisnis handal di beberapa negara termasuk Inggris ini.
"Apa kalian puas jalan-jalan hari ini?" tanya sang papih sambil menggendong Rio.
"Hem, puas tapi membawa kesedihan!" sahut Ruslan.
"Why?" sang papih terkejut.
"Istriku ini sedih karena tidak jadi kuliah di sana," beritahu Ruslan.
"Udah papih tebak karena jauh kan, padahal kalian menataplah di sini biarakan Sarani kuliah!" ucap papih.
"Bagiamana dengaan pekerjaanku di tanah air Pah?" tanya Ruslan.
"Kamu ini, ya modal dong bangun rumah sakit di sini juga! Lagian rumah sakit yang kamu tempati juga punya kamu sendiri kan! Gitu aja kok repot!" sang papih mencium kening Rio yang tertidur di pangkuannnya.
"Pah aku ini satu orang bukan kembar, masih bisa kalau rangkap kerjaannya tapi masih belum bisa klau nanti bolak balik Inggris Indonesia!" alasan Ruslan.
"Ck katanya mau netap di sini kalau sudah nikah?" sindir Sarani menagih ucapan saat hari itu.
__ADS_1
"Beneran mau netap di sini, kalau aku ya is okey nih!" sahut Ruslan.
"Plin plan kamu!" ucap Sarani.
"Yak aku terserah padamu saja, asal kamu bahagia tapi aku mungkin harus cari solusi bagaimana agar pekerjaan ku ditanah air tidak terbengkalai!" Ruslan duduk di bangku depan mansion megah itu.
"Lagian aku kasihan sama ibu dan ayah kalau jauh!" lirih Sarani dan hanya terdengar oleh Ruslan.
"Itu salah satu alasanku sayang! Kalau aku bagaiaman aja dan dimana aja siap!? sahut Ruslan.
"Di dalam yuk, udara makin dingin kasihan Rio!" ajak snag papih yang duluan masuk kedalam.
Sarani dan Ruslan pun menhikuti papih kedalam.
"Aku duluan mandi ya!" ucap Sarani.
"Kita barengan aja gimana?" Ruslan menaik turunkan alisnya.
"Mana bisa barengan-"
"Tuh kamu suka gitu, nolak suami dosa loh!" Ruslan memotong pembicaraan Sarani.
"Tapi pelan ya!" sahut Sarani.
"Pelan gimana, orang mandi bareng doang kok!" Ruslan tersenyum sambil nerjalan dukuan ke kamar mandi.
"Heh, aku tau otak kerikil mu itu mana ia mandi bareng aja!" sahut Sarani.
Sedangkan di tanah air Amelia tengah asik memakan mangga muda.
"Mel udah jangan banyak-banyak!" beritahu Bu Merry, pada menantunya itu.
"Mah ini tuh enak tau!" sahut Amelia.
"Kamu ini, kalau udah sepotong ini udah ya!" Bu Merry meletakan sepotong mangga muda di piring.
"Baiklah!" akhirnya Amelia menurut, karena sebekumnya dia menolak untuk berhenti makan mangga muda.
"Mel!" panggil bu merry pelan.
"Ia Mah!" sahut Amelia pelan juga.
"Kalau nanti si Adam minta sama kamu jangan keseringan, kasihan cucuku mereka masih rawan!" ucap Merry.
"Iya Mah!" Amelia sedikit malu dia pun terlihat menunduk.
"Aku tau dia pasti membuatmu kewalahan kan, karena dia turunan titisan mesum!" Bu Merry sambil menyilangkan kedua tangannya.
__ADS_1
"Hem!" gumam Amelia tentu saja dia juga menyetujui hal yang diucapkan sang ibu mertua itu.
Hingga Adam pun terlihat baru pulang dari kantor.
"Mih dari kapan kesini?" tanya Adam pada Merry.
"Dari pagi, Amel pengin buah mangga yang ada di depan rumah makanya mamih buru-buru kesini nganterin buak buak menantuku ini!" Jawab Merry.
"Oh gitu ya, mamih gak akan nginep kan?" Adam sambil melonggarkan dasinya.
"Emang kalau mamih nginep gimana?" tanya Merry sambil menatap Adam dengan tatapan menyelidik.
"Kasian sama papih gak ada temennya kalau mamih nginep di sini!" sahut Adam.
"Itu alasan kamu aja agar mamih gak gangguin kalian hem, memang sifat papihmu itu turunnya benar-benar mendominasi!" Merry menatap Adam.
"Ck! Mamih ini apa sih mih." Adam duduk di samping Amelia.
"Awas kalau kamu sampai melukai cucu dan mantuku Adam!" ancam Bu Merry.
"Apa sih Mih, ya mana mungkin aku melukai mereka, dia orang yang aku sayang juga!" Adam merangkul bahi Amelia.
"Awas kalau kamu keseringan, mamib akan bawa Amelia ke mension!" Merry dengan bibirnya yang terangkat sebelah.
"Nggak boleh lah Mih!" Adam memeluk Amelia.
"Ish kamu ini, Mamih tau waktu di nikahan Sarani dan Ruslan kemarin kalian juga ikut malam pertama sampai pagi kan! Ngaku kamu!" sentak Merry.
"Ah engga Mih, yang malam pertama mungkin Ruslan dan Sarani tapi bagi kita malam seribu malam!" sahut Adam.
"Adam mamih mohon jangan keseringan, kandungan Amelia masih rawan loh maming gak mau kenapa-nala sama cucu cucu dan menantuku itu!" rengek Bu Merry.
"Ia mih aku ngerti!" sahut Adam.
"Ia bilang sekarang ngerti, mamih tau sifat gen papahmu turun padamu! Awas saja kalu kamu lukai mereka!" Merry menujuk muka Adam.
"Ck mamih ini protektif banget! Ia aku ngerti udah!" Adam mengambil potongan mangga muda itu dari piring uang di pegang ibu Merry.
"Mel, kamu jangan ke rayu sama dia!" Merry menatap Amelia.
"Iya Mih!" sahut Amelia.
"Mamih sudah di telpon sama papih jadi gak jadi nginep kapan-kapan saja mamih akan nginep disini!" Bu Merru berdiri lalu mengambil tas slempangnya di kursi.
"Mih ambil. kue ini!" Amelia menyodorkan kue yang super cantik itu.
"Nggak mamih sengaja bawa kue itu khusus buat kamu!" Merry tersenyum pada Amelia.
__ADS_1
"Udah cepet Mih kalau mau pulang!" ucap Adam.
"Kamu ngusir Mamih, hati-hati Mel dia buas!" sindir Merry pada anaknya itu. Sedangkan Amelia hanya tersenyum menaggapi pertengkaran anak dan mamih itu.