TRANSMIGRASI QUEEN AZURA

TRANSMIGRASI QUEEN AZURA
Bab 102


__ADS_3

"Kalian bawa wanita ini ke markas, kurung dia di kamar yang biasa aku tempati ketika pergi ke markas. Biarkan dia menikmati hidupnya dulu untuk beberapa hari ke depan. Tidak perlu mengikatnya, cukup kunci saja pintunya dengan rapat dan jaga dia dengan baik. Berikan juga dia makan dan minum agar dia tidak mati, karena dia masih harus tetap hidup untuk menyaksikan bagaimana kematian adik tercintanya itu." ucap Javier menatap sinis anggun.


"Baik bos" ucap anak buah Javier serentak lalu segera membuka ikatan tangan anggun tapi sebelum itu mereka membius anggun dulu agar wanita itu tidak memberontak saat di bawa. Setelah membuka ikatan anggun mereka lalu segera membawa anggun pergi dari sana.


"Sayangnya Veronica bukanlah hanya sekedar adik saja tapi juga kekasih anggun." gumam Justin dengan suara yang seolah berbisik. Justin pikir Javier tidak akan mendengar perkataannya itu, tapi Justin salah karena pendengaran Javier itu sangat tajam hingga dia bahkan bisa mendengar gumaman orang sekecil apapun itu.


"Apa maksud papa? Veronica kekasih mama?" Tanya Javier sambil menatap Justin penasaran. Mendengar pertanyaan Javier sontak Justin menjadi gelagapan sendiri. Dia panik karena ternyata gumamannya itu di dengar oleh sang putra.


"Papa jawab Javi, apa Tante vero itu pacar mama?" Tanya Javier kembali sambil mengguncang bahu sang ayah.

__ADS_1


"Jujur sama Javi pa, jangan sembunyikan apapun lagi." sambung Javier sambil menatap mata sang ayah sendu.


"Iya, Veronica adalah kekasih anggun." lirih Justin sambil memalingkan wajahnya ke samping. Justin seolah tidak ingin menatap mata Javier. Karena ada perasaan malu yang menggerogoti hati pria paruh baya itu.


"Bagaimana bisa Tante vero dan mama." Javier tidak sanggup untuk melanjutkan pertanyaannya, rasanya benar-benar menyakitkan saat mengetahui semua itu.


"Sejak kapan pa?" Tanya Javier dengan mata berkaca-kaca.


"Hingga kekecewaan papa nggak bisa di bendung lagi saat dia membela Veronica bahkan sampai memohon agar Veronica ngga di penjara sedangkan saat itu jelas-jelas Veronica udah melecehkan kamu. Anggun seakan sama sekali nggak peduli dengan kondisi kamu yang saat itu mengalami trauma berat akibat ulah menjijikan Veronica. Saat itu papa sudah benar-benar bulat ingin menceraikan Veronica tapi kamu dan kakak kamu malah menghentikan papa. Kalian berdua bahkan sampai memohon sama papa agar papa nggak menceraikan anggun. Saat itu papa benar-benar dilema, di satu sisi papa udah benar-benar muak sama anggun. Kelakuan menjijikkan dia udah nggak bisa papa tolerir lagi, selama ini papa sembunyikan semua tingkah menjijikkan anggun dari kalian agar mental kalian tidak rusak jika mengetahui jika mama kalian memiliki penyimpangan seperti itu." Imbuh Justin sambil menghapus air matanya, rasanya dadanya benar-benar sesak saat mengingat semua masa lalu menyakitkannya itu.

__ADS_1


"Dan papa nggak jadi menceraikan mama karena aku sama kakak? Papa merelakan kebahagiaan papa untuk aku sama papa." cicit Javier sambil menatap sang ayah sendu, rasanya dia benar-benar sudah berdosa pada ayahnya ini. Begitu besar pengorbanan yang sudah pria paruh baya ini lakukan untuk dirinya juga sang kakak. Bagi Javier sang ayah adalah sosok paling hebat di dunia. Karena saat dia mengalami depresi berat paska pelecehan yang di lakukan Veronica berulang kali padanya. Sang ayah selalu menemaninya menemui psikiater. Ayahnya tidak pernah lelah berjuang untuk kesehatannya. Saat depresinya kambuh, sang ayah bahkan merelakan tubuhnya menjadi samsak bagi Javier untuk melampiaskan semua rasa sakitnya. Sehebat itulah ayahnya, itulah sebabnya Javier sangat menyayangi pria paruh baya ini.


"Bagi papa, kebahagiaan yang sesungguhnya itu adalah saat melihat kedua anak yang sangat papa sayangi bahagia. Papa rela lakuin apa saja agar kedua anak papa bisa tersenyum dan bahagia." ucap Justin sambil mengusap kepala Javier dengan sayang. Jika orang-orang mengatakan cinta ibu sepanjang masa maka bagi Javier justru cinta ayahnya lah yang sepanjang masa. Karena dia sama sekali tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu selama ini.


"Maaf, maafin Javi pa. Maaf karena Javi waktu itu udah paksa papa buat rujuk sama mama." lirih Javier dengan mata berkaca-kaca. Dia amat sangat bersalah pada ayahnya ini. Demi kebahagiaan dirinya dan sang kakak ayahnya rela membuang kebahagiaannya sendiri.


"Sudah jangan sedih, semua apa yang papa putusin dulu adalah yang terbaik. Papa sama sekali nggak pernah nyesel melakukan itu semua. Karena papa bisa melihat senyum bahagia kamu dan kakak kamu. Lagipula kebahagiaan papa itu terletak pada kalian berdua. Selama kalian bahagia maka papa juga akan bahagia." ungkap Justin sambil memeluk Javier dan menepuk-nepuk punggung putranya itu.


"Udah jangan sedih-sedih lagi, ngga malu apa kamu di liatin sama pacar kamu. Ingat loh, pacaran jangan lama-lama. Kalau kalian udah merasa saling cocok, ya udah langsung nikah aja. Dan ingat pesan papa, jangan pernah menyakiti wanita yang menjadi istri kamu. Bahagiakan dia dan selalu jadiin dia sebagai prioritas utama kamu. Jangan pernah sekalipun membuat wanita kamu menangis dan selalu jaga kepercayaan dia dimanapun kamu berada. Ingat batasan kamu dengan wanita lain, juga selalu jujur pada istri kamu tentang apapun yang akan kamu lakukan. Jangan pernah menyimpan rahasia sekecil apapun itu. Kamu ngerti?" Nasehat Justin.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2