
"Apakah kau pikir aku akan membunuhmu? sayangnya aku sama sekali tidak berniat untuk membunuhmu Alexander. Aku ingin kau merasakan penderitaan yang bahkan lebih dari penderitaan yang dulu pernah kau berikan padaku. Aku ingin kau merasakan sakit melebihi rasa sakit yang pernah aku rasakan dulu. Aku ingin kau mendapatkan penghinaan melebihi penghinaan yang kau dan seluruh keluarga besar mu lontarkan untukku juga kedua anakku. Jika aku membunuhmu, rasanya begitu tidak adil untukku. Kau sudah memberiku penderitaan selama bertahun-tahun sedangkan kau hanya mendapatkan penderitaan selama beberapa hari saja Oh tentu saja tidak bisa, karena aku ingin kau mengalami penderitaan yang sama lamanya seperti penderitaanku dulu. Jadi selamat menikmati kehancuran mu Alexander, karena apa yang aku lakukan padamu selama beberapa hari ini barulah awal dari penderitaan yang sudah aku janjikan untukmu. Bahkan walaupun kau ingin bunuh diri kedepannya kau tidak akan bisa. Karena aku tidak akan membiarkan mu mengakhiri penderitaan mu ini semudah itu." ungkap Nadine sambil menatap Alexander dingin.
"Maafkan aku, tolong jangan lakukan ini. Bunuh saja aku, ku mohon. Bunuh aku."lirih Alexander dengan air mata yang terus jatuh membasahi pipinya yang kini sudah menirus.
Alexander tidak pernah menyangka jika kebodohannya yang ingin menculik dan melecehkan Nadine untuk kesekian kalinya itu justru menjadi bumerang kehancuran untuknya.
"Maaf Alex, karena permintaan mu itu tidak akan pernah bisa aku wujudkan. Sampai jumpa, aku harus segera pulang sekarang karena hari sudah mulai sore." ucap Nadine lalu segera meninggalkan Alexander tidak peduli dengan Alexander yang terus menerus memanggil namanya. Nadine tetap berjalan lurus Tampa menoleh lagi kebelakang.
"Ayo kita pergi dari sini." ucap Nadine lalu segera melangkah mendahului Javier yang masih menatapnya terpaku.
"ku pikir kau masih ingin menyiksanya." ungkap Javier sambil menatap wajah Nadine yang semakin hari semakin cantik saja.
"tidak, tapi aku tidak janji kalau besok. Mungkin aku akan segera mengakhiri segalanya dalam 2 hari. Aku tidak ingin membuang-buang waktu lagi, terlebih polisi saat ini juga mulai mencarinya."
"Tentu saja polisi akan mencarinya, dia sudah pergi dari rumah selama beberapa hari. Terlebih dia juga tidak izin dulu pada keluarganya. Mereka tentu saja mencemaskan pria bodoh itu." cibir nadine, dia merasa sangat kesal jika mengingat tingkah menyebalkan dari Alexander itu.
"Kau ingin pulang dulu?"
"Yah, aku harus mandi dan berdandan dengan cantik malam ini. Bukankah kita akan segera makan malam dengan orang tuamu. Aku harus tampil maksimal mungkin." ucap Nadine dengan pipi yang
"Baiklah, aku akan menjemputmu setelah kau selesai bersiap-siap."
"aku mengerti."
Lalu Javier segera mengantar Nadine pulang, Nadine harus segera bersiap-siap sebab 3 jam lagi Javier akan menjemput dirinya untuk makan malam di rumah orang tua Javier.
__ADS_1
Rasanya Nadine sudah tidak sabar untuk melihat reaksi yang di tujukan untuk Veronica nantinya.
setelah sampai rumah, Nadine segera mandi dan bersiap-siap. Tidak lupa Nadine juga mencetak semua foto kebersamaan Veronica dengan semua prianya. Anggap saja foto itu sebagai makan pembuka untuk ibu dan juga paman Javier itu.
Setelah Nadine selesai bersiap-siap, nadine segera menghubungi Javier agar pria itu segera menjemput dirinya.
Tidak lama kemudian, Javier datang ke rumah Nadine. Setelah berpamitan, Nadine dan juga Javier segera menjalankan mobil mereka menuju rumah orang tua Javier.
"Kita sudah sampai." ucap Javier lalu segera keluar dari mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk Nadine.
"Silahkan yang mulia" goda Javier pada Nadine
"Ayo" ajak Nadine pada javier.
Setelah memasuki rumah orang tua Javier, Nadine dan Javier mendengar suara tawa yang berasal dari ruang makan. Sungguh Javier rasanya sangat jijik melihat tawa wanita yang sudah pernah menghancurkan hidup Javier dulu.
"Lama tidak bertemu paman"sapa Javier sambil tersenyum tipis.
Javier menatap ibunya dengan tatapan tajam juga kecewa. Javier rasanya tidak percaya, bagaimana bisa ibunya masih saja berbuat baik pada adiknya itu padahal yang di lakukan oleh wanita itu terlalu memikirkan.
"Siapa wanita yang ada d sampingmu itu jav?" Tanya ayah Javier sambil menatap Nadine dengan senyum hangat pada pada wajahnya. Ayah Javier merasa bahagia akhirnya Javier mampu menemukan cinta sejatinya
"Dia adalah calon istriku dad." ucap Javier sambil menatap Nadine
"Maaf aku harus berbohong pada mereka." bisik Javier pada Nadine dan di balas anggukan oleh Nadine.
__ADS_1
"Mau apa kau membawa wanita yang sudah memperlakukan bibimu dengan begitu kejam Javier." Tanya anggun sambil menatap sinis Javier.
Mendengar perkataan sarkas istrinya itu membuat ayah Javier merasa sangat malu pada Nadine. Seharusnya wanita itu sambut dengan baik oleh ibu mertuanya tapi justru ibu Javier malah mencaci makinya.
"Aku justru bahagia jika calon menantuku itu mempermalukan wanita iblis yang masih saja kau anggap adik itu. Jika kau berani berbuat macam-macam pada kekasih Javier, maka jangan salahkan aku jika hari itu adalah hari itu akan menjadi hari terakhir kau menjadi istriku anggun. Tidak peduli bahkan walau aku mencintaimu dengan tulus." ungkap ayah Javier sambil memandang sinis istrinya itu. Rasanya dia begitu muak melihat istrinya yang terus saja baik pada Veronica padahal wanita yang di anggapnya sebagai adik itu sudah menghancurkan hidup putra mereka dulu.
Andai bukan karena cinta, ayah Javier mungkin sudah menceraikan istrinya itu dengan mudah. Tapi sayangnya dia terlalu mencintai istrinya jadi dia memilih untuk tetap bertahan pada akhirnya.
"Tapi Veronica adalah adikku."
"Lalu bagaimana dengan Javier? apakah dia bukanlah putramu?" tanya ayah Javier sarkas, dia merasa muak dengan istrinya yang terus saja membela adik murahannya itu.
"Tentu saja Javier adalah putraku." ucap anggun sambil menatap sang suami.
"Jika dia adalah putramu, kenapa kau masih saja membawa wanita iblis itu di sekitar putraku padahal kau tau apa yang sudah dia lakukan pada putra kita." cibir ayah Javier kesal.
"Tapi bukankah adikku sudah membayar semua kejahatannya itu. Lalu kenapa kau masih belum bisa juga memaafkannya." imbuh anggun dengan mata yang berkaca-kaca.
hahaha
"Sampai matipun aku tidak pernah memaafkan adikmu itu. Andai bukan karena mu, aku mungkin sudah membunuh wanita itu dari dulu." ucap ayah Javier sambil terkekeh sinis menatap istrinya itu.
Ayah Javier merasa kesal dengan istrinya itu, bahkan makan malam ini juga dia sama sekali tidak tau jika istrinya itu mengundang serta adiknya juga. Ayah Javier pikir, hanya keluarga mereka saja yang akan ikut makan malam bersama. Taunya pihak luar seperti Veronica dan suaminya juga ikut makan malam bersama mereka.
Bersambung
__ADS_1
Maaf ya, hari ini cuma bisa up 1 bab saja.
🙏🙏🙏