
Nadine merasa sangat kesal menghadapi tingkah Javier, sejak di sekolah kedua anaknya sampai di rumah kelakuan Javier makin menjadi. Pria itu bahkan terus saja berbicara walaupun hanya di tanggapi dengan kata-kata pedas oleh Nadine.
"Mau apa kamu masuk ke rumah saya?" tanya Nadine kesal
"Mau makan siang bareng, kan kamu ajakin tadi." Rasanya Nadine ingin membenturkan kepala Javier ke tembok agar pria itu bisa waras kembali.
"Kapan saya ngajakin kamu makan siang?" Ucap Nadine ketus.
"Tadi waktu di mobil kamu nanya kan, kalian mau makan siang apa. Jadi yah aku anggap itu sebagai ajakan makan siang dari kamu. ngomong-ngomong aku nggak pilih-pilih makanan. Aku makan apa aja yang kamu masak." Ucap Javier dengan senyum manisnya. Tanpa mendengar tanggapan Nadine, Javier segera menggandeng tangan Nadine dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Sepertinya hari ini kesabaran Nadine benar-benar di uji oleh Javier.
"yey Daddy makan siang di sini, Cia seneng." Berbeda dengan sang ibu yang merasa sangat kesal dan tertekan karena keberadaan javier, Alicia justru tampak sangat bahagia. Bukankah dengan begitu keluarga mereka tampak seperti keluarga teman-temannya. Ada ayah dan juga ada ibu di dalamnya.
"Kamu pikir saya kambing kamu serat-serat begini." Marah Nadine.
"Kamu bukan kambing, tapi kamu itu calon istri aku." ucap Javier sambil menyengir lucu, melihat itu bukannya gemas Nadine justru merasa jijik. Sungguh ekspresi Javier itu sangat tidak sesuai dengan wajahnya yang garang itu terlebih dengan tubuh kekar berototnya.
"Kamu yang waktu itu ketemu Oma di mall kan?" Tanya Oma Dian menatap Javier lekat.
"Iya Oma, saya Javier calon suami dari cucu Oma." ucap Javier dengan penuh percaya diri. Nadine yang merasa kesal langsung menyikut perut Javier hingga membuat Javier meringis sakit.
"ssst sakit sayang, kamu kok KDRT sih padahal kan kita belum nikah." ucap Javier
"Siapa juga yang mau nikah sama kamu, mimpi kamu." ketus Nadine langsung melenggang pergi ke dapur. Sungguh berada di dekat Javier lama-lama dia bisa gila. Pria itu memiliki imajinasi di luar nalar, memang siapa yang mau menikah dengannya. Nadine merasa dongkol sendiri menghadapi sikap absurd Javier, Nadine pikir sahabat dan putrinya saja yang sifatnya seperti itu ternyata pria itu juga sama saja.
"Sayang jangan tinggalin aku." teriak Javier sambil berlari mengejar Nadine
Oma Dian yang melihat peristiwa aneh itu cukup tercengang.
"Sayang itu tuan Javier Benedict kan?" tiba-tiba Opa Nicholas menghampiri istrinya yang masih bengong melihat peristiwa ajaib sang cucu dan mungkin calon cucu menantunya itu.
__ADS_1
"Kamu kenal sama Javier?" tanya Oma Dian heran.
"Iya siapa yang tidak mengenal Javier di dunia bisnis. Pria itu sudah menjadi pebisnis terkenal bahkan sejak usianya masih 21 tahun. Saat ini bahkan perusahaan yang di pimpin Javier sudah menduduki urutan pertama di dunia. Tapi kok dia kayak gitu ya." Opa Nicholas sedikit bingung melihat tingkah Javier barusan.
"Kamu serius? aku nggak nyangka loh mas kalau Javier itu orang sehebat itu. Tapi kamu kok kayak heran, kenapa?"
"Sayang kamu tau, Javier itu terkenal bukan hanya karena kesuksesan dalam bisnisnya saja tapi juga karena sikapnya yang dingin, datar tidak tersentuh. Orang-orang sering menjuluki dia sebagai ice prince karena sikap dinginnya itu. Terlebih banyak rumor yang beredar bahwa dia itu anti wanita bahkan ada beberapa yang menyebut kalau dia itu gay." bisik opa Nicholas, mendengar penuturan sang suami Oma Dian sangat terkejut. Bagaimana bisa pria setampan Javier itu gay, dan lagipula kalau memang pria itu gay bagaimana bisa dia memiliki seorang anak.
"Tapi mas bukannya dia punya anak perempuan ya, artinya dia pernah menikah kan."
"Anak itu anak dari saudara tuan Javier, setelah kakak dan kakak iparnya meninggal Javier mengadopsi anak itu sebagai anaknya. Itu bukan berita baru lagi, semua orang sudah tau tentang status anak angkat Javier itu. Kabar yang mas dengar sih, dia itu nggak suka perempuan bahkan banyak juga yang menyebut kalau tuan Javier itu impoten itulah sebabnya dia menolak menikah selama ini." Bisik Opa Nicholas, dia merasa miris dengan nasib pria setampan Javier jika memang gosip yang beredar itu nyata adanya.
Sedangkan orang yang menjadi bahan utama pergibahan Oma dan Opa Nadine, saat ini justru terlihat sangat betah mengganggu Nadine yang tengah memasak makan siang.
Javier terus saja membicarakan banyak hal, dari masalah pekerjaan sampai masalah anak. Nadine yang sudah merasa lelah akhirnya membiarkan pria itu berbicara sesuka hatinya tampa menanggapi perkataan Javier.
"Sayang makanannya kapan jadi?" Lagi-lagi Javier kembali bertanya. Rasanya Nadine sangat ingin memukul kepala Javier dengan sutil yang di pegangnya saat ini.
"Emang suara aku cempreng ya, bukannya banyak orang yang bilang kalau suara aku seksi." pikir Javier
Usai memasak keluarga Nadine akhirnya makan siang.
"Oma setuju nggak kalau Nadine jadi istri aku?" Tanya Javier menatap Oma Dian serius, mendengar hal itu semua sangat terkeju, bahkan Nadine sampai tersedak.
"Astaga sayang, makannya pelan-pelan dong. Ini minum dulu." ucap Javier sambil menyerahkan segelas air minum pada Nadine.
Sungguh Nadine rasanya ingin sekali membunuh Javier saat ini. Nadine merasa amat sangat kesal, bagaimana bisa pria itu langsung menyebut bahwa dirinya adalah calon istrinya.
"uhuk uhuk kau sudah gila." pekik Nadine
__ADS_1
"Yah aku gila karena terlalu mencintaimu sayang." ucap Javier sambil mengedipkan matanya pada Nadine.
"kau.."
"Nadine." tegur Oma Dian, setelah mendapat teguran akhirnya Nadine memilih diam saja. Sungguh kepalanya terasa sakit sekarang bahkan makanan yang di hadapannya itu sudah terasa hambar.
"Maaf nak Javier, tapi bukannya nak Javier itu maaf." Opa Nicholas tidak enak melanjutkan perkataannya. Sungguh Opa Nicholas tidak ingin apa yang terjadi di masa lalu sang cucu kembali terjadi lagi.
Seakan mengerti apa yang akan di ucapkan oleh calon mertuanya itu, Javier langsung menyangga hal itu.
"Saya tau apa yang akan Opa katakan, tapi yang perlu Opa tau saya pria normal. Saya tidak gay apalagi impoten." ucap Javier dengan tegas.
"Tapi berita itu.."
"Dulu saya sengaja bilang kalau saya impoten agar tidak ada satupun wanita lagi yang mendekati saya. Sedangkan rumor yang mengatakan saya gay itu, saya juga tidak tau darimana rumor itu berasal. Sebenarnya saya bukan anti wanita, hanya saja saya jijik dengan semua wanita yang mendekati saya selama ini. Mereka hanya menginginkan kekayaan saya saja itulah sebabnya mereka mengejar saya bahkan dengan tidak tau dirinya melemparkan diri mereka di pelukan saya. Jika saya tidak tegas pada mereka, mungkin saja mereka masih akan terus mengejar saya. Jujur itu sangat mengganggu dan membuat saya risih." Ujar Javier sambil sesekali bergidik ngeri saat mengingat kembali semua wanita yang selama ini berada di sekitarnya.
"Lalu bagaimana dengan cucu saya Nadine, apakah nak Javier menyukai cucu saya?" Tanya Oma Dian penasaran.
"Ya saya menyukai cucu Oma dan Opa, bukan cuma menyukai tapi saya mencintai cucu kalian. Itulah sebabnya saya ingin menjadikan Nadine sebagai istri saya." ucapan tegas Javier membuat Nadine tampak shock.
"Bagaimana saya bisa mempercayai semua perkataan kamu itu? maaf bukannya meragukan tapi sebagai kakek Nadine saya tidak ingin cucu saya kembali di sakiti oleh laki-laki." Opa Nicholas menatap Javier dengan lekat mencari letak kebohongan di mata pria di hadapannya itu.
"Saya sangat serius dengan perasaan saya dan saya berjanji tidak akan menyakiti cucu anda tuan Winata." Tegas Javier.
"Kalau begitu buktikan karena saya belum melihat bukti keseriusan itu. Agar saya yakin menyerahkan cucu saya kepada kamu."
"Anda tenang saja saya akan membuktikan keseriusan saya ini tuan." ucap Javier sambil menatap Nadine dengan senyuman tulusnya.
Opa Nicholas dan Oma Dian dapat melihat pancaran cinta itu di mata pemuda di hadapan mereka itu. Tapi mereka masih menginginkan bukti biar bagaimanapun mereka ingin yang terbaik untuk cucu perempuan mereka.
__ADS_1
Bersambung