TRANSMIGRASI QUEEN AZURA

TRANSMIGRASI QUEEN AZURA
Bab 75


__ADS_3

Keesokan harinya, Nadine kembali mendatangi markas Javier untuk melihat Alexander. Dia akan kembali memberikan sebuah hadiah spesial untuk pria itu.


"Apakah Javier ada di sini?" Tanya Nadine pada salah satu anak buah Javier.


"Tidak nona, king Javier tidak berada di sini saat ini." ucapnya.


"Baiklah, ngomong-ngomong siapa namamu?" Tanya Nadine pada pria berambut gondrong itu.


"Nama saya Arnold nona." Jawab pria itu datar.


Entah kenapa Nadine berpikir, di markas Javier ini sepertinya berisi orang-orang berwajah datar semua. Mungkin hanya Kevin dan Bagas saja yang tidak memiliki ekspresi datar.


"Baiklah, antarkan aku ke tempat Alexander. Juga suruh 2 orang pria gay kemarin untuk menemuiku di sana." ucap Nadine


"Baik." Jawab Arnold datar.


Setelah Nadine memasuki ruang bawah tanah tempat Alexander di sekap. Nuansa ngeri mulai terasa, terlebih setelah Nadine melewati sebuah penjara yang terdapat beberapa mayat di sana. Tapi Nadine tidak ingin bertanya, karena itu bukanlah urusannya.


Setelah sampai di tempat Alexander di sekap, Nadine melihat Alexander yang duduk bersandar di tembok. Matanya terpejam, sepertinya pria itu sedang tidur.


"Ckkk, sepertinya tidurnya begitu nyenyak." Decak Nadine sambil melipat tangannya di dada.


"Arnold bisakah ambilkan aku kursi." perintah Nadine pada salah satu anak buah Javier.


"Baik nona." ucap Arnold lalu melangkah mengambilkan kursi untuk Nadine.

__ADS_1


Setelah mendapatkan kursi, Nadine lalu duduk di depan ruang tahanan Alexander sambil menunggu pria itu bangun. Sebenarnya Nadine bisa saja membangunkan Alexander, hanya saja Nadine tidak melakukannya. Nadine ingin memberikan pria itu waktu istirahat yang cukup sebelum dia tidak memiliki waktu istirahat yang tenang setelah ini.


Setelah 30 menit menunggu akhirnya Alexander terbangun juga.


"Arnold, buka pintunya." perintah Nadine pada Arnold.


Mendengar suara Nadine, Alexander langsung membuka matanya. Jujur saja Alexander cukup terkejut dengan kedatangan Nadine. Ada sedikit kekhawatiran di benak pria itu, Alexander sudah bisa menebak jika kedatangan Alexander kali ini pasti memiliki sebuah tujuan.


"Nadine." lirih Alexander sambil menatap Nadine sayu. Hatinya merasa gelisah melihat tatapan mata penuh intimidasi itu. Mata yang dulu di penuhi kabut cinta itu telah hilang di gantikan dengan tatapan mata yang di penuhi dendam dan kebencian.


"Hai Alexander, kau sepertinya sudah bangun. Apakah tidurmu nyenyak?" Tanya Nadine pada Alexander.


"Bisakah kau melepaskan aku dari sini? Aku berjanji tidak akan mengganggu hidupmu dan kedua anak kita lagi. Aku mohon Nadine." ujar Alexander sambil berusaha mendekati Nadine walaupun itu terasa sangat sulit sebab tangan dan kakinya masih di rantai.


hahahaha


"Apa kau bilang tadi? tidak akan menggangguku dan kedua anakku lagi? Kau tau Alex, itu juga adalah janji yang kau ucapkan sesaat sebelum kita bercerai tapi apa yang terjadi selanjutnya. Kau mengingkari janji itu, kau kembali mengusikku dan kedua anakku lagi. 2 kali aku memberimu kesempatan tapi kau menyia-nyiakannya. Kau tetap saja mengusikku dan kedua anakku. Jadi apakah menurutmu aku akan mempercayai ucapanmu saat ini? Jawabannya adalah tidak, aku sudah tidak mempercayai semua janjimu itu Alexander. Karena pada akhirnya kau akan kembali mengingkari semuanya. Lagi pula selalu ada kesempatan kedua tapi tidak akan pernah ada kesempatan ketiga. Jadi sekarang nikmati semua karmamu Alexander." ucap Nadine dengan senyum penuh ejekannya. Nadine sudah terlalu muak dengan pria di hadapannya ini, jadi kini terserah mau dia di katakan jahat sekalipun. Nadine tidak peduli dan tidak akan pernah peduli. Urusan dosa, biar itu menjadi urusannya dan tuhan.


"Arnold, dimana kedua orang yang aku inginkan." tanya Nadine sambil melihat ke arah Arnold.


Mendengar perkataan Nadine, membuat Alexander merasa semakin cemas. Gambaran yang terjadi kemarin terlintas di benaknya. Alexander tidak ingin di perlakukan seperti kemarin lagi, dia tidak Sudi.


"TIDAK LEPASKAN AKU NADINE, AKU MOHON JANGAN LAKUKAN INI LAGI." teriak Alexander, tapi Nadine sama sekali tidak peduli dengan semua teriakannya itu.


"nona ini kedua orang yang nona inginkan. Nama mereka Boy dan Juna." ucap Arnold sambil memperkenalkan pria yang bernama Juna dan Boy itu satu persatu.

__ADS_1


"Baik, Juna dan Boy apakah kalian menyukai pria itu?" Tanya Nadine sambil menunjuk ke arah Alexander yang saat ini terus memberontak berusaha melepaskan ikatannya .


"Aku mohon Nadine, jangan lakukan ini lagi. Aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi, aku akan menuruti semua perintahmu tapi jangan melakukan ini lagi." lirih Alexander sambil menangis tersedu-sedu, dia terlalu takut jika Nadine kembali membuatnya di lecehkan. Tapi Nadine sama sekali tidak peduli dengan semua permohonan itu.


"Puaskan pria itu, layani dia sampai dia merasa puas. Dia sangat menyukai ***, jadi tugas kalian berikan pelayanan paling memuaskan untuknya." ucap Nadine sambil tersenyum manis.


"Baik nona, dengan senang hati." ucap pria bernama Juna itu


"Baik nona, aku janji akan memuaskan pria itu sampai dia tidak akan pernah bisa melupakan aku." ucap pria bernama Boy itu sambil tersenyum mesum ke arah Alexander. Hasrat boy membuncah saat melihat tubuh seksi Alexander yang tampak menggugah selera. Menurut boy Alexander terlalu hot dan seksi, bahkan hanya melihatnya saja sudah membuat bagian bawahnya menjadi tegang.


"Nona bisakah kami ke sana, rasanya aku sudah tidak tahan lagi." ucap boy sambil melihat ke arah selangkangannya yang tampak menggembung.


"Silahkan, Ah ya jangan sampai melukainya oke. Ini kalian bisa membuka rantai yang ada di kaki pria itu tapi tidak dengan kedua tangannya. Jadi kalian bisa puas melayaninya." ucap Nadine sambil menyerahkan 1 buah kunci pada Juna.


"Silahkan menikmati dan selamat bersenang-senang." ucap Nadine lalu mulai mengangkat kursinya sedikit menjauh dari tempat itu. Kali ini Nadine kembali ingin menonton tapi tidak dari jarak dekat seperti kemarin. Kali ini dia ingin sedikit menjauh, rasanya sedikit menjijikan jika Nadine membayangkan percintaan dari ketiga pria itu. Tapi Nadine ingin memastikan bagaimana reaksi Alexander saat kedua pria itu menggagahinya.


"nona ingin menonton percintaan mereka lagi?" Tanya Arnold pada Nadine.


"Ya, aku hanya ingin memastikan reaksi mantan suamiku itu saat egonya di hancurkan oleh kedua pria itu. Kalau kau merasa jijik, kau bisa pergi." ucap Nadine sambil melihat kearah Alexander yang saat ini terlihat sangat mengenaskan. Pria itu terus saja berteriak memohon agar kedua pria itu tidak memperkosanya tapi sepertinya semua itu percuma. Karena kedua pria itu tampak sangat bersemangat.


"Saya akan menemani anda di sini nona." ucap Arnold


Nadine tersenyum melihat pemandangan di depannya sana. Sepertinya mereka cukup bersenang-senang, dengar saja jeritan kenikmatan itu. Sedangkan Arnold merasa merinding melihat itu, Arnold bersumpah dia tidak akan pernah menyakiti istrinya. Ternyata kemarahan seorang istri yang tersakiti itu sangat mengerikan. Arnold jadi merasa kasian pada Alexander, dia sangat tidak beruntung karena sudah salah menyakiti istrinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2