
BUK
"INI UNTUK PUTRIKU YANG SUDAH KAU LECEHKAN." Sofyan kembali menendang Veronica.
PLAK
"INI UNTUK PUTRIKU YANG DENGAN TEGA KAU JUAL PADA PARA PRIA HIDUNG BELANG ITU."
BUK
"INI UNTUK CUCUKU YANG DENGAN TEGA KAU BUNUH HINGGA RAHIM PUTRIKU HARUS DI ANGKAT." Sofyan menendang perut Veronica dengan keras hingga wanita itu memuntahkan darah.
Jika dulu, Sofyan tidak akan tega melihat darah di jari Veronica. Maka sekarang rasa tidak tega itu sudah hilang. Hati Sofyan sudah mati rasa, penyesalan demi penyesalan memenuhi kepala pria parah baya itu.
Ternyata dia memang sudah benar-benar gagal sebagai seorang ayah. Dia tidak becuk menjaga putra dan putrinya. Hingga rahim putrinya sendiri di angkat pun dia tidak tau. Ayah macam apa dia, Sofyan rasanya ingin membunuh dirinya sendiri.
"ARGHHHHH." Sofyan berteriak histeris sambil membenturkan kepala Veronica. Keadaan wanita itu benar-benar menyedihkan, bajunya kotor dan rambutnya acak-acakan dengan darah yang mengalir dari pelipisnya. Wajah memar dan bibir yang sobek.
Sofyan berjongkok di depan Veronica, pria itu menangis sejadi jadinya menyesali kebodohannya selama ini.
__ADS_1
"Melati maafkan aku, maafkan aku telah gagal menjaga kedua anak kita. hu hu hu." Sofyan meremas rambutnya kasar, dia menangis tersedu-sedu meratapi semua kebodohannya selama ini.
"Maafkan aku sayang, maafkan suami jahatmu ini. Andai saja aku tidak membawa pulang wanita ****** itu, kau pasti masih hidup saat ini. Kedua anak kita juga tidak akan hancur karena ulah wanita itu. Putri kita kita akan kehilangan rahimnya. Ini semua salahku." Lirih Sofyan sendu, hatinya bagai teriris. Sekarang Sofyan merasa sangat malu menatap putra dan juga putrinya. Dia sudah gagal menjaga kedua buah hatinya itu. Benar kata Nadine, jika saja dia tidak menuruti nafsu binatangnya itu. Keluarganya tidak akan rusak, kedua anaknya akan tetap baik-baik saja saat ini.
"ARGHHH WANITA ******." Teriak Sofyan kembali menendang pinggang Veronica.
"ARGHH PRIA BAJINGAN! BERHENTI MENENDANG ADIKKU SEPERTI HEWAN." teriak anggun histeris, melihat sang ibu yang masih mati Matian membela Veronica hati Javier merasa sangat sakit. Entah siapa yang sebenarnya anak ibunya, dia atau Veronica.
"Ternyata kau masih sama seperti dulu anggun, ternyata adikmu itu jauh lebih berharga di bandingkan kami." ucap Justin dalam hati, dia memandang miris wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu.
Justin heran, entah apa yang sudah wanita itu berikan untuk istrinya sehingga istrinya itu selalu membela wanita itu bahkan mengabaikan putra mereka yang sudah menjadi korban kebiadaban wanita itu. Mungkin memang benar, Justin sebaiknya mengakhiri saja hubungan mereka. Karena percuma hubungan mereka di pertahankan jika jalan yang mereka pilih sudah berbeda.
"Apakah saat wanita jahat itu melecehkan dan melukai putraku dia merasa kasihan padanya? Apakah saat wanita jahat itu memperkosa serta menjual bahkan membunuh janin dari anak sahabatku melati dia memiliki rasa kasian, setidaknya sedikit saja. Tidak anggun, adikmu itu bahkan tidak memiliki sedikitpun rasa kasian pada anak-anak yang sudah menjadi korban kebiadabannya itu. Apa kau tau anggun, setiap kali aku mengingat perbuatan keji wanita itu, rasanya aku ingin membunuh bahkan menguliti wanita itu. Kau terlalu naif dan bodoh anggun. Apa yang kau lihat dari wanita itu sebenarnya? dia hanya sekedar adik tirimu saja, sedangkan Javier adalah putra kandungmu. putra yang kau kandung selama 9 bulan dan kau lahirkan dengan susah payah." lirih Justin sambil terisak, hatinya sakit saat mengingat bagaimana hancurnya keluarganya karena wanita berwajah lugu tapi berhati iblis itu.
"Kau tau Justin, dia adalah adikku satu-satunya. Kau pasti tidak lupa, andai saja bukan karena ibu Veronica. Aku pasti sudah mati sekarang, kau ingat bukan siapa yang sudah mendonorkan jantungnya untukku dulu. Dia ibu Veronica adikku."Tegas anggun sambil menatap tajam Justin.
"Setidaknya balaslah Budi ibu Veronica melalui Veronica. Ku mohon hentikan Sofyan, suruh dia agar berhenti menyakiti adikku. Dia bisa mati Justin." lirih anggun sambil terisak.
"sayangnya aku sama sekali tidak peduli, sekalipun dia akan mati itu bukan urusanku." Sarkas Justin.
__ADS_1
"Javi hentikan pria tua itu sebelum dia membunuh Veronica, tidak baik membiarkannya mati hari ini. Itu terlalu mudah untuknya, kita bahkan belum menyiksanya." bisik Nadine pada Javier, dia tidak bisa membiarkan Veronica mati begitu saja sebelum membiarkan Javier membalaskan seluruh rasa sakitnya selama ini.
"Baiklah." ucap Javier, lalu berjalan menghampiri Sofyan.
Javier segera menahan tubuh Sofyan yang ingin kembali menendang tubuh Veronica yang sudah terkapar pingsan dengan mulut yang di penuhi darah. Semoga saja wanita itu tidak mati setelah mengalami penyiksaan sadis dari suaminya itu.
"Sebaiknya aku mengecek apakah dia masih hidup atau sudah mati." ucap Nadine dalam hati.
Lalu berjalan menghampiri Veronica dan mengecek nadi dan napas wanita itu. Setelah memastikan bahwa wanita itu masih hidup, Nadine segera meninggalkan Veronica. Nadine memandang miris pada wanita itu, andai saja dia bisa menahan hawa nafsunya. Nasibnya tidak akan semenyedihkan ini. Tapi sayangnya wanita itu justru menghancurkan hidupnya sendiri.
"Kenapa kau menghentikan aku." murka Sofyan yang merasa tidak terima perbuatannya di hentikan oleh Javier.
"Anda bisa masuk penjara jika sampai membunuh wanita itu, ingatlah kedua anakmu. Kau bahkan belum menebus semua dosamu pada mereka berdua, lalu kau ingin membuat dirimu sendiri di penjara?" Tanya Javier sarkas, Javier heran dengan pria tua di hadapannya itu.
Baru beberapa menit yang lalu dia mati Matian membela wanita itu, lalu sekarang dia dengan brutal menghajar wanita itu. Benar-benar pria yang plin plan, lagipula apa yang terjadi pada kedua anaknya juga karena perbuatannya juga. Andai saja dia tidak memasukan wanita itu di tengah keluarganya. Hidup kedua anaknya tidak akan sehancur saat ini. Ternyata memang benar jika penyesalan itu selalu hadir terlambat.
Bersambung
Untuk saat ini 2 part dulu ya, semoga sebentar urusan author cepat kelar biar bisa update 1 part lagi.
__ADS_1
SELAMAT MEMBACA 🥰🥰🥰🥰