TRANSMIGRASI QUEEN AZURA

TRANSMIGRASI QUEEN AZURA
Bab 36


__ADS_3

" Oma apa mallnya masih jauh?" Ini adalah pertanyaan ke 6 Alicia selama perjalanan mereka ke mall.


"Udah dekat kok, nah itu dia mallnya." ucap Oma Dian.


"Yey akhilna kita sampai juga ya Oma. Oma nanti temenin cia cali Daddy balu ya." Ucap alicia dengan penuh semangat.


"Mau nggak Oma kenalin sama cucu teman Oma? nanti cia bisa pilih yang cocok buat Daddy barunya cia." Tawar Oma Dian sambil tersenyum manis.


"No no no Oma, Cia mau cali sendili calon daddynya. Kata aunty Aya, di mall ada banyak." ucap Alicia sambil menggelengkan kepalanya.


"Ah baiklah." Oma Dian menghela napas pasrah saja mendengar perkataan cicitnya yang satu ini.


"Cia cia dia pikir di mall jualan Daddy apa. Dasar anak-anak." Batin Oma dian sambil menggelengkan kepalanya.


"Oma kenapa geleng geleng? Oma cakit kepala ya?" Alicia menatap Oma Dian khawatir.


"nggak kok sayang, Oma nggak sakit." ucap Oma Dian sambil mengelus pipi chubby Alicia.


"selius Oma? Oma ngga lagi boongin cia kan?" tanya alicia dengan perasaan yang masih merasa khawatir dengan sang Oma.


"Iya sayang."


"baiklah, oma cepeltinya kita udah sampai. mobilnya udah belenti jalan jalan." ucap cia dengan senyum merekah menghiasi bibir mungilnya.


"Yuk kita turun." ucap Oma Dian sambil membuka pintu mobil mereka.


"cayang cekali kak Lion nda mau ikut." ucap Alicia sedikit sedih karena sang kembaran menolak ikut bersama mereka alhasil Alicia hanya pergi berdua saja dengan sang Oma.


"Yuk kita masuk sayang." ucap Oma Dian sambil menggenggam sebelah tangan Alicia.


Alicia tersenyum sumringah sepanjang perjalanan mereka memasuki mall. Akhirnya dia bisa mencarikan Daddy untuk mommy tercintanya.


"Kita beli baju dulu yuk." Ajak Oma Dian.


"no no no Oma, kita cali Daddy dulu." ucap Alicia merasa keberatan dengan saran sang Oma.


"Kita belanja dulu yang lain baru deh habis itu kita cari Daddy. Mungkin aja di perjalanan nanti kita bisa ketemu sama calon Daddy impiannya cia." ucap Oma Dian dengan sabar.


"Beditu ya Oma, baiklah." ucap Alicia sedikit lesu.


"Jangan cemberut dong cicitnya Oma. kalau cemberut begitu cantiknya berkurang. Nanti calon daddynya kabur."


"iya Oma, cia senyum kok ini." ucap Alicia sambil tersenyum lebar sampai matanya menyipit.

__ADS_1


°°°°°°


Sekarang sudah terhitung hampir 3 jam Alicia dan Oma Dian keliling mall tapi Alicia belum juga bisa menemukan calon Daddy untuknya. Semangat yang tadi begitu membara kini mulai meredup.


"padahal kan kata aunty Aya di mall jual banyak daddy tapi kok telnyata tidak ada ya." Ucap Alicia dalam hati, Oma Dian yang melihat sang cicit yang tampak lesu hanya menggelengkan kepalanya saja.


"Oma kita mampil ke situ yuk, capa tau di situ jual Daddy buat Cia." ucap cia sambil menarik tangan sang Oma.


"Tante di sini jual Daddy tidak?" Tanya cia pada seorang wanita yang sedang merapikan beberapa mainan.


"oh di sini jualnya mainan dek, tuh adek bisa pilih aja mau mainan yang mana." ucap wanita itu sambil tersenyum ramah.


"Jadi di sini juga nggak jualan Daddy. Kasian mommy cia." Gumam cia sambil menundukkan kepalanya sedih.


"No aunty cia nggak mau beli mainan tapi cia mau belinya Daddy buat mommy." ujar Alicia sedikit lesu


"oh begitu ya, tapi maaf ya dek di sini nggak jualan Daddy cuma jualan mainan aja." ujar sang wanita sambil tersenyum hangat. Dia sebenarnya merasa heran dengan gadis cilik di hadapannya ini, bagaimana bisa membeli Daddy di toko yang menjual mainan.


"Oma kita pulang aja ya, cia udah capek. Ternyata di mall nggak jualan Daddy." Alicia menatap sang Oma dengan mata berkaca-kaca, Alicia yang malang.


"Iya kita pulang aja yuk, nanti daddynya kita cari di tempat lain aja." ucap Oma Dian sambil mengusap kepala Alicia. Oma Dian merasa sedih melihat cicitnya ini, andai saja memang di mall menjual Daddy Oma Dian pasti sudah membeli satu untuk Alicia agar cicitnya ini bisa bahagia. Lagipula kenapa juga kelaya harus mengatakan bahwa di mall menjual banyak Daddy, itu hanya akan memberikan sebuah harapan palsu saja untuk Alicia.


Tapi saat hendak berbalik Alicia justru menabrak seseorang hingga membuat gadis cilik itu terjatuh.


"huaaa cakit kakinya cia Oma." Alicia menangis histeris saat merasakan perih di lututnya.


"Coba om lihat kakinya, mana yang luka?" Tanya ayah dari anak yang sudah di tabrak Alicia tadi.


"Ni ni uncle, kaki cia melah melah cakit cekali" ucap Alicia dengan dramatisnya.


"Fu Fu Fu, masih sakit? kita obatin kakinya ya, mau kan?"


"Mau uncle danteng." ucap Alicia dengan senyum menghiasi wajah cantiknya.


"Aletha bisa nggak papa minta tolong kamu beliin obat luka sama plaster buat adik kecil ini." Ucap ayah dari Aletha.


"ok Daddy, maaf ya adik kecil. Kakak Aletha nggak sengaja tadi." Ucap Aletha sendu, dia menyesali tingkahnya yang terlalu semangat tadi yang akhirnya justru melukai orang lain. Seharusnya tadi dia mendengarkan kata ayahnya agar tidak berlarian.


"Oma maafin Aletha karena sudah nabrak cucu Oma sampai jatuh ya." sambung Aletha pada Oma Dian.


"nggak apa-apa, lagian Aletha juga nggak sengaja kan tadi." ucap Oma Dian sambil tersenyum hangat.


"Oya kenalin nama aku Aletha Oma terus yang itu Daddy aku namanya Daddy Javier." ucap Aletha sambil menunjuk sang ayah yang saat ini tengah menghibur Alicia agar berhenti menangis.

__ADS_1


"Aletha cepetan beli obatnya." perintah Javier.


"Siap Daddy."


Setelah Aletha pergi Oma Dian menghampiri pria bernama Javier dan juga sang cicit yang saat ini berada di gendongan pria itu.


"Udah ya jangan nangis lagi, lihat mata kamu sampai merah loh. Nanti kalau udah nggak nangis uncle beliin mainan, mau?" tanya Javier mencoba menghibur Alicia


"Makasih ya nak kamu sudah membantu Oma nenangin Alicia." ucap Oma Dian


"Iya nyonya lagipula ini juga karena anak saya yang sudah menabrak cucu nyonya. Atas nama anak saya, saya mohon maaf ya nyonya."


"Tidak apa-apa tuan Javier, namanya juga anak-anak."


"Daddy ini obat lukanya." ujar Aletha dengan napas ngos-ngosan.


"Kamu lari?" tanya Javier dengan mata memicing tajam


"hehehe maaf dad." jawab aletha cengengesan.


"nah sekarang Alicia duduk di sini ya biar uncle bisa obatin kakinya yang luka." ucap Javier sambil mendudukkan Alicia di salah satu kursi.


"Nama aku cia uncle danteng." jawab Alicia sedikit cemberut, padahal Alicia juga adalah namanya. Alicia memang terkadang sulit di mengerti.


"uncle pelut cia bunyi bunyi dali tadi, cia lapal uncle. uncle mau tidak telaktil cia makan di lestolan." Ucap alicia Tampa rasa malu sedikitpun, sedangkan Oma Dian hanya tersenyum canggung menatap cicitnya itu. Entah mirip siapa cicitnya ini, karena sang cucu tidak seperti cicitnya ini.


"Tapi uncle sebelum kita makan makan, cia boleh tanya tidak?" Alicia menatap Javier dengan tatapan berbinar.


"boleh."


"uncle punya istli tidak?" tanya Alicia, Oma Dian yang mendengar pertanyaan cicitnya itu merasa shok. Matanya bahkan sampai melotot tidak percaya, Oma Dian benar-benar merasa sangat malu sekali. Sedangkan Aletha justru tertawa mendengar pertanyaan gadis cilik di hadapan Daddynya itu.


"uncle tidak punya." ungkap Javier sambil mengusap kepala Alicia gemas.


"kalau begitu uncle mau tidak jadi daddynya cia, nikah sama mommynya cia. Mommynya cia juga nggak punya Cuami cekalang. mommy cia itu jomblo uncle, tenang aja uncle mommy cia itu cantik banget loh milip bidadali. Telus mommy cia juga jago masak dan baik hati. Mommy cia senyumnya manis loh uncle ada lesung pipinya. Uncle lihat aja cia, cia cantikan tapi mommynya cia itu lebih cantik lagi. Uncle nggak akan nyesel deh kalau nikah cama mommynya cia. Kak Aletha, kakak mau tidak kalau mommynya cia jadi istlinya daddynya kak Aletha. Nanti mommynya cia bisa jadi mommynya kak Aletha jugaloh. Oma Oma setuju kan kalau uncle danteng jadi daddynya cia?" tanya cia dengan semangat yang menggebu-gebu. Alicia bahkan lupa jika sebenarnya Javier adalah pria yang dulu pernah di hajar ibunya habis-habisan hanya karena di sangka pria mesum.


Mendengar lamaran gadis cilik di hadapannya ini membuat Javier shok tapi juga merasa sedikit lucu. Baru kali ini ada seorang gadis cilik yang melamar dirinya. Sedangkan Oma Dian, jangan di tanyakan lagi. Wajahnya sudah mirip seperti kepiting rebus, dia benar-benar merasa malu sekali. Bagaimana bisa cicitnya ini melamar seorang pria untuk ibunya. Jika Nadine sampai tau hal ini, cucunya itu pasti akan mengomel sepanjang hari.


Sedangkan Aletha, mendengar gadis kecil itu melamar daddynya dia merasa sangat lucu. Daddynya yang sangat anti wanita baru saja di lamar oleh seorang gadis cilik, jika sang Oma mendengar hal ini. Sang Oma pasti akan tertawa terbahak-bahak, tapi Aletha sendiri juga tidak merasa keberatan jika ibu dari gadis cilik itu menjadi ibunya asalkan ibu sadis cilik itu baik hati dan mau menerima dirinya serta daddynya karena sejak dulu Aletha selalu ingin memiliki seorang ibu.


Bersambung


Btw, maaf ya hari ini hanya bisa up 1 kali aja, soalnya author lagi ada kerjaan yang nggak bisa di tinggal di real life author.🤧

__ADS_1


Nanti besok di usahakan bisa doble up kayak biasanya.


__ADS_2