
"Sebaiknya kalian berdua menutup mulut atas apa yang kalian berdua lihat dan dengar hari ini. Untuk Veronica kalian tidak perlu khawatir karena aku yang akan mengurusnya." Tegas Javier Javier pada Bianca dan Sofyan.
"B-baik, kami mengerti." ucap Sofyan gugup, bagaimana tidak Javier berkata sambil menatapnya dengan sangat tajam.
"Kalian bisa pulang, makan malam hari ini di batalkan." ucap Javier dingin.
"Baik, kalau begitu kami permisi." ucap Sofyan lalu segera membereskan barang-barang mereka dan segera pulang.
"Kenapa mengusir mereka?" Tanya Nadine bingung.
"Aku tidak ingin mereka melihat hal ini lebih jauh lagi." ucap Javier sambil menghela nafas kasar.
"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" bisik Nadine sambil menatap Javier bingung.
"Makan malam dengan tenang tentu saja." ucap Javier sambil tersenyum hangat.
__ADS_1
"Ku pikir kau akan mengeksekusi mereka." tambah Nadine sambil melipat tangan di dada.
"Tidak seru menyiksa seseorang yang masih dalam kondisi tidak sadarkan diri. Itu sama saja seperti kita menyiksa patung. Jadi kita biarkan sampai Veronica membaik dulu baru setelah itu kita akan menyiksanya secara perlahan."ucap Javier sambil tersenyum manis.
"Lagipula, bukankah besok adalah jadwal mu menyiksa Alexander. Aku tentu masih ingin menemani mu mengeksekusi mantan suami mu itu. Oya apa mantan mertua mu tidak ingin kau eksekusi juga?" Tanya Javier
"Siapa bilang aku tidak akan membalas mereka, aku akan membalas mereka tapi dengan bentuk penyiksaan yang berbeda."ucap Nadine sambil tersenyum manis. Nadine jadi tidak sabar menunggu hari itu, hari dimana Nadine akan mengembalikan Alexander pada kedua orang tuanya.
"Berbeda?"
"Ya berbeda, aku tidak perlu melakukan apapun pada mereka. Lagipula dengan melihat kondisi putra mereka nanti itu akan menjadi pukulan mental paling dahsyat untuk mereka berdua." ucap Nadine dengan bahagia.
"papa perhatikan sejak tadi kalian terus saja berbisik-bisik" Ucap Justin dengan mata memicing.
"hehehe papa kayak nggak pernah muda aja." Tandas Javier cengengesan, sungguh ekspresi Javier saat ini sangat tidak sesuai dengan fitur wajahnya yang tegas dan badannya yang berotot.
__ADS_1
Sedangkan Nadine yang mendengar percakapan kedua orang itu, Matanya melotot sempurna. Rasanya Nadine sangat ingin menggetok kepala Javier saat ini agar bisa kembali normal, ekspresinya seperti benar-benar menjijikkan menurut Nadine.
"Bagaimana dengan wanita itu? Apa yang harus papa lakukan padanya?" Tanya Justin sambil menunjuk anggun yang masih dalam kondisi terikat di kursi dengan mulut tertutup lakban. Wanita itu sejak tadi terus saja memberontak mencoba melepaskan dirinya. Mungkin wanita itu mulai merasa khawatir tentang dirinya sendiri saat ini.
"Lebih baik kita kurung dia saja di markas Javier pa. Jangan lakukan apapun dulu padanya sampai adiknya itu sembuh dan bisa bergabung dengannya nanti." imbuh Javier sambil menatap sinis anggun yang sudah bersimbah air mata. Tapi sayangnya hal itu sama sekali tidak mampu mengetuk pintu hati Justin dan Javier. Hati mereka sudah terlanjur mati rasa dengan segala kelakuan wanita itu. Javier memang selama ini terkenal jahat dan juga psikopat bagi semua teman dan rekannya di organisasinya. Tapi Javier tidak pernah menyakiti bayi dan juga anak-anak ataupun orang tidak bersalah lainnya. Tapi berbeda dengan anggun, wanita itu bahkan rela memerintahkan orang untuk melenyapkan bayi yang baru saja lahir. Dia juga mampu membunuh anak berusia 8 tahun dengan kejinya terlebih anak itu adalah anak kandungnya sendiri.
"Papa juga bisa ikut Javi nanti pas nyiksa mereka berdua. Pasti akan lebih seru kalau wanita itu lihat dengan mata kepalanya sendiri cowok yang dia cintai justru menyakiti adik yang sangat dia sayangi." ucap Javier sambil menyeringai sinis. Jangan salah dengan metode balas dendam Javier, pria itu terkenal sebagai pria yang tidak memiliki hati bagi para musuhnya. Mungkin dia tidak akan membunuh anggun karena biar bagaimanapun wanita itu sudah Javier anggap sebagai ibunya sendiri, jadi Javier hanya akan merusak mentalnya saja. Lalu biarkan Justin yang mengakhiri kelakuan jahat wanita itu.
"Kalau untuk fisik Javi serahin semuanya sama papa." tambah Javier sambil menepuk bahu sang ayah.
"Oke, kalau gitu biarkan papa nyiksa dia dengan cara papa." ucap Justin sinis.
"Papa nggak apa-apa nyiksa wanita yang papa cintai?" tanya Javier heran
"Cinta papa untuk dia udah mati sejak kamu masih kecil, papa bertahan sama dia tidak lebih karena kamu dan kakak kamu. Kamu pasti tidak lupa kalau sejak lama kami berdua sudah tidak tidur bersama lagi. Hal itu karena rasa kecewa papa sudah begitu besar untuk dia sehingga hal itu mampu mematikan perasaan papa untuk dia." ucap Justin sambil terkekeh miris.
__ADS_1
Jika memutar ingatan tentang bagaimana masa lalu antara dirinya juga anggun, Justin selalu merasa miris karena ketidaktegasan dalam mengambil keputusan. Dulu dia sangat ingin menceraikan wanita itu, tapi setelah kedua anaknya memohon agar mereka tidak bercerai akhirnya Justin luluh. Justin adalah sosok ayah yang sangat mencintai anak-anaknya melebihi dirinya sendiri. Dia juga sebenarnya sangat mencintai anggun kala itu tapi rasa kecewa akibat pembelaan anggun pada Veronica usai Veronica melecehkan putranya membuat respek Justin untuk anggun menjadi hilang. Sebenarnya Justin sama sekali tidak heran lagi dengan anggun yang selalu membela Veronica mati-matian. Karena mengingat hubungan mereka berdua yang bukan hanya sekedar sepasang saudara tiri saja. Melainkan juga sepasang kekasih. Yah, semenjijikan itu anggun dan Veronica. Awalnya Justin tidak mengetahui hal itu, nanti setelah usia pernikahan mereka memasuki 10 tahun barulah Justin mengetahui semua rahasia yang istrinya simpan selama ini. Saat itu Justin pulang ke rumah tiba-tiba Tampa memberitahu sang istri setelah dia 1 bulan di luar negeri untuk mengurus anak cabang perusahaannya yang kala itu di Landa masalah. Tapi bukannya dia yang memberikan kejutan justru dialah yang di beri kejutan oleh istri dan adik iparnya itu. Saat dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana istri dan adik iparnya bercumbu mesra di dalam kamar mereka. Sejak saat itu hubungan Justin dan anggun sudah mulai rusak. Justin terlalu jijik jika harus melakukan hal-hal intim dengan istrinya. Setelah Veronica tertangkap basah melecehkan putranya, Justin sangat marah terlebih saat anggun istrinya sendiri begitu bersikeras membela adik tiri sekaligus selingkuhannya itu. Tapi tentu saja dia membela wanita itu, karena wanita itu adalah sosok yang sangat di cintai oleh istrinya bahkan alasan istrinya itu menikahi dirinya tidak lebih untuk menutupi aib mereka berdua selama ini. Sejak saat itu hati Justin semakin mati rasa untuk anggun, dan hubungan mereka selama ini tidak lebih hanya sebagai orang tua bagi kedua anak mereka. Bukan sebagai suami istri yang saling mencintai, lagipula dari dulu antara anggun dan Justin hanya Justin saja yang mencintai anggun tapi tidak dengan anggun.
Bersambung