TRANSMIGRASI QUEEN AZURA

TRANSMIGRASI QUEEN AZURA
Bab 40


__ADS_3

Sudah satu Minggu sejak pertemuan terakhir Nadine dan Javier. Hidup Nadine sekarang terasa makin tentram dan bahagia tapi sepertinya hal itu tidak di rasakan oleh putri kecilnya yang terus saja uring-uringan karena merindukan Javier.


"Mommy Cia lindu Daddy vil. Mommy telpon Daddy vil, di hp Oma ada nomol teleponnya kakak Aletha. Mommy plis mommy, Cia sudah lindu belat ini. Mommy taukan kalau lindu itu tidak enak, lasanya itu dada Cia itu cecak sampai napas aja Cia huhahuha." ujar Alicia, gadis kecil itu terus saja merecoki ibunya dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Nadine kesal setengah mati. Sepertinya hidup tentram dan nyaman Nadine harus berakhir sekarang karena pria bernama Javier itu. Pria itu sudah benar-benar mencuri hati putri kecilnya ini.


"Mommy kok mommy diam cih, ini Cia lagi culhat loh mommy."Ucap Alicia, gadis kecil itu makin cemberut karena respon ibunya tidak sesuai harapannya.


"Mommy, mommy nda cuka Daddy vil ya? padahal Daddy vil ganteng loh mommy. Daddy vil juga kaya laya, maca mommy tidak cuka sih. Cia aja padahal cuka cama Daddy vil, mommy kata Oma tak kenal maka tak cayang." Alicia terus saja merayu sang ibu, sedangkan sang ibu bahkan hanya menatapnya datar.


"Minum kopi di pagi hari emang paling enak." ujar Nadine sambil menyeruput kopi miliknya.


"Mommy tau Daddy vil juga cuka kopi loh, waktu itu Cia lihat Daddy vil pecan kopi di lestolan. Mommy ayo kita ajak Daddy vil minum kopi sama-sama." Ucap Alicia dengan penuh semangat berharap sang ibu mau mendengarkan keinginan kecilnya itu. Tapi sepertinya harapan gadis kecil itu harus pupus setelah melihat respon yang di tunjukkan ibu cantiknya itu.


"Mommy" Alicia masih saja merengek meminta perhatian ibunya. Tapi ibunya sama sekali tidak memperhatikan dirinya justru ibunya itu masih dengan santai memakan kue dan meminum kopi miliknya. Alicia jadi sebal dengan kopi dan kue itu, karena mereka berdua dia jadi di abaikan oleh ibu cantiknya ini.


"aaaaa mommy tidak cayang Cia lagi." ucap Alicia dramatis.


"Hmm kalau kamu masih aja merengek minta ketemu Daddy vier kamu itu, mommy akan suruh Daddy vier kamu itu buat adopsi kamu terus mommy cari anak baru buat gantiin posisi kamu sebagai anaknya mommy." Ucap Nadine sambil memakan kuenya dengan santai.


Sedangkan Alicia yang mendengar ucapan sang mommy merasa sangat shock, bahkan sampai matanya melotot menatap ibunya itu tidak percaya.


"mommy cakit hati mungilna Cia, oh dada Cia nyut nyut ini mommy. Mommy tegana cama Cia yang cantik ini." Ucap Alicia sambil memegang dadanya dramatis. Nadine yang melihat itu merasa sangat gemas pada putri kecilnya ini.


"uhhhh lucunya anak cantiknya mommy." ucap Nadine sambil mencubit pipi Alicia.


"aaaa mommy Cia cebal ini."

__ADS_1


"Sayang ssstttt jarang berisik dulu."


"ada apa di luar, kenapa sangat ribut sekali." gumam Nadine.


"Kamu di sini saja, mommy mau ke depan dulu." ucap Nadine lalu segera berdiri dan meninggalkan Alicia yang saat ini merasa begitu sedih juga kesal.


Sesampainya di ruang tamu, Nadine di buat terkejut dengan hadirnya Alexander di rumahnya.


"Mau apa lagi cowok gila itu di sini?" Batin Nadine menatap tajam Alexander yang saat ini juga menatapnya dengan penuh senyuman di wajahnya.


"Apa-apaan cowok itu, sepertinya dia memang sudah kehilangan akal seperti mantan istrinya itu sampai dia tersenyum seperti orang gila begitu." gumam Nadine memandang malas pria yang merupakan mantan suaminya itu.


"Nadine sayang, aku dari tadi pengen ketemu kamu tapi mereka semua nggak ngizinin aku buat ketemu kamu." Ujar Alexander memandang Nadine dengan mata berbinar. Hatinya sangat bahagia setelah melihat mantan istrinya yang semakin cantik dan seksi itu. Apakah istrinya itu memang secantik dan seseksi ini sejak dulu, betapa bodohnya dirinya sampai menyia-nyiakan wanita seperti mantan istrinya itu. Tapi mulai sekarang dirinya bertekad akan memperbaiki semuanya dan tidak akan pernah menyakiti wanita yang merupakan ibu dari anaknya itu.


Bagaimana bisa mantan istrinya sekuat itu, Bagaimana bisa Nadine membantingnya semudah itu. Tapi rasanya ternyata begitu menyakitkan sampai tulang punggungnya terasa bergeser.


"Yang sakit banget, kamu kok sekarang jadi kasar sih. Sayang...


"Berhenti memanggilku dengan sebutan menjijikkan itu. Apakah kau tidak merasa malu tuan Alexander. Kita sudah bercerai saat ini, tidak ada hubungan apapun antara aku dan kau. Lalu mengapa anda menyapaku seolah aku masihlah istrimu." Cibir Nadine menatap sinis Alexander.


"Tidak bisakah kita kembali seperti dulu lagi? Saat ini aku dan Sofia juga sudah bercerai. Jadi bisakah.


"Apakah saat ini anda sedang bermimpi tuan Alexander? dan soal kau dan juga Sofia aku sama sekali tidak peduli karena kalian berdua tidak ada hubungannya denganku. Jadi sekarang pulanglah ke rumahmu dan berhenti menggangguku dan kedua anakku." Ucap Nadine


"Tapi aku mencintaimu tidak bisakah kita rujuk kembali?" Tanya Alexander menatap Nadine sendu. Bahkan mata pria itu kini telah berkaca-kaca, dia benar-benar menyesali segala yang terjadi di masa lalunya.

__ADS_1


"Kau mencintaiku? oh astaga tuan William yang terhormat, berhentilah membuat lelucon bodoh di hadapanku. Jika kau memang mencintaiku, seharusnya kau mengatakannya sejak dulu. Sejak aku masih sah sebagai istrimu dan sejak kau belum menduakan aku dengan wanita hina sekelas Sofia. Aku heran, kenapa dari banyaknya wanita kau justru memungut wanita seperti itu sebagai maduku. Tidak bisakah kau memilih wanita yang sedikit berkelas? ah, tapi mungkin wanita sekelas sofialah yang memikat hatimu. Wanita yang pandai memuaskan seluruh hasrat binatangmu itu. Kau tau, terkadang aku mengasihani diriku. Kenapa aku dulu begitu menggilaimu seakan kau adalah pria terhebat di muka bumi ini, padahal kau tidak lebih dari seonggok sampah busuk yang tidak ada nilainya."


"Sofia tapi aku.


"Aku belum selesai berbicara tuan William" sarkas Nadine menatap datar Alexander, sedangkan pria itu masih berdiri kaku di hadapan Nadine. Air matanya bahkan sudah tumpah membasahi lantai rumah Nadine saat ini. Tapi hal menyedihkan itu sama sekali tidak mengetuk pintu hati Nadine.


"Dan anda tadi meminta rujuk padaku?" Tanya Nadine sambil menatap remeh Alexander dan di jawab dengan anggukan kepala oleh pria itu.


"Sayangnya aku tidak tertarik untuk rujuk kembali denganmu. Pantang bagiku memungut sampah yang sudah ku buang. Itu terlalu memalukan dan tidak akan pernah ku lakukan. Jika bisa kita membeli barang baru yang jauh lebih bagus kenapa kita harus memungut barang rongsokan yang sudah kita buang. Satu lagi, aku jijik jika harus bersama dengan pria bekas wanita pelacur sepertimu. Kita tidak tau apakah mantan istri pelacurmu itu sehat atau tidak, bagaimana jika dia memiliki penyakit kelamin menular akibat terlalu sering bergonta-ganti pasangan dan jika ternyata dia memiliki penyakit seperti itu bukankah tidak mungkin penyakit itu juga akan menular padamu. Ah tenang saja, aku sudah memeriksakan diriku ke dokter setelah kita bercerai waktu itu. Aku hanya memastikan saja aku sehat atau tidak karena biar bagaimanapun aku pernah tidur denganmu juga dulu. Kalau di ingat-ingat tidur denganmu adalah pengalaman paling menjijikkan dalam hidupku, bagaimana bisa dulu aku begitu bodoh hingga mau saja tidur dengan pria yang baru saja habis berbagi keringat dengan wanita lain." ucap Nadine sarkas.


"hiks hiks tidak bisakah kau memberiku satu saja kesempatan hmm? aku aku akan memeriksakan diriku, aku.


"Tidak perlu, silahkan tinggalkan rumahku dan jangan pernah datang menemuiku atau kedua anakku lagi. Kami tidak membutuhkanmu dalam hidup kami." sarkas Nadine memandang Alexander penuh ejekan.


"Apakah karena pria itu?" lirih Alexander.


Awalnya Nadine bingung, pria siapa yang Alexander maksud hingga akhirnya nama Javier terlintas di benak Nadine.


"Ya karena dia, kami akan segera menikah jadi berhenti menggangguku." Ucap Nadine lalu berjalan pergi meninggalkan Alexander yang menatap sendu punggung Nadine. Alexander mengepakkan tangannya hingga memutih, hatinya hancur saat mendengar mantan istrinya itu akan menikah.


Sedangkan Nadine menghela napas lelah menghadapi Alexander ternyata cukup menguras tenaganya dia bahkan sampai harus berbohong seperti itu.


Sedangkan di depan pintu, ada sosok pria yang tampak sangat terkejut mendengar perkataan Nadine tadi. Sudut bibirnya membingkai senyum kecil, ternyata tidak sia-sia dia datang ke rumah wanita yang sudah membuatnya sulit tidur itu. Mungkin dia harus segera melamar wanita itu, agar perkataan wanita itu terwujud. Untung saja dia tadi sudah merekam semua perkataan wanita itu, walau awalnya dia hanya iseng saja. Jadi jika seandainya dia melamar dan di tolak bukankah dia tinggal menunjukkan rekaman video itu saja.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2