TRANSMIGRASI QUEEN AZURA

TRANSMIGRASI QUEEN AZURA
Bab 68


__ADS_3

Setelah menyelesaikan pekerjaan mereka, Javier dan Nadine lalu menuju ke markas Javier.


Nadine tidak sabar lagi ingin menemui mantan suaminya itu. Nadine berharap semoga mental Alexander baik-baik saja setelah.


"Inilah akibatnya kalau kau bermain-main denganku Alex. Padahal sebelumnya aku sudah membebaskanmu. Tapi kau sendiri yang mencari masalah denganku. Kini aku tidak akan lagi melepaskanmu, karena bagiku tidak akan ada kesempatan ke 3. Kau terlalu bodoh karena sudah mengabaikan kesempatan ke 2 yang sudah aku berikan untkmu. Andai saja kau menikmati hidupmu tanpa mengusik hidupku kembali, aku yakin hal ini tidak akan pernah terjadi padamu." Ucap Nadine dalam hati.


"Aku kasihan padamu Alexander William, dari semua wanita di dunia ini kenapa kau justru memilih Nadine sebagai lawanmu. Mantan istrimu ini terlalu mengerikan. Aku pikir hanya Javier saja yang tidak memiliki hati, ternyata wanita yang dia cintai juga sama sepertinya. Mungkin inilah yang di namakan jodoh adalah cerminan diri sendiri." Batin Bagas, dia masih membayangkan bagaimana Nadine menghancurkan organisasi Javier hanya dalam waktu 3 jam saja. Mungkin kedepannya Bagas tidak akan pernah berani macam-macam pada Nadine. Ternyata wanita itu menyembunyikan sifat Badasnya di balik wajah polos nan lugunya itu.


"Ada apa denganmu? Aku perhatikan sejak tadi kau terus menatap aku dan Nadine. Apakah kau memiliki sesuatu yang ingin kau katakan pada kami?" Tanya javier, dia merasa heran dengan sahabat sekaligus sekertarisnya itu. Sejak mereka meninggalkan perusahaan, dia terus saja menatap ke arahnya lalu setelahnya menatap ke arah Nadine lagi.


"Tidak, aku hanya berpikir kalian adalah pasangan yang serasi. Sama-sama menakutkan dan sama-sama tidak memiliki hati." ucap Bagas jujur.


"Jadi menurutmu aku tidak memiliki hati?" Tanya Javier sambil menatap tajam Bagas.


"Memang benarkan, jika kau memiliki hati tidak mungkin kau membunuh musuhmu dengan cara memutilasi mereka. Aku juga sering membunuh, tapi melihat caramu membunuh terkadang membuatku jijik sampai tidak memiliki nafsu makan. Bagaimana aku memiliki nafsu makan jika aku harus melihat pemandangan sahabatku mengeluarkan organ orang yang akan di bunuhnya dengan sangat santai. Apakah kau tidak jijik sama sekali dengan tindakan yang kau lakukan itu? Ah bodoh sekali kenapa aku harus bertanya, jika jawaban adalah kau sama sekali tidak ngeri ataupun jijik." Sungut Bagas, membayangkan adegan menjijikan itu bahkan masih saja membuat Bagas merasa sangat mual.


"Aku hanya berbuat baik, maka dari itu aku mengambil organ mereka untuk di sumbangkan pada yang membutuhkan. Di bandingkan mereka harus mati sia-sia, bukankah mereka akan mendapatkan banyak pahala dengan berbuat baik pada sesama sebelum kematian mereka. Lagipula aku hanya melakukan hal itu pada musuhku yang kejahatannya berada di level atas saja, jika masih level bawah dan menengah aku akan langsung membunuhnya tanpa penyiksaan seperti itu. " Jelas javier, mendengar hal itu membuat Bagas menggelengkan kepalanya tidak percaya. Berbuat baik katanya, astaga memang isi otak Javier ini hanya dia dan tuhan saja yang tau.


"Lalu kesepuluh anak buah Alexander itu, apakah kau akan mengeluarkan organ mereka juga?" Tanya Nadine dengan mata memicing. Ternyata sahabatnya ini bukan hanya sekedar mafia saja tapi juga psikopat.


"Aku menyerahkan keputusannya padamu, kau ingin aku membunuh mereka dengan cara seperti apa. Aku akan menurutinya, karena di sini kaulah yang korban mereka jadi mendengarkan saranmu cukup penting." Jawab Javier santai.


"Terserah dirimu saja, tapi jika kau ingin membunuh mereka sebaiknya jangan menyiksa mereka terlalu kejam. Biar bagaimanapun mereka hanyalah anak buah, mereka hanya menuruti perintah bosnya saja." ucap Nadine

__ADS_1


"Baiklah, perintah di laksanakan." jawab javier


"Ngomong-ngomong apakah kau menjual setiap organ yang kau ambil dari setiap musuhmu itu?" Tanya Nadine penasaran. Nadine jadi kasihan pada orang-orang itu, semoga kematian mereka Khusnul khatimah.


"Tidak, aku menyumbangkannya secara gratis." ungkap Javier


"Apakah itu tidak akan menjadi masalah untukmu? Bukankah pihak rumah sakit akan merasa heran dengan asal usul organ-organ itu." ujar Nadine sambil menatap Javier yang saat ini juga tengah menatap dirinya.


"Tidak, karena rumah sakit itu milikku jadi mereka tidak banyak bertanya dari mana asal usul organ-organ itu. Asalkan itu bisa menyelamatkan nyawa orang yang membutuhkan mereka tidak peduli asal usul organ itu." ungkap Javier


"apakah setelah mendengar hal itu kau jadi takut padaku?" Tanya Javier pada Nadine.


"Tidak, tapi bisakah ke 10 orang itu kau langsung saja membunuh mereka tampa harus menyiksa mereka lebih kejam." ucap Nadine, Nadine memang marah pada mereka. Tapi Nadine berpikir selama mereka bukan otak kejahatan itu, kenapa harus menghukum mereka sekejam itu. Nadine tidak masalah jika Javier menghukum mereka dengan sadis tapi bisakah dia melakukan hal itu jika yang menjadi lawannya adalah otak dari semua masalah itu.


"Baiklah, kalau kau ingin seperti itu. Aku akan menurutinya." ucap Javier sambil tersenyum manis.


"Apakah ada masalah tentang itu?" Tanya Javier menatap tajam Bagas.


"Kita sudah sampai bos." Ucap sang supir.


"Hm." gumam Javier lalu langsung keluar dari mobil dan bergegas berlari ke arah pintu mobil yang satunya lagi. Javier mebukakan pintu untuk Nadine.


”Terimakasih."

__ADS_1


"hm.


Lalu mereka segera memasuki markas Javier, sebenarnya Nadine sedikit deg degan. Terlebih sejak tadi banyak pasang mata yang terus menatapnya.


"ayo ikut aku." Ajak Javier


Javier lalu memasuki sebuah lift yang akan mengarahkan mereka ke ruang bawah tanah.


"Apakah dia di sekap di sini?" Tanya Nadine sambil memandangi ruangan yang di penuhi dengan sel sel penjara itu.


"Apa kau sering menyekap musuhmu di sini?" Tanya Nadine


"Ya, aku selalu mengeksekusi mereka di sini. Apakah tempatnya menyeramkan untukmu? Aku bisa memindahkan dari sini dan membawa Alexander ke tempat lain kalau kau merasa tidak nyaman dengan tempat ini." Ujar Javier, membuat Bagas yang mengikuti mereka sejak tadi berdecak sebal.


"tidak perlu, ini adalah tempat yang pas untuknya." ujar Nadine sambil terus melangkah mengikuti Javier. Ini adalah kali ke arah dua Nadine memasuki markas mafia. Ternyata markas mereka walau terlihat indah dari luar tapi di dalamnya terlebih di ruang khusus seperti ini cukup menyeramkan juga. Ruangan ini bahkan mungkin akan sangat cocok jika di jadikan sebagai tempat syuting film-film horor karena tempatnya yang begitu terasa menyeramkan. Apakah orang-orang yang sudah di bunuh Javier dan anak buahnya tidak akan bergentayangan menjadi hantu, mengingat mereka mati dengan cara mengenaskan begitu. Nadine jadi bergidik ngeri membayangkan hal hal mengerikan yang sudah terjadi di ruangan ini.


"Dimana tempatnya?" Tanya Nadine, percayalah penjara ini bahkan terlalu luas dan panjang.


"Kau tinggal belok kanan dan sel Alexander berada di paling pojok." ujar Javier


"Baiklah." Nadine lalu kembali berjalan sedangkan Javier melangkah tepat di belakang Nadine.


"KAU." Teriak murka Alexander saat melihat Nadine dan Javier. Emosi yang sudah dia tahan sejak dia di bawa di tempat ini akhirnya keluar juga.

__ADS_1


"Hai Alexander apakah kau merindukanku?" Tanya Nadine sarkas, Nadine menatap Alexander dengan tatapan penuh ejekan.


Bersambung


__ADS_2