TRANSMIGRASI QUEEN AZURA

TRANSMIGRASI QUEEN AZURA
Bab 64


__ADS_3

"Kau baik-baik saja?" Tanya Javier pada Nadine.


"ckk apa kau melihat apakah aku baik-baik saja? Aku baru saja di lecehkan, bagaimana bisa aku baik-baik saja. Dasar bodoh." Decak Nadine menatap tajam Javier


"Baiklah baiklah, jangan menatapku seperti itu. Kau tampak menyeramkan." ucap Javier sambil melepas ikatan di tangan dan kaki Nadine.


"Tanganmu memerah." lirih Javier,


"huft, si bodoh itu mengikatku dengan sangat kencang." sungut Nadine


"Lalu apa yang akan kau lakukan pada ke sebelas orang itu?" Tanya Javier penasaran


"Yang 10 itu untukmu saja, sisakan saja Alexander untukku. Aku ingin bermain sebentar dengannya."


"Apakah kau akan membunuhnya?"


"Tidak, karena aku bukan seorang pembunuh. Tapi aku akan membuatnya menyesal karena sudah berani berurusan dengannya." ucap Nadine sambil mengusap usap tangannya yang terasa kebas karena di ikat terlalu erat.


"Perlu bantuan?" tawar Javier sambil mengikuti Nadine.


"Kau ingin membantu?" Tanya Nadine sambil menatap Javier.


"Yah, jika kau mengizinkan." ucap Javier sambil mengusap ujung pedangnya dengan lembut.


"Baiklah, kalau begitu hancurkan seluruh markas Alexander Tampa sisa. Agar otak kecil pria bodoh itu bisa sedikit tercerahkan. Agar kelak dia tidak akan pernah meremehkan orang lain lagi." ucap Nadine sambil menatap Alexander yang saat ini terbaring tidak berdaya di lantai.


"Apa dia mati?" Tanya Nadine heran, pasalnya Alexander sejak tadi tidak bergerak sedikitpun tapi kedua mata pria itu terbuka.


"Dia tidak mati, aku hanya membuat seluruh sarafnya tidak berfungsi sementara waktu. Tenang saja, setelah aku memberikan obat penawarnya dia akan kembali seperti semula."


"Baiklah kalau begitu suruh anak buahmu untuk membawa mereka semua ke markas milikmu." ucap Nadine sambil melangkah meninggalkan ruangan yang di penuhi beberapa mayat itu. Sepertinya mereka adalah mayat dari korban-korban Alexander yang lain, pasalnya mereka juga di kurung di dalam penjara sama sepertinya tapi kondisi tubuh mereka sangat memprihatinkan. Sepertinya Alexander lebih dulu menyiksa mereka sebelum akhirnya membunuh mereka semua Tampa sisa.

__ADS_1


"Tunggu aku." teriak Javier berlari kecil menyusul Nadine keluar.


"Kalian di sini?" Tanya Javier pada Kevin, Richard, bagas dan Frans


"Yah, kami menyusul mu karena khawatir mungkin saja kau membutuhkan bantuan kami berempat." Ucap Kevin sambil menyengir saat melihat wajah datar Javier.


"Bagaimana proses pendekatanmu dengannya, apakah sudah ada perubahan?" Tanya Kevin dengan ekspresi wajah menyebalkannya.


"Kami hanya bersahabat." ucap Javier lalu meninggalkan keempat sahabat bodohnya itu.


"Javier kenapa malah meninggalkan kami." sungut Frans kesal


"Lebih baik kalian bantu aku membereskan semua mayat-mayat yang ada di sini." ucap Javier sambil menoleh pada keempat sahabatnya itu.


"Haruskah kami membawa mayat-mayat itu untuk makanan para anak-anakmu?" Tanya Bagas


"Tidak perlu, aku memiliki 10 orang lagi yang akan ku jadikan sebagai makan siang bayi-bayiku itu sebentar." Ucap Javier santai.


"Kalian ledakan saja tempat ini sampai tidak tersisa. Bawa masuk semua potongan mayat yang ada di luar sana ke dalam sini agar semuanya habis tak bersisa. Ah satu lagi, suruh beberapa orang untuk mengamati apinya dari jauh karena takutnya api itu justru akan merambat ke hutan. Kalian pasti tau apa yang harus kalian lakukan selanjutnya." Sambung Javier sambil melanjutkan langkahnya.


"Ada apa king?" Tanya mereka serentak.


"Bawa sebelas orang yang ada di ruang bawah tanah itu ke markas setelah itu kurung mereka di dua penjara yang berbeda dan tentu saja ikat juga tangan mereka. Jangan sampai mereka lecet karena mereka adalah mainanku dan Nadine." Perintah Javier.


"Baik bos."


Javier lalu berjalan keluar markas Alexander dengan santai.


"Pemandangan yang indah." ucap Javier sambil menyeringai kecil saat melihat genangan darah di lantai dengan potongan potongan tubuh orang-orang yang sudah dia bantai tadi. Ada juga yang masih utuh, karena mereka di bunuh oleh anak buahnya dan para sahabatnya. Karena yang hobi memotong itu hanya Javier saja, kalau anak buah serta sahabatnya tidak sesadis itu dalam membunuh musuh-musuhnya.


"Boleh aku tau siapa yang sudah memotong orang-orang itu?" Tanya Nadine sambil bersandar di pintu markas Alexander. Nadine masih mengamati semua korban Javier dengan mata memicing. Seumur hidup baru kali ini Nadine melihat pembunuhan sesadis ini secara langsung. Lagipula dia hanyalah seorang gadis yang berprofesi sebagai petinju profesional saja bukan seorang mafia jadi membunuh bukanlah bidangnya. Selama ini kalau ada yang mengganggunya Nadine hanya akan menghancurkan mental mereka saja bukan menghilangkan nyawa mereka.

__ADS_1


"Jika aku mengatakan bahwa akulah yang sudah memotong mereka, apakah kau akan takut padaku?" Tanya Javier, perasaan khawatir mulai menghinggapi Javier saat ini. Ketakutan ketakutan Nadine akan takut padanya mulai menghantui pikirannya.


"Bagaimana jika Nadine takut, bagaimana jika Nadine menjauhiku setelah ini karena merasa jijik padaku. Apa yang harus aku lakukan." ucap Javier dalam hati, dia mulai merasa frustasi apalagi saat melihat Nadine yang hanya diam saja sambil mengamati semua mayat yang berserakan di lantai itu.


"em Nadine." Panggil Javier lirih.


"Ya." jawab Nadine sambil menoleh pada Javier, Nadine merasa heran dengan tatapan Javier yang seolah ketakutan melihatnya. Bagaimana bisa pemuda itu takut melihatnya sedangkan membunuh sesadis ini saja dia tidak takut dan jijik.


"Apakah kau takut padaku sekarang?" Tanya Javier takut-takut


"Tidak, mengapa aku harus takut? apakah karena kau seorang pembunuh? Tenang saja, aku sama sekali tidak merasa takut apalagi jijik padamu. Aku hanya yah sedikit terkejut saja. Karena aku pikir kau hanya membunuh dengan cara yang biasa saja ternyata kau malah memutilasi mereka semua." ucap Nadine santai


"Benarkah kau tidak merasa takut? kau masih mau berteman denganku kan walaupun kau tau aku adalah seorang pembunuh?" Tanya Javier penuh dengan rasa kekhawatiran di wajahnya.


"Tentu saja, kau hanyalah seorang pembunuh bukan seorang bajingan yang hobi bermain wanita. Jadi kenapa aku harus menjauhimu, aku justru senang berteman denganmu. Kapan lagi aku bisa berteman dengan seorang pembunuh sadis sepertimu. Lagipula melihat wajah dan bajumu yang penuh darah itu justru terlihat **** dan hot dan lagi jika suatu saat aku memiliki musuh licik seperti Alexander bukankah aku tidak perlu susah-susah menyewa seorang pembunuh bayaran. Aku tinggal memintamu saja untuk membasmi mereka tampa sisa." Ujar Nadine sambil tersenyum manis.


"hahaha, kau memang unik Nadine. Jika biasanya para wanita akan menangis ketakutan saat melihat pemandangan mengerikan ini kau justru sama sekali tidak merasa takut." ucap Javier sambil terkekeh kecil.


"Aku sudah biasa melihat pemandangan seperti ini di film, jadi ini bukan masalah buatku. Oya lalu apa yang akan kau lakukan pada sepuluh orang yang ingin memperkosaku tadi?" Tanya Nadine sambil berjalan keluar Markas itu.


"Hanya menjadikan mereka makanan untuk anak-anakku saja." ucap Javier santai


"Aletha memakan daging manusia?" tanya Nadine terkejut.


"Bukan aletha, tapi hewan-hewan peliharaanku. Buaya, harimau, singa dan beruang. Nanti akan ku kenalkan kau pada mereka berdelapan. Mereka sangat manis dan menggemaskan apalagi di saat mereka sedang makan. Mereka juga anak-anak yang gemuk dan sehat."


"Tentu saja mereka akan sehat jika kau memberi mereka makan daging manusia setiap hari." cibir Nadine lalu memasuki mobil Javier


"Ingin pulang sekarang?" Tanya Javier lalu mulai menjalankan mobilnya.


"Kau ingin aku pulang dengan keadaan kita yang seperti ini? Anak-anak bisa-bisa ketakutan saat melihatmu yang di penuhi darah ini terlebih kondisiku yang berantakan seperti ini. Bawa aku di apartemen milikmu, suruh anak buahmu membelikan aku baju ganti. Aku akan menemui keluargaku setelah aku membersihkan diriku." Ucap Nadine sambil membuka kaleng soda yang dia temukan di mobil Javier dan meminumnya dengan santai.

__ADS_1


"Baiklah." Javier lalu mulai menjalankan mobilnya menuju apartemen miliknya. Padahal dulu mereka berdua tidak pernah akur, selalu saja berdebat setiap kali mereka bertemu tapi lihatlah sekarang mereka bahkan terlihat sangat akrab. Mungkin karena saat ini mereka sudah menjadi sahabat. Javier sekarang tidak lagi menginginkan hal lebih pada Nadine, asalkan wanita itu selalu di sisinya dan mau berbicara dengannya seperti ini dia sudah bahagia. Jikalau seandainya suatu saat nanti Nadine membalas perasaan miliknya dia akan merasa sangat bahagia dan akan membuat Nadine menjadi wanita paling bahagia di dunia ini. Javier saat ini hanya bisa berdoa saja.


Bersambung


__ADS_2