
"Aku akan pulang sekarang, hubungi aku jika kedua orang tuamu mengajakmu makan malam nanti. Aku akan ikut denganmu, bukankah sudah saatnya kita membongkar semua kebusukan bibimu itu. Kuatlah Javi, jangan biarkan trauma masa lalumu itu mengalahkan dirimu. Kau harus kuat agar bisa mengalahkan wanita itu, jika kau terus lemah wanita itu akan terus menerus mengganggu hidupmu tidak peduli walaupun aku sudah membongkar semua kejahatannya. Aku harap setelah ini kau mampu mengendalikan traumamu itu agar kau bisa mengeksekusi wanita itu sendiri nantinya. Balas semua rasa sakitmu selama ini Javi, jangan terus-terusan diam. Karena diammu itu hanya akan membuat wanita itu semakin semena-mena padamu." Ucap Nadine sambil menepuk bahu Javier.
"Renungi apa yang aku katakan hari ini Javi, karena tidak mungkin aku akan terus melindungimu dari jeratan wanita itu. Kau harus bisa melawannya sendiri, kau harus tegas untuk masalah yang kau hadapi." setelah mengatakan semua itu, Nadine lalu pergi meninggalkan apartemen Javier.
Sedangkan Javier, setelah kepergian Nadine mulai merenungkan semua yang Nadine katakan padanya tadi. Memang benar apa yang Nadine katakan, jika dia terus-menerus kalah pada trauma itu. Maka dia akan selalu kalah menghadapi wanita itu. Seharusnya dia merasa malu, dia adalah seorang pria tapi justru berlindung di balik punggung seorang wanita.
"Huft, aku benar-benar menyedihkan." lirih Javier, dia merasa miris dengan dirinya sendiri. Bagaimana dia bisa melindungi Nadine jika dia bahkan tidak mampu melindungi dirinya sendiri.
"Aku akan berusaha, aku tidak boleh kalah lagi. Aku akan sangat merasa malu jika Nadine terus menerus melindungi aku jika hal seperti ini kembali terjadi entah dengan bibi Veronica atau dengan wanita yang lain."
"Jika bibi Veronica masih belum berubah saat aku membongkar kebusukannya selama ini, maka aku akan membunuhnya dengan kedua tanganku sendiri." Tekad Javier
Setelah sibuk bermonolog, Javier akhirnya tertidur.
Keesokan harinya..
"Kamu mau keluar?" Tanya Opa Nicholas sambil menatap Nadine dari atas sampai bawah.
"Hari ini cucu opa cantik sekali." Kagum Opa Nicholas sambil tersenyum hangat.
"Apa hari-hari sebelumnya Nadine nggak cantik Opa?" Tanya Nadine sambil menaik turunkan alisnya.
hahahaha
"Kamu selalu cantik setiap harinya, ini ngomong-ngomong mau kemana pagi-pagi udah cantik." Tanya Opa Nicholas sambil tertawa kecil.
"Nadine mau ke cafe Nadine opa, baru setelah itu Nadine akan ke sekolah anak-anak. Katanya ada rapat orang tua murid hari ini." Ucap Nadine pada opa Nicholas.
"Baiklah, hati-hati di jalan."
__ADS_1
"Baik Opa."
Setelah berpamitan, Nadine lalu segera pergi ke cafe miliknya. Nadine hanya ingin melihat sudah berapa jauh progres renovasi cafe miliknya itu. Baru setelah itu dia ke sekolah ke dua anaknya.
"Bagaimana perkembangan renovasinya Gus?" Tanya Nadine pada pria bernama Agus itu.
"Semuanya lancar nyonya, renovasi cafenya sebentar lagi akan segera rampung. Jadi nyonya tidak perlu khawatir." Ucap Agus sopan.
"Baiklah jika seperti itu, sekarang aku pergi dulu. Hubungi aku jika kalian membutuhkan sesuatu."
"Baik nyonya."
Setelah melihat perkembangan renovasi cafe miliknya, Nadine langsung menuju sekolah kedua anaknya. Semoga saja dia tidak terlambat sampai di sana.
Butuh waktu 3 jam setengah untuk bisa sampai di sekolah kedua anaknya. Mengingat jarak dari cafe ke sekolah kedua anaknya yang cukup jauh.
"Berani sekali kau mendorong putriku hingga terjatuh seperti itu. Siapa kau sampai berani berbuat kasar pada putri yang bahkan aku sendiri tidak pernah mengasarinya." Geram Nadine.
Nadine menatap tajam wanita itu, Nadine sangat tidak menyukai jika ada orang yang berani melukai orang-orang yang dia sayangi.
"Cia baik-baik saja?" Tanya Nadine sambil membantu sang putri berdiri. Nadine semakin geram saat melihat memar di pipi sang putri.
"Cia jawab mommy dengan jujur, siapa yang sudah melukai pipi cia sampai memar seperti ini?" Tanya Nadine sambil mengelus pipi Alicia yang tampak memar.
"Jawab mommy cia, jangan diam saja." Tegas Nadine
"Tante Itu yang menampar Cia mommy, maafkan Arion karena tidak bisa melindungi adik." ucap Arion sambil menundukkan kepalanya.
"Angkat kepala kamu sayang, sekarang jelaskan sama mommy apa yang terjadi." Tegas Nadine
__ADS_1
Mata Nadine memicing tajam menatap wanita bertubuh gempal itu.
"Harusnya kamu tanya anak kamu itu apa yang sudah dia lakukan sama anak saya. Berani sekali dia memukul anak saya, saya bahkan tidak pernah menyakiti anak saya. Tapi anak kamu itu, dengan berani menyakiti anak saya."
"Lalu karena anak saya memukul anak anda, anda bisa dengan lancang memukul anak saya?" Tanya Nadine sambil menatap tajam wanita itu.
"Itu adalah balasan karena anak kamu sudah dengan lancang melukai anak saya." Tutur wanita dengan pakaian glamor itu.
Nadine lalu segera menghampiri wanita itu lalu Tampa basa basi Nadine langsung menampar pipi wanita itu dengan keras.
Plak
Plak
"Kalau begitu, anggap saja itu adalah balasan karena anda juga sudah dengan lancang menampar anak saya." Kata Nadine dingin
"Beraninya kau menampar wajahku, apa kau tidak tau siapa aku hah. Aku adalah istri donatur sekolah ini. Aku bisa saja mengeluarkan kedua anak sialanmu itu dari sekolah ini." Murka wanita itu.
"Silahkan keluarkan saja, aku tidak pernah merasa takut padamu. Apakah kau pikir sekolah di negara ini hanya ada satu? Ada sangat banyak sekolah di kota ini nyonya, lagipula percuma sekolah bagus jika tingkat keamanan setiap siswa di sekolah ini nol. Lihat saja, bahkan orang tua siswa saja bisa dengan mudahnya melukai seorang siswi di lingkungan sekolah seperti ini. Terlebih semua guru di sini hanya diam saja sambil menonton pertunjukan tidak bermoral seperti ini. Apakah karena wanita yang dengan lancang melukai putriku ini adalah istri donatur terbesar di sekolah ini? Sungguh aku harus mengatakan jika sekolah ini memiliki mutu terburuk." Geram Nadine
"Anda tidak bisa menyalahkan pihak sekolah seperti ini karena ini murni kesalahan putrimu itu." Tutur wanita itu
"DIAM KAU WANITA GEMUK. Bukankah di sekolah ini ada banyak cctv? Lalu kenapa kalian tidak mengecek cctv itu terlebih dahulu sebelum menghakimi putriku seperti seorang penjahat? Harusnya anda mencaritahu semua kebenarannya terlebih dahulu sebelum bertindak nyonya. Asal anda tau, tindakan anda ini bisa sangat berpengaruh pada perkembangan psikologi Putri saya. Saya bisa saja menuntut Anda atas apa yang sudah anda perbuat pada putri saya hari ini. Dengarkan saya baik-baik nyonya, karena perbuatan dan kesombongan anda ini mungkin bisa menjadi bumerang kehancuran untuk suami anda. Sifat anda terlalu angkuh, anda bahkan dengan tidak manusiawi menyakiti seorang anak. Sekarang ayo kita ke ruang cctv dan lihat apa yang sebenarnya terjadi pada kedua anak kita. Jika putriku terbukti tidak bersalah, jangan salahkan aku jika besok saat kau membuka matamu perusahaan suamimu yang selama ini kau bangga banggakan itu sudah hancur tidak tersisa lagi. Agar kau bisa mengerti cara menghargai orang lain, roda terus berputar nyonya. Tidak selamanya kau akan terus berada di atas dan bisa seenaknya menindas serta menghina orang lain karena statusmu itu." Sarkas Nadine
"Kau, beraninya kau mengancamku." teriak murka wanita itu.
"Itulah sebabnya jangan terlalu suka menindas orang lain, karena jika kau salah menindas orang maka kehancuranlah yang akan kau terima." Bisik Nadine lalu menggandeng tangan kedua anaknya menuju ruang kepala sekolah untuk menyelesaikan masalah yang terjadi hari ini.
Bersambung
__ADS_1