
Baru saja Javier dan Nadine akan membayar semua belanjaan mereka, keduanya justru di dikagetkan dengan kedatangan seseorang yang sangat tidak ingin Javier temui.
"Wah wah wah, keponakanku rupanya sekarang sudah semakin dewasa dan tampan ya." ucap wanita itu.
"Bibi Veronica." Lirih Javier sambil mengeratkan genggaman tangannya di paper bag yang di pegangnya. Keringat dingin mulai membasahi baju Javier, tubuh tegapnya bergetar hebat. Sepertinya trauma masa lalunya kembali di saat yang tidak tepat.
"Apakah wanita itu yang kau ceritakan waktu itu?" Bisik Nadine sambil menatap wajah Javier yang sudah mulai memucat. Kedua tangan pria itu bahkan sudah mulai mendingin karena ketakutan.
"Hm"gumam Javier lirih
Setelah mengetahui kalau ternyata wanita di hadapannya ini adalah wanita yang sudah menghancurkan mental Javier sampai titik terdalam. Membuat Nadine merasa geram, percayalah sekuat apapun seseorang tapi jika di hadapkan dengan sesuatu yang membuatnya trauma dia pasti akan terlihat lemah dan Nadine bersumpah dia akan melindungi sahabat pria satu-satunya yang dia miliki ini.
"Apakah kau sakit sayang? Kau terlihat sangat pucat." Ucap wanita bernama Veronica itu sambil memegang pipi Javier.
"Jangan pernah menyentuh calon suamiku nyonya." Sarkas Nadine sambil menghempaskan tangan Veronica dengan keras.
__ADS_1
"Tapi aku adalah bibi calon suamimu itu, harusnya kau bisa sedikit lebih menghormati diriku." ucap Veronica dengan suara lantang, sehingga ada banyak orang mulai menatap mereka. Hal itu membuat Javier semakin bergetar ketakutan, melihat kondisi sahabatnya yang mulai tidak kondusif. Nadine lalu menarik Javier untuk bersembunyi di belakang tubuhnya. Sepertinya setelah ini Nadine akan mengajak Javier ke psikiater untuk mengobati mental Javier yang sudah di rusak oleh wanita berpenampilan layaknya badut di hadapannya ini.
"Bibi heh, apakah wanita jahat sepertimu masih pantas di sebut bibi oleh calon suamiku?" Bisik Nadine pada Veronica
"Hiks Javier kenapa bisa calon istrimu itu memperlakukan bibi seperti ini. Apakah karena dia adalah calon istrimu sehingga dia bisa berbuat semena-mena pada bibi yang merupakan adik ibumu ini nak." Lirih Veronica sambil menangis terisak. Sungguh akting wanita tua ini membuat Nadine merasa muak. Nadine heran, kenapa di kehidupannya saat ini ada banyak sekali drama yang di ciptakan oleh orang-orang gila seperti wanita yang katanya bibi dari Javier ini.
"Jika kau ingin berakting, maka aku juga akan berakting sama sepertimu. Kau pikir hanya kau saja yang bisa, aku juga bisa nyonya." Batin Nadine
"Beraninya pelakor sepertimu mengaku-ngaku sebagai bibi calon suamiku. Sedangkan kemarin dengan tidak tau dirinya kau menggoda calon suamiku dengan memasukan bubuk obat perangsang ke dalam minumannya. Andai saja aku tidak datang tepat waktu kau pasti sudah memperkosa calon suamiku saat itu, hiks padahal kau juga seorang wanita sama sepertiku tapi kenapa kau begitu tega ingin menghancurkan kehidupan wanita lain dengan merebut calon suaminya. Kau seharusnya merasa malu, padahal jelas-jelas calon suamiku sudah menolakmu tapi kau terus saja mengejar-ngejar dirinya bahkan sampai melakukan banyak hal buruk untuk menjebak calon suamiku dan sekarang kau justru berakting seolah-olah kau adalah bibi calon suamiku? nyonya kau itu sudah tua seharusnya kau bisa sadar diri, seharusnya kau sekarang melakukan banyak amal baik bukannya malah semakin rajin melakukan dosa dengan menggoda banyak pemuda-pemuda tampan seperti suamiku ini. Jika kau butuh belaian seharusnya kau minta pada suamimu nyonya, bukan malah meminta pada pria lain. Padahal suamimu sangat mencintai dirimu tapi mengapa kau begitu tega menyakiti pria baik itu dengan terus mengejar banyak pria muda dan tampan seperti calon suamiku ini." ungkap Nadine dengan suara lantangnya, sehingga semua orang yang menonton pertunjukan mereka itu amat sangat terkejut. Yang awalnya mereka mencemooh Nadine karena di pikir wanita sombong karena sudah tidak sopan pada bibi calon suaminya sekarang mereka semua berbalik menggunjing Veronica. Mereka mengejek Veronica sebagai wanita murahan dan pelakor.
"Karena wanita ****** sepertimu, suamiku meninggalkan aku." Teriak ibu-ibu lainnya sambil mencakar wajah Veronica hingga membuat wajahnya terluka.
"Wanita sepertimu ini seharusnya di musnahkan dari muka bumi ini, karena peradabannya hanya akan merusak rumah tangga orang lain saja." murka seorang wanita lainnya sambil menarik baju Veronica hingga bajunya sobek bahkan pakaian dalam Veronica sampai terlihat.
"Kau tau karena wanita seperti dirimu, sekarang putriku harus berada di rumah sakit jiwa karena mentalnya di rusak oleh suami dan simpannya." Geram seorang ibu-ibu lainnya sambil ikut menarik baju Veronica akhirnya baju Veronica terlepas dan menyisakan pakaian dalamnya saja. Dia menjadi bulan-bulanan para ibu-ibu di mall dan hal itu membuat Nadine tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Seharusnya kau segera sadar karena usiamu yang sudah nenek-nenek itu, tapi kau masih saja gatal dengan pria wanita lain." murka seorang ibu-ibu sambil menarik bra Veronica hingga terlepas, Veronica berteriak meminta tolong tapi tidak ada yang mau menolongnya. Semua orang bahkan berteriak mengejek dirinya. Veronica benar-benar di telanjangi di muka umum oleh semua wanita yang merasa geram dengan ulah Veronica. Bahkan mereka tidak mau mendengar penjelasan Veronica lagi, apalagi setelah tau kalau ternyata Veronica juga saat ini menikahi suami orang hingga membuat istri sah pria itu tewas karena serangan jantung. Tentu saja hal itu mereka ketahui dari Nadine, membuat mereka semakin kesetanan menghajar Veronica. Penampilan Veronica bahkan sudah tidak lagi terlihat seperti wanita berkelas tapi justru terlihat seperti wanita gembel dengan hanya tinggal memakai ****** ***** karena bra yang di pakainya juga sudah terlepas. Wajah yang di penuhi cakaran, rambut yang bahkan sudah terlihat hancur bagaimana tidak. Ibu-ibu itu menggunting rambut Veronica dengan asal. Rambut panjang kebanggaan Veronica sekarang sudah tidak berbentuk lagi, sebelah kanannya di botak seperti rel kereta api. Sedangkan rambut bagian kiri di gunting asal hingga membuat Veronica seperti wanita yang baru saja lepas dari rumah sakit jiwa. Sungguh ibu-ibu yang sangat bar bar sampai Nadine bahkan merinding saat melihat ulah para wanita itu. Andai saja satpam tidak menghentikan mereka, entah apa yang terjadi pada Veronica.
"Kalian tida bisa main hakim sendiri nyonya nyonya." ucap sang satpam.
"heh pak, bapak tidak tau wanita itu pelakor. Kenapa harus di bela." teriak murka seorang ibu-ibu
"dia membela karena dia seorang pria, mungkin saja dia juga memiliki simpanan maka dari itu dia membela pelakor itu" geram wanita lainnya.
"Sudah nyonya nyonya, lebih baik anda semua segera pulang saja. Biarkan saja pelakor itu di urus oleh pak satpam ini, lagipula dia sudah terlihat sangat mengenaskan." tutur Nadine sambil tersenyum manis.
"Baiklah, kalau begitu kami pergi dulu. Lain kali kalau wanita pelakor itu mengganggu hubunganmu segera lenyapkan saja dia nona, jangan beri ampun." Nasehatnya.
"Baik nyonya."
Lalu semua wanita itu pergi dari sana, semua orang yang berkerumun menonton pertunjukan itu juga sudah di bubarkan. Begitu pula dengan Nadine yang segera membawa Javier pergi dari sana, tentu saja sebelum pergi Nadine membeli laptop terlebih dahulu. Dia harus menghapus vedio cctv d mall tadi, agar Veronica itu tidak menjadikan bukti video itu untuk menghancurkan para wanita yang sudah mempermalukan dirinya tadi.
__ADS_1
Bersambung