
Jika Alexander tengah di landa kepanikan karena bisnis gelapnya. Lain halnya dengan Nadine yang saat ini tengah bersantai sambil menonton dengan bahagia pertunjukan hancurnya bisnis gelap Alexander.
"Itulah akibatnya kalau mengusikku." cibir Nadine sambil memakan pop corn miliknya.
"Ini adalah film action paling menarik yang pernah ku tonton. Ternyata mereka kuat juga, pantas saja Alexander sekaya itu."
"Tapi bukankah akan selalu ada orang yang jauh lebih kuat, dan lihatlah sekarang. Orang yang jauh lebih kuat pada akhirnya akan menjadi pemenang. Kasian sekali kau Alexander, kau selama ini kurang melatih anak buahmu untuk menjadi jauh lebih kuat lagi. Itulah akibatnya jika terlalu sombong, pada akhirnya kesombonganmu itu jugalah yang menghancurkanmu. Aku sebenarnya masih penasaran bagaimana aksi Alexander di medan perang, tapi sayang sekali dia harus terlambat. Bukankah gelar sebagai ketua mafia seharusnya tidak di berikan untuknya. Dia itu terlalu bodoh dan juga lemah. Bahkan melawanku saja dia kalah, ckkk padahal kan aku hanya wanita lemah. Lihat saja tubuhku yang kecil ini, bukankah seharusnya dia mampu mengalahkan aku kemarin."
"Ais pria bodoh, seharusnya kau lemparkan saja pisau di tanganmu itu padanya sebelum dia menembakmu. Apa gunanya kau memegang pisau seperti itu jika tidak di gunakan." Nadine terus saja mengomentari setiap adegan yang di tontonnya di leptop miliknya.
"Ehhhh tembak dia bodoh, kenapa kau malah berceramah seperti itu. Nah kan sekarang malah kau yang harus kena tembak. Ais kenapa anak buah Alexander semuanya bodoh. Eh eh eh tembak dia sekarang tuan botak, ah bodoh kenapa malah kau lengah."
"Gondrong gunakan matamu itu, apakah kau tidak melihat jika di belakangmu itu ada orang yang ingin menembakmu. Jangan hanya fokus pada lawan yang ada di hadapanmu. Dasar gondrong bodoh, eh pria hijau tembak sekarang. Yah, malah kau yang tertembak." Nadine terus berceloteh mengomentari setiap adegan yang dia lihat.
"Tidak sia-sia aku meretas cctv markas Alexander, untung saja markas itu di penuhi cctv jadi aku mudah jika harus meretasnya. Hm bukankah tidak adil jika hanya aku saja yang menonton film menarik seperti ini, baiklah akan ku kirimkan juga Alexander agar dia tau bagaimana bodohnya anak buahnya itu." Dengan semangat yang menggebu-gebu Nadine mengirimkan rekaman cctv markas Alexander pada Alexander. Entah bagaimana respon pria itu saat melihat semua anak buahnya di bantai habis oleh pihak musuhnya.
"Ini baru yang dinamakan film action yang terasa nyata. Jika film ini di tayangkan pasti akan mendapatkan banyak penghargaan." ucap Nadine sambil meminum soda miliknya.
"Yah filmnya habis." ujar Nadine sedikit kecewa.
"Astaga, sudah jam segini. Aku harus pergi menjemput anak-anak." kata Nadine sambil berlari kecil ke kamar mandi. Tidak sampai 10 menit Nadine telah selesai bersiap-siap.
__ADS_1
"Sekarang saatnya menjemput anak-anak manisku itu." Nadine dengan senyum yang terus menghiasi bibir tipisnya berjalan menuju mobilnya. Sepanjang jalan dia bahkan bernyanyi, suasana hati wanita itu sedang sangat baik hari ini.
"Saatnya berangkat." lalu Nadine mulai menjalankan mobilnya. Sepanjang perjalanan menuju sekolah anak-anaknya Nadine terus bersenandung. Sekitar 30 menit akhirnya Nadine sampai juga di sekolah kedua anaknya. Dengan senyum secerah matahari siang, Nadine turun dari mobilnya. Dapat di lihatnya kedua anaknya berdiri di depan gerbang dengan seorang pria.
"Tunggu pria itu bukankah?" Dengan semangat 45 Nadine melangkah ke arah kedua anaknya. Nafasnya memburu saat melihat siapa pria yang sedang bercengkrama bersama kedua anaknya itu.
"Anak-anak." Panggil Nadine dengan senyum palsunya. Moodnya yang sebelumnya bagus kini menjadi buruk saat melihat pria itu.
"Mommy." teriak Alicia dan Arion serentak, Alicia langsung berlari ke arah sang ibu dan langsung menarik tangan sang ibu ke arah teman-teman mereka.
"Teman-teman kenalin ini mommy Cia loh, cantikan mommy Cia. Sama kayak Daddy Cia yang juga danteng." ucap Alicia dengan bangganya memperkenalkan sang ibu. Sedangkan Arion hanya menatap iba sang ibu, anak itu tau kalau sang ibu kini tengah merasa risih akibat ulah adik kembarnya itu. Terlebih Arion juga sangat tau jika ibunya sangat tidak menyukai pria di hadapannya ini.
Tanpa mengatakan apapun, Arion melangkah ke arah sang ibu dan langsung memeluk sang ibu. Arion berharap setidaknya pelukannya dapat mengurangi kekesalan sang ibu.
"Cantik." batin Javier sambil tersenyum manis. Dia bahagia bisa bertemu dengan pujaan hatinya lagi, andai saja dia tidak sibuk pagi tadi. Mungkin dia akan jauh lebih bahagia karena bisa bertemu wanita pujaannya ini 2 kali. Tapi sayang, ada meeting yang tidak bisa dia tinggalkan tadi.
"Aku rasa aku harus mengikuti cara Kevin, agar Nadine mau denganku. Apakah aku bisa meluluhkan hatinya yang sekeras batu itu ya." batin Javier, dia seakan lupa kalau hatinya juga sama kerasnya seperti Nadine.
"Kenapa kau terus tersenyum seperti orang tidak waras?" Tanya Nadine sarkas.
"Aku menatapmu karena kau begitu cantik hari ini." ucap Javier dengan wajah memerah malu. Mendengar hal itu membuat Nadine tercengang, apakah dia baru saja di gombali oleh pria gila ini.
__ADS_1
"kau tau caramu melihatku seperti pria mesum." Balas Nadine dengan senyum penuh ejekan.
Bukannya tersinggung, Javier justru malah tersenyum seperti orang bodoh. Ternyata cinta sudah membuat pria kaku seperti Javier menjadi gila.
"Tidak masalah kau menilaiku sebagai pria mesum tapi."
"Aku hanya akan mesum padamu saja." Bisik Javier sambil tersenyum tipis.
Nadine melotot tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Javier ini memang sudah tidak waras, Nadine merasa harus menjaga jarak sejauh-jauhnya dengan Javier mulai hari ini.
"Anak-anak kita pulang sekarang karena mommy masih ada pekerjaan." ucap Nadine sambil menatap kedua anaknya itu.
"Baik mommy." ucap Arion dan Alicia serentak.
Saat Nadine akan memasuki mobilnya, Javier justru juga mengikuti Nadine sampai ke dalam mobil Nadine. Dengan percaya dirinya pria itu justru duduk di samping Nadine. Melihat kehadiran Javier di mobilnya membuat emosi Nadine kembali meledak.
"KAU, MAU APA KAU DI SINI." Teriak Nadine dengan penuh emosi, kesabarannya benar-benar sudah habis sekarang. Entah kenapa melihat Javier selalu membuat nadine kesal dan marah.
"Jangan marah, itu tidak baik untuk kesehatanmu. Lagi pula bukankah akan aneh jika ayah dan ibu Alicia juga Arion pulang dengan mobil yang berbeda. Kau tidak ingin kan kedua anak kita di ejek karena hubungan kita yang tidak harmonis kan." ucap Javier dengan santainya dia justru memakai seat belt miliknya. Awalnya tadi dia ingin memakaikan Nadine juga seperti yang ada di drama yang di tontonnya semalam tapi seketika nyalinya menciut saat melihat tatapan mematikan Nadine padanya.
"Ayo jalan sayang."
__ADS_1
Bersambung