TRANSMIGRASI QUEEN AZURA

TRANSMIGRASI QUEEN AZURA
Bab 41


__ADS_3

Setelah pulang dari rumah Nadine, suasana hati Alexander tampak sangat buruk. Pria itu terus di hantui rasa takut bahwa mantan istri dan kedua anaknya membencinya dan tidak ingin mengenal dirinya lagi. Alexander terus merenung memikirkan apa yang harus dia lakukan agar mantan istrinya mau kembali hidup bersama dengannya lagi.


"Sebaiknya ikhlaskan, jangan memaksa seseorang yang sudah tidak menginginkan kamu lagi dalam hidupnya Lex." Nasehat Dany sekertaris sekaligus sahabat baik Alexander.


"Kamu nggak tau Dan, aku cinta sama Nadine" Lirih Alexander.


"Kamu tau Lex, aku bahkan nggak bisa percaya kalau apa yang kamu rasain saat ini itu cinta. Bukannya kemarin saat kebenaran tentang Sofia belum terungkap, kamu selalu bilang kalau Sofia itu cinta sejati kamu. Kamu bahkan menceraikan Nadine untuk Sofia, lalu sekarang tiba-tiba kamu ngomong cinta. Bahkan orang bego pun nggak akan percaya sama kata-kata kamu itu Lex."


"Tau apa kamu Dan, kamu nggak tau apa-apa." kata Alexander dingin.


"Aku akan lakuin apapun untuk membuat mereka kembali sama aku lagi. Kalau cara baik-baik nggak bisa, maka aku akan pakai cara paling licik untuk bisa membuat mereka kembali." lanjut Alexander sambil menyeringai sinis.


"Apa kamu nggak takut makin di benci sama Nadine dan kedua anak kamu?" Tanya Dany sambil menghela napas kasar. Dia benar-benar tidak tau apa yang ada di otak sahabatnya itu.


"Terus sekarang apa yang mau kamu lakuin Lex?" Lanjut Dany menatap Alexander serius, Dany harap Alexander tidak akan memutuskan sesuatu yang gegabah yang hanya akan membuat dia menyesal suatu hari nanti.


"Aku akan rebut kembali Alicia dan Arion, setelah aku berhasil rebut kedua anak itu Aku yakin Nadine pasti akan mau kembali lagi sama aku."


"Terus gimana kalau kedua anak kamu justru nolak kamu Lex?" Dany menatap Alexander cukup penasaran. Dany berharap semoga sahabatnya itu masih di beri kewarasan agar tidak melakukan hal-hal buruk pada kedua anaknya itu.


"Mereka nggak akan pernah nolak aku, karena aku ayah kandung mereka." Ucap Alexander penuh percaya diri.


"Tapi setelah apa yang selama ini kamu lakuin sama mereka, apa kamu yakin mereka masih mau sama kamu?"


Mendengar pertanyaan Dany membuat Alexander marah. Tentu saja kedua anaknya itu tetap akan mau menerima dirinya, tidak ada anak yang akan menolak orang tua kandungnya sendiri bahkan walau orang tua kandungnya itu telah melakukan banyak hal jahat sekalipun.

__ADS_1


"Aku yakin mereka akan tetap mau, kalau mereka tidak mau maka aku akan memaksa mereka berdua agar mau." Ucap Alexander penuh tekad.


"Tapi gimana seandainya mereka nggak mau ketemu bahkan ngomong sama kamu?"


"Maka aku akan culik mereka, terkadang anak kecil takut kalau sedikit di ancam kan." ucap Alexander menyeringai kecil.


"Sebaiknya apapun yang ada di otak kamu saat ini jangan lakuin Lex. Atau kamu benar-benar akan nyesel seumur hidup."


"Kamu tidak perlu ikut campur, saat ini yang perlu kamu lakuin hanya ikutin perintah aku aja. Suruh beberapa orang untuk mengikuti Alicia dan Arion lalu laporkan kegiatan mereka sama aku. Satu lagi, cari tau tentang pria yang akhir-akhir ini dekat dengan anak dan istriku. Kalau sudah, segera singkirkan pria itu. karena aku tidak ingin ada penghalang saat aku ingin mendekati keluargaku. Bukan hanya pria itu saja, tapi semua pria yang mencoba untuk mendekati istri dan kedua anakku sebaiknya segera bunuh mereka." perintah Alexander


Mendengar hal itu, Dany sedikit khawatir. Entah kenapa hatinya sedikit ragu dengan semua ide sahabatnya ini. Tapi dia tidak bisa menolak, karena saat ini posisi dirinya hanyalah seorang anak buah. Dany merasa saat ini yang di rasakan sahabatnya ini bukanlah murni cinta saja tapi sudah merajuk pada sebuah obsesi.


°°°°°°°°


Di sisi lain, sama halnya dengan Alexander. Kegalauan juga tengah di rasakan oleh Javier.


"Kenapa sih Lo Jav? dari tadi garuk-garuk kepala mulu kayak Tarzan." ucap Bagas, dia heran dengan tingkah sahabatnya itu beberapa hari ini. Kadang senyum sendiri kadang dia akan berteriak heboh sendiri, entah apa yang tengah di pikirkan oleh ayah Aletha itu.


"Gas, Lo tau nggak gimana rasanya jatuh cinta?" Tanya Javier menatap wajah Bagas dengan begitu serius.


"Cinta?" Bagas mengernyit bingung.


"Iya cinta, Lo tau nggak?" Tanya Javier sedikit gemas dengan respon sahabatnya ini.


"Gue nggak tau, Lo kan tau kalau gue belum pernah jatuh cinta. Jangankan mau pacaran, dekat cewek aja gue belum pernah. Bagaimana mau dekat sama cewek, kalau setiap hari Lo selalu kurung gue di kantor buat ngurusin berkas-berkas Lo yang segunung itu." Omel Bagas, dia kesal sekali dengan pertanyaan sahabatnya ini. Seolah sahabatnya ini sedang mengejeknya.

__ADS_1


"Huft, gue cuma nanya kenapa Lo malah emosi." sinis Javier, dia saat ini sedang membutuhkan saran tapi sahabatnya yang satu ini malah tidak menanggapi dirinya.


"Kalau Lo mau tau tentang cinta, tanya aja sama Kevin. Dia ahli masalah begituan, mantan pacarnya aja nggak kehitung jumlahnya berapa. Itu artinya dari segi pengalaman dia udah ok banget." Ujar Bagas sambil menyeruput kopinya.


"Tapi gue malu." lirih Javier.


"kenapa harus malu?" Tanya Bagas heran.


"Lo kan tau gimana Kevin, dia bisa aja ngejekin gue kalau gue curhat masalah ini sama dia." Sewot Javier, dia sebal sekali dengan sahabatnya ini.


"Kenapa Lo malah marah ke gue, eh ngomong-ngomong tumben Lo nanyain masalah cinta. Biasanya yang Lo omongin tiap hari hanya masalah kerja sama, tender dan semua yang menyangkut kerjaan kantor."


"Gue juga nggak tau, hanya aja sejak gue ketemu Nadine dia selalu ada di pikiran gue gas. Gue bahkan sampai nggak bisa tidur karena terus mikirin dia, dan kalau ketemu dia rasanya jantung gue degdegan. Gue bahkan sempat mikir kalau gue sakit jantung. Gue udah searching di internet dan katanya itu tanda lagi jatuh cinta. Tapi masa sih gue jatuh cinta sama dia, gue ketemu aja baru 2 kali gas itupun nggak bisa di katain sebagai pertemuan yang baik dan berkesan." curhat Javier.


"Sejak kapan Lo kayak gitu?"


"Sejak Nadine mukul gue di minimarket waktu itu. Awalnya gue pikir kalau apa yang gue rasain itu karena gue kesel sama dia yang udah berani mukul gue. Tapi makin lama perasaan gue makin nggak terkendali. Gue bahkan sampai cari tau semua tentang Nadine diam-diam selam ini, bahkan gue juga sampe retas cctv rumah Nadine hanya buat mantau Nadine aja. Pas gue lihat Nadine ketemu sama mantan suaminya, hati gue rasanya sakit gas. Gue nggak suka Nadine ketemu sama cowok lain." Ucap Javier.


Mendengar hal itu Bagas merasa shock, sahabatnya ini apa sudah gila. Bagaimana bisa dia memata-matai seorang wanita seperti itu. Sahabatnya ini bahkan menggunakan kemampuan meretasnya itu untuk hal-hal tidak berguna seperti ini. Jika semua orang terdekat Javier tau hal ini, akan gempar mereka semua. Seorang Javier yang tidak pernah ingin mengenal wanita kini justru menjadi seorang penguntit.


"Jav Lo nggak retas juga cctv yang ada di kamar Nadine kan?" Tanya Bagas penasaran, rasanya Bagas gemas sendiri melihat sahabatnya ini.


Bukannya menjawab pertanyaan Bagas, wajah Javier justru memerah seperti tomat busuk. Astaga ekspresi macam apa itu, Javier kini sudah berubah menjadi pria mesum.


Bersambung

__ADS_1


Maaf ya hari ini belum bisa doble up, soalnya author lagi sedikit tidak enak badan.🤧


semoga besok udah bisa doble up lagi kayak biasanya☺️


__ADS_2