
Sedangkan di apartemen dan masih di luar alur cerita,terlihat Elmanno berbaring di kasur serta Annasya dengan setia berada di sampingnya.
"Hey bangun! Kenapa loe lakukan itu padahal loe tau sendiri akibatnya, dan loe membuat gue merasa bersalah! " Annasya meggoyangkan tangan Elmanno berharap terbangun karena udah beberapa menit dari kejadian di apartemen Stepanie itu dia tidak sadarkan diri.
Annasya memperhatikan ruangan di sekitarnya, warna abu-abu yang mendominasi serta tidak begitu banyak barang pajangan hanya sebuah patung burung elang di atas nakas. Annasya menghampiri nakas dan membuka lacinya berharap ada sesuatu yang bisa membangunkan Elmanno.
"Bahkan di sini tidak ada minyak kayu putih atau semacamnya, apa ciprat aja sama air! " gumam Annasya dan melihat ke arah pintu di dalam ruang kamar itu yang di yakini Annasya kalau itu kamar mandi.
"Baiklah yang penting dia bangun! " Annasya pun berjalan ke kamar mandi lalu balik lagi menghampiri Elmanno dengan segayung air.
"El bangun! El bangun! " Ucap Annasya sambil menyipratkan air kemuka Elmanno tapi tidak ada reakasi apapun darinya.
"Apa aku panggil dokter saja? Tapi kemana dan di mana rumah sakit! Si Rio malah bawa dia kesini b ukannya ke rumah sakit! " geram Annasya hingga pikiran konyolnya itu membuat bibir sebelah kanannya tertarik.
"Ini demi loe juga ya El, bangun ya! " Annasya mengambil kaos kaki Elmanno di dalam sepatu yang tadi di pakainya lalu di masukannya ke gayung yang berisi air itu, di kucek dengan tangan lalu bersiap untuk di cipratkan pada Elmanno.
"Bukan gue tak sopan, hanya saja gue sendang berusaha untuk menyadarkan loe," lirih Annasya.
Annasya mendekatkan tangannya pada Elmanno tapi belum juga airnya di cipratkan tiba-tiba saja mata Elmanno terbuka membuat Annasya terkejut dan takut, karena matanya memerah.
"E e e el! " ucap Annasya gugup.
__ADS_1
Elmanno perlahan menatap Annasya, yang kini tengah menatapnya takut sembari menelan air liurnya susah karena ketakutan.
"Sini! " sentak Elmanno, seperti tengah marah dan matanya tidak kunjung memutih.
"Maaf El, bukan gue kurang ajar sama loe dengan mencampurkan kaos kaki ini untuk membangunkan loe. Hanya saja otak gue udah buntu untuk bisa loe bangun itu gimana? " Annasya terduduk di samping Elmanno yang masih terbaring di kasur itu.
Elmanno tiba-tiba saja menarik tangan Annasya lalu mengecup bibirnya, perlahan mata merah itu memudar dan Elmanno mengangkat wajah Annasya.
"Ada hal penting yang harus aku lakukan, diam lah di sini jangan kemana-mana! " suara berat Elmanno menggema ditelinga Annasya yang kini hanya mengerjap dan terdiam.
Elmanno bangun lalu berjalan keluar dari apartemen itu, Annasya baru mengerjap saat pintu itu tertutup dari luar.
"Ya ampun! Aku hanya diam saja! Dia kenapa? " lirih Annasya.
"Al lakukanlah aku sudah tidak kuat, setidaknya aku tidak akan melupakan mu! " ucap Rio tertatih.
"Rio! " Alenza mulai mendekatkan mukanya ke muka Rio, tapi gangguan tiba-tiba muncul.
"Dengan loe mencium dia, kalian tidak akan bisa mengubah nasib! " ucap Elmanno.
Spontan Alenza mendorong Rio sampai tersungkur ke lantai.
__ADS_1
"Aw! " ringis Rio.
"Maaf! " Alenza menarik tangan Rio agar bangun.
"Ngapain anda ke sini tuan? " tanya Rio setelah berdiri dibantu Alenza.
"Hah tuan? " gumam Alenza.
"Gue tau sekarang dan ingatan gue udah pulih, sekarang loe ikut gue! " Ucap tegas Elmanno.
"Tapi tuan tanganku! " Rio mengodorkan kedua tangannya yang penuh dengan darah.
Prookkkk
"Adaw! " ringis Rio saat Elmanno menepuk kedua telapak tangan Rio.
"Gak usah lebay! " Elmanno melongos begitu saja dari ruang perpustakaan itu.
"Wah dia bisa menyembuhkanmu? Dan tuan? Emang si Elmanno itu siapa sebenarnya? " beberapa pertanyaan dari Alenza membuat Rio menghembudkan nafasnya panjang.
"Nanti aku jelaskan ya sayangku! " Rio mengusap puncak kepala Alenza lalu pergi mengikuti Elmanno.
__ADS_1
"Ih! " Alenza bergidik dibuatnya.