TRANSMIGRASI QUEEN AZURA

TRANSMIGRASI QUEEN AZURA
Bab 59


__ADS_3

"Kau terlalu sombong Nadine, tapi sebentar lagi kesombonganmu itu akan hilang. Lihat saja nanti." Teriak Widya emosi, dia merasa kesal karena tidak di hargai oleh Nadine. Dia merasa kesal karena mantan menantunya itu seakan meremehkan dirinya.


Tapi Nadine sama sekali tidak mendengarkan teriakan mantan mertuanya itu. Terserah mau dia di Katai tidak sopan sekalipun, Nadine tidak peduli.


"Aku cukup terkejut dengan apa yang kau lakukan hari ini, kau terlalu berani." Ucap Sagara sambil bersandar di pintu mobil Nadine.


"Mau apa kau di samping mobilku." Nadine melirik sebal Sagara yang sudah dengan berani bersandar di mobilnya.


"Pergilah, aku mau pulang. Jangan membuang waktuku di sini. Karena aku terlalu malas jika harus kembali berdebat dengan para manusia brengsek itu." sungut Nadine menatap sinis Sagara.


"ngomong-ngomong aku baru tau kalau omonganmu ternyata cukup pedas juga." Ucap Sagara sambil menatap mata Nadine intens.


"Jangan terlalu sering menatapku, aku tidak mau kau sampai jatuh cinta padaku. Itu terlalu merepotkan." Imbuh Nadine santai.


"Aku cukup tampan bahkan lebih tampan di Bandingkan mantan suamimu itu. Aku juga singel lalu apa masalahnya." jawab Sagara dengan penuh percaya diri.


"Masalahnya aku tidak tertarik dengan pria yang sudah menjadi bekas banyak wanita terlebih jika salah satu wanitanya itu adalah Sofia. Rasanya menjijikan jika aku harus berbagi peluh dengan pria yang pernah berbagi peluh juga dengan wanita iblis itu." ucap Nadine tajam.


"Oh astaga itu terdengar sangat menyakitkan, kau memiliki lidah yang tajam juga ya."


"Jika aku memiliki lidah yang manis, aku tidak akan bisa melawan ucapan dari orang-orang yang tidak ku sukai." Jawab Nadine santai.


"Hahahaha, kau benar. Jika kau memiliki lidah yang manis mana mungkin kau bisa melawan ucapan dari keluargamu seperti tadi." seru Sagara


"Tentu, karena kau tidak akan pernah bisa menang melawan keluarga seperti keluargaku itu jika kau memiliki hati yang baik dan lidah yang tidak setajam silet."


"Kau benar, keluargamu memang tampak sangat mengerikan. Tapi aku kagum padamu yang tidak pernah kalah saat beradu argumen dengan mereka semua."


"Kalah tidak ada dalam kamus hidupku, karena jika sampai aku kalah mereka akan semakin bahagia menindasku. Maka dari itu aku tidak boleh kalah, jika mereka kuat maka aku harus bisa menjadi jauh lebih kuat. Saat mereka ingin menjatuhkan aku, aku akan lebih dulu menjatuhkan mereka. Satu lagi, aku orang pendendam, jadi sebaiknya jangan pernah mengusik atau mengganggu hidupku tuan sagara. Itu saja." Sarkas Nadine

__ADS_1


"Aku tidak akan mengganggumu." ucap Sagara sambil menggelengkan kepalanya Tampa mengalihkan fokusnya dari Nadine.


"Sekarang minggir karena aku ingin pulang." Ketus Nadine.


"Oya kau tidak ingin menanyakan kabar putraku?" Tanya Sagara basa basi.


"Untuk apa? dia putramu bukan putraku jadi untuk apa aku harus tau kabarnya." geram Nadine, dia mulai kesal pada Sagara karena sejak tadi pria itu seakan terus menghalangi dirinya.


"Minggir." kata Nadine dingin.


"Apa aku boleh menumpang di mobilmu?" Tanya Sagara sambil menatap Nadine.


"Tidak." tegas Nadine.


"Ku mohon." Pinta Sagara


"Aku tidak membawa mobil."


"Kau bisa membodohi wanita lain tapi tidak denganku. Minggir." Habis sudah kesabaran Nadine.


Buk


Karena merasa semakin kesal, Nadine akhirnya meninju perut Sagara dengan cukup kuat hingga membuat pria yang memiliki kulit sawo matang itu meringis kesakitan sambil memegang perutnya.


"Aku sudah memperingatkan dirimu tadi, tapi sepertinya kau sama sekali tidak mendengar. Pergilah ke dokter THT dan periksa telingamu itu, agar pendengaranmu tidak bermasalah lagi. Satu lagi, tidak semua wanita akan terjatuh dalam tipu muslihatmu itu. Ckkk" ucap Nadine sarkas,


"Sekarang minggir" ucap Nadine sambil menatap tajam Sagara.


Sagara akhirnya menyingkir dari mobil Nadine dan membiarkan Nadine pulang. Menahan Nadine terlalu lama di sini sepertinya bukanlah ide yang baik. Bisa-bisa dirinya akan kembali mendapatkan Bogeman mentah dari Nadine. Sagara tidak menyangka, di balik wajah cantik yang terlihat polos itu ternyata tersimpan jiwa yang bar bar. Sagara pikir hanya lidah Nadine saja yang tajam ternyata pukulan Nadine juga cukup tajam hingga membuat perutnya kesakitan seperti ini.

__ADS_1


"Sampai jumpa, semoga kita bisa bertemu lagi." Teriak Sagara setelah mobil Nadine pergi meninggalkan area pemakaman.


"Wanita yang menarik, ckk Alexander sangat bodoh menyia-nyiakan wanita sehebat itu. Jika aku menjadi Alexander, aku tidak akan menyia-nyiakan wanita seperti itu hanya untuk wanita seperti Sofia." ucap Sagara sambil menggelengkan kepalanya.


Dia heran dengan kebodohan Alexander yang membuang sebuah berlian untuk sebuah batu kerikil seperti Sofia. Bahkan kecantikan antara Nadine dan Sofia perbedaannya sangat jauh, istilah Nadine adalah seorang Dewi sedangkan Sofia adalah versi iblis buruk rupa.


Di dalam mobilnya, Nadine sangat geram dengan kelakuan Sagara tadi. Nadine heran kenapa di hidupnya harus selalu terlibat dengan pria-pria aneh seperti Alexander, Javier ataupun Sagara.


Nadine hanya ingin hidup damai, Tampa harus terlibat dengan hal-hal yang membuatnya pusing seperti itu.


"Kalau di pikir-pikir selama aku menjadi Nadine, sekarang aku jauh lebih cerewet. Padahal dulu aku tidak secerewet ini, aku bahkan hanya berbicara 1 atau 2 kata saja jika di tanya. Mungkin ini karena aku masuk ke tubuh Nadine yang merupakan wanita cerewet maka dari itu aku juga ikut menjadi cerewet sepertinya. huft bibirku lelah karena sudah mengucapkan terlalu banyak kata hari ini." Sungut Nadine sambil meminum susu kotak miliknya.


"Aku lapar, marah-marah ternyata menguras banyak tenaga juga."


Nadine lalu melajukan mobilnya mencari sebuah restoran. Perutnya sudah berbunyi sejak tadi meminta untuk segera di beri makan.


°°°°°


Di sisi lain, tidak lama setelah Nadine pulang Alexander dan kedua orang tuanya juga ikut pulang. Sebenarnya Alexander belum ingin pulang tapi ibunya malah menyeretnya untuk ikut pulang bersama mereka.


Disinilah dia sekarang, satu mobil bersama kedua orang tuanya sambil mendengarkan ibunya yang terus berceloteh.


"mommy kesal sama mantan istri kamu itu, dia terlalu sombong. Alex mommy nggak mau tau kamu ambil hak asuh kedua anak kamu itu. Jika tidak bisa keduanya, ambil saja Arion karena kita membutuhkan penerus laki-laki untuk meneruskan gadis keturunan William." ucap Widya sambil menatap Alexander yang saat ini terus memijat keningnya, dia merasa stres karena sejak tadi ibunya terus saja berceloteh ini dan itu.


"Tapi mom, Alex dan nadine sudah menandatangani surat perjanjian. kamu pasti tidak lupa perihal itu kan." Ujar Antonio, sebenarnya ayah Alexander itu juga menginginkan sang cucu tapi apa gunanya mereka mengambil hak asuh cucu mereka jika mereka harus kehilangan harta mereka.


"Nadine itu cuma perempuan, jangan kalah dong sama dia. Lagipula Nadine itu bodoh, kenapa kita tidak menipu dia saja." Sungut Widya menatap kesal anak dan suaminya yang menurutnya terlalu lembek dalam mengatasi wanita seperti Nadine.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2