
Ting tong.
"Siapa yang bertamu di jam segini." gerutu Javier sambil memakai baju miliknya.
"ckkk, dasar pengganggu." Rutuk Javier kesal.
Javier lalu membuka pintu apartemen miliknya tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang sudah datang bertamu di apartemen miliknya.
''SABAR." Teriak Javier kesal.
"Sia..pa." Javier terkejut saat melihat siapa yang sudah datang ke apartemen miliknya.
"Hai Javier, apakah kau merindukanku sayang?" Tanya wanita itu.
Javier sangat terkejut saat melihat wanita yang datang bertamu di apartemen miliknya itu.
"Mau apa kau kemari?" Tanya Javier sambil berusaha menutup pintu apartemen miliknya. Wajah Javier memucat saat melihat wanita itu.
"Please jangan kambuh sekarang, please." Ucap Javier dalam hati, Javier berusaha untuk menormalkan pernapasannya yang tiba-tiba terasa sesak.
"Jangan menggangguku lagi." geram Javier sambil menatap tajam wanita di hadapannya itu.
Javier mati Matian menahan traumanya agar tidak kambuh, karena jika trauma itu kambuh saat ini sudah di pastikan Javier akan kalah dari wanita itu. Trauma yang di deritanya sejak lama itu, seakan membunuhnya jika sedang kambuh.
Sejak pelecehan seksual yang dia terima dulu, Javier di vonis mengidap PTSD atau biasa di sebut juga dengan Post Traumatic Stress Disorder.
"Pergilah." usir Javier sambil menatap dingin wanita yang tidak lain adalah Veronica. Entah dari siapa wanita itu mengetahui alamat apartemen miliknya, Javier sama sekali tidak tau.
"Oh sayang, bagaimana kau bisa mengusirku sedangkan kita bahkan belum bersenang-senang saat ini. Setidaknya biarkan aku masuk. terlebih dahulu." Ucap Veronica sambil mendorong pintu apartemen Javier.
Javier merasa marah pada dirinya saat ini, bagaimana bisa dia bahkan tidak bisa menahan pintu apartemennya sendiri agar tidak terbuka. Kekuatannya seakan melemah saat trauma sialannya itu kambuh. Javier sangat benci hal itu, tapi mau bagaimana lagi. Selama ini Javier sudah berusaha dengan keras untuk menghilangkan trauma miliknya tapi ternyata tidak semudah itu untuk menghilangkannya.
__ADS_1
"Aku tidak ingin bersenang-senang denganmu, jadi kau bisa pergi sekarang." Ujar Javier, suaranya bahkan sampa tercekat.
Napas Javier mulai terasa semakin sesak, kecemasan mulai melanda dirinya hingga membuat kepalanya bahkan terasa sangat pusing. Keringat dingin mulai membanjiri seluruh tubuh Javier, tiba-tiba Javier teringat semua kenangan kelam yang sudah di lakukan wanita yang berstatus sebagai bibinya itu.
"Kamu nggak boleh kalah, kamu harus kuat Javier. Atau dia akan kembali melecehkanmu, kuatlah ku mohon." Batin Javier.
Dia berusaha keras menyemangati dirinya sendiri walau ketakutan dan kecemasan mulai memenuhi pikirannya. Javier benci hal ini, padahal dia sudah beberapa kali melakukan terapi tapi sepertinya masih belum bisa menyembuhkan depresi yang di deritanya itu.
"Aku harus mengambil obat, yah harus mengambil obat." Ucap Javier lalu mulai melangkah tertatih-tatih meninggalkan Veronica. Javier berusaha keras menuju kamar miliknya, dia harus segera mencari obat anti depresan miliknya. Javier tidak mau karena kondisi lemahnya ini, Veronica justru memanfaatkan dirinya.
"Kenapa lari sayang? Apakah kau takut padaku? Padahal aku hanya ingin memberimu kenikmatan saja." Ucap Veronica sambil terkekeh melihat Javier yang sepertinya ketakutan saat melihat dirinya. Veronica merasa sangat bahagia saat melihat bagaimana reaksi Javier. Entah kenapa Rekasi Javier itu, justru membuat hormonnya semakin naik. Dia ingin segera membawa Javier ke kamar dan menidurinya.
"Aku rindu desahannya." ucap Veronica dalam hati.
Veronica terus melangkah mengikuti Javier ke kamar, vaginanya bahkan sudah terasa basah saat ini. Veronica sudah sangat tidak sabar ingin meniduri Javier.
"Sayang, kau kenapa berlari seperti kesetanan begitu." Tanya Veronica sambil menyeringai
Javier sama sekali tidak peduli dengan teriakan wanita itu, dia terus berjalan memasuki kamarnya.
"Kenapa harus habis di saat yang tidak tepat seperti ini." Gerutu Javier dalam hati.
Kepanikan kian melanda Javier, terlebih saat melihat Veronica semakin berjalan mendekatinya.
"Kenapa kau mundur sayang? kemarilah, agar aku bisa menciummu." Ucap Veronica sambil berjalan menghampiri Javier.
Dengan tangan gemetar, Javier segera mengambil handphone miliknya. Setelah menemukannya, Javier segera menghubungi nomor Nadine. Javier membutuhkan seseorang untuk menolongnya saat ini sebab trauma yang di deritanya ini benar-benar hampir merenggut seluruh kewarasannya.
"Kemarilah sayang." ujar Veronica lalu meraih tangan Javier dan menariknya agar Javier bisa mendekati dirinya.
"LEPASKAN AKU." Teriak Javier murka, bagaimana tidak. Veronica dengan lancangnya langsung mengelus dada Javier. Hal itu semakin menambah kecemasan Javier.
__ADS_1
Di sisi lain, Nadine saat ini merasa sangat terkejut sesaat setelah dia mengangkat telepon dari Javier. Dia justru harus mendengar teriakan histeris Javier.
"Apa yang terjadi padanya, kenapa Javier sampai berteriak seperti itu.," ucap Nadine dalam hati.
"JANGAN MENYENTUHKU, KU MOHON." Nadine kembali mendengar suara teriakan histeris Javier. Hal itu membuat Nadine semakin cemas, semua pikiran buruk mulai memenuhi kepala Nadine saat ini.
Javier adalah pria kuat, jadi tidak mungkin dia bisa berteriak ketakutan seperti itu terkecuali jika wanita yang menjadi sumber trauma Javier itu yang sudah berani mengusik Javier.
"Sial." desis Nadine
"Sepertinya wanita itu ada di sana, mendengar teriakan Javier yang seperti itu aku yakin trauma Javier saat ini sedang kambuh."
"Aku harus ke sana, Javier membutuhkan bantuan saat ini. Aku tidak akan melepaskan wanita iblis itu. Beraninya dia mengusik sahabatku, sepertinya dia mencoba bermain-main denganku. Maka akan ku ladeni kau nyonya Veronica." ucap Nadine dengan tatapan dinginnya.
Nadine berlari menuruni tangga rumahnya dengan tergesa-gesa, pikirannya saat ini hanya tertuju pada Javier. Semoga dia tidak terlambat, semoga wanita iblis itu belum melakukan sesuatu yang buruk pada Javier. Kalau tidak sudah di pastikan trauma yang di derita Javier akan semakin parah. Tidak mudah melawan sebuah trauma akibat pelecehan seksual seperti itu. Sekuat apapun para korban, mereka akan menjadi lemah jika bertemu dengan orang yang sudah memberikan trauma itu.
"Kau mau kemana Nadine." Tanya Oma Dian yang merasa heran melihat Nadine yang berlari melewatinya dengan panik.
"Aku keluar sebentar Oma, Nadine titip anak-anak sebentar." ucap Nadine lalu segera pergi meninggalkan Oma Dian.
Perjalanan yang seharusnya ditempuh dalam waktu 1 jam, bahkan menjadi 20 menit akibat Nadine membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Setelah sampai di gedung apartemen milik Javier, Nadine segera berlari sekuat tenaga menuju unit Javier.
"Sial kenapa harus terkunci, wanita sialan itu sepertinya sudah mempersiapkan semua ini dengan matang." gerutu Nadine sambil memasukan kode apartemen Javier.
Untung saja Javier memberitahunya sandi apartemen miliknya, jadi Nadine tidak begitu sulit untuk membuka pintu itu.
Setelah pintu apartemen Javier terbuka, Nadine segera berlari mencari Javier. Sayup-sayup Nadine mendengar suara teriakan dan sepertinya itu berasal dari kamar Javier. Beruntung kamar Javier tidak di desain kedap suara jadi Nadine bisa langsung tau di mana Javier saat ini.
BRAK
__ADS_1
Nadine menendang pintu itu dengan keras, dengan perasaan marah Nadine segera berlari ke arah Veronica dan langsung menendang wanita itu hingga terpental membentur dinding. Nadine sama sekali tidak peduli apakah wanita itu terluka atau tidak. Saat ini Nadine benar-benar marah terlebih saat melihat kondisi Javier yang terlihat begitu menyedihkan. Javier duduk meringkuk di samping tempat tidur dengan keadaan bibir terluka juga pipi yang membiru. Nadine yakin wanita iblis itu pasti menampar Javier dengan keras. Itulah sebabnya pipi dan bibir Javier sampai terluka seperti itu. Beruntung baju Javier masih utuh, sepertinya dia benar-benar mencoba sekuat tenaga melawan depresi yang di deritanya itu. Nadine bersumpah akan membalas wanita itu hingga wanita itu tidak akan memiliki wajah lagi menghadapi dunia.
Bersambung