
Sejak makan siang tadi, perasaan Nadine tidak tenang. Wanita itu terus saja memikirkan perkataan Alicia putrinya. Nadine tidak pernah menyadari kalau ternyata anak-anaknya memendam perasaan seperti itu selama ini.
"Huft, aku tidak tau seberapa besar penderitaan mereka berdua dulunya. Mereka harus merasakan siksaan batin maupun fisik dari orang-orang sekeliling mereka. Terlebih kedua orang tua mereka juga menjadi salah satu penyumbang luka terbesar di hati kedua anak itu. Huft, Alexander aku tidak tau terbuat dari apa hati pria satu itu. Haruskah aku memberinya sedikit pelajaran sebagai balasan atas apa yang sudah dia lakukan pada anak-anak selama ini. Hm baiklah sepertinya itu bukan ide yang buruk." Ucap Nadine sambil tersenyum tipis.
"Sebaiknya aku masuk sekarang, udaranya mulai terasa dingin." Nadine mengeratkan switer rajut yang di pakainya.
Setelah Nadine memasuki kamarnya, Nadine segera mengambil leptop miliknya. Dia akan kembali memberikan pelajaran kecil untuk Alexander. Anggap saja itu adalah hukuman kecil karena sudah hampir merusak mental kedua anak manisnya itu.
"Baiklah saatnya memulai, sepertinya dengan menghancurkan beberapa bisnis gelapnya tidak akan membuatnya bangkrut. Tenang saja Alexander, ini hanya pelajaran kecil saja. Tapi jika kau sampai membuat kedua anakku ketakutan bahkan menangis lagi. Saat itu aku akan memberikan pelajaran yang tidak pernah kau sangka-sangka selama ini." Ucap Nadine lalu jarinya mulai berselancar di atas keyboard leptop miliknya.
"Alexander memiliki 6 markas, maka aku akan menghancurkan 3 markas. Bersyukurlah Alex aku masih sedikit berbaik hati padamu." ujar Nadine sambil menyeringai kecil.
Nadine mulai meretas data dari 3 markas organisasi milik Alexander. Dia mulai mencari informasi penting dari markas yang sudah diretasnya itu agar bisa di jual pada mafia yang menjadi musuh Alexander. Bukankah dia sangat baik hati, setidaknya dia masih menyisakan sedikit.
Saat Nadine menemukan semua informasi yang di butuhkan untuk menjatuhkan organisasi Alexander. Nadine lalu mulai membuka situs dunia bawah untuk menjual semua informasi yang sudah dia dapatkan.
"Sebaiknya aku mulai dari harga berapa untuk 1 informasi?" Nadine mulai berpikir tentang harga yang harus dia tentukan untuk masing-masing informasi yang dia dapatkan hari ini. Ada banyak informasi yang sudah dia peroleh termasuk informasi kelemahan markas milik Alexander. Dengan informasi itu, akan memudahkan musuh Alexander menyerang 3 markas Alexander.
"Sebaiknya aku mulai dengan harga 15 milliar saja. Bukankah informasi yang aku dapatkan ini sangat berharga. Akan sia-sia jika aku mematok harga murah bukan. Lagi pula mereka semua kaya raya tidak mungkin jika mereka tidak memiliki uang sebanyak itu." ucap Nadine
Tidak sampai 10 menit semua informasi yang di jual oleh Nadine sudah laku terjual habis. Tentu saja untuk menghindari Alexander mengetahui aksinya itu, Nadine merusak sistem organisasi Alexander. Pasti saat ini mereka sedang kelimpungan mengatasi masalah yang si sebabkan Nadine itu.
"Kita akan tunggu besok, semoga besok ada berita baik yang ku dengar. Aku mulai mengantuk, ternyata meretas juga membuat lelah ya. Sebaiknya aku tidur sekarang." Nadine lalu mulai membaringkan tubuhnya, dia benar-benar merasa lelah hari ini. Tenaga tubuhnya yang sekarang sangat berbeda dengan dirinya yang dulu. Sepertinya dia harus mulai memperbanyak porsi latihannya mulai sekarang karena Nadine tidak tau kapan Alexander akan kembali berulah menguji dirinya.
Keesokan harinya, di sebuah Mension mewah terdapat seorang pria yang saat ini sedang di landa kepanikan.
__ADS_1
"Bagaimana bisa informasi markas kita bisa bocor ke organisasi musuh kita?" Alexander saat ini sedang menelepon salah satu anak buahnya yang berada di Jerman. Anak buahnya itu mengabarkan jika markas mereka yang di Australia baru saja di serang oleh musuh mereka.
"Apa kalian sudah mencari tau dalang di balik ini semua?" Tanya Alexander geram.
"Lalu bagaimana dengan markas kita di Jerman? semua aman kan?"
"Halo halo halo."
"Arghh SIAL." Teriak murka Alexander, telponnya baru saja terputus.
"Bos markas kita yang di Jerman baru saja di serang oleh mafia Blood Tiger." ucap salah satu anak buah Alexander.
"APA! Roger segera siapkan helikopter kita akan ke sana sekarang." perintah Alexander, dia benar-benar murka saat ini. Bagaimana tidak ini adalah markas keduanya yang di serang oleh musuhnya.
Saat Alexander masih berada di helikopter, salah satu anak buah Alexander kembali menelpon dan mengabarkan jika markas mereka yang berada di Afghanistan juga di serang oleh mafia sword blue. Hal itu membuat Alexander semakin murka, bagaimana bisa dalam kurung kurang dari 1 hari 2 markasnya sudah di bantai habis oleh musuhnya.
"Arghh SIAL." geram Alexander.
"Bos, markas kita yang di Jerman juga sekarang hancur. Semua anggota kita di sana di bantai habis." Lapor salah satu anak buah Alexander.
"Apa? bagaimana bisa?" Alexander tampak linglung, kedua kakinya bahkan terasa lemas saat mendengar 2 berita buruk itu.
"Apa ada markas kita yang lain yang di serang?" Tanya Alexander
"Sepertinya tidak ada bos."
__ADS_1
"Apakah kalian belum tau siapa yang sudah menyebarkan informasi markas kita pada mafia-mafia itu?" Tanya Alexander geram.
"Sepertinya itu adalah ulah dari orang yang sudah meretas data organisasi kita semalam bos."
''Lalu kalian sudah mendapatkan informasi siapa yang sudah meretas data kita semalam?" Tanya Alexander frustasi.
"Sayangnya sampai detik ini tim IT kita masih belum bisa mendapatkan informasi apapun tentang orang yang sudah meretas data kita semalam bos. Tapi kami curiga jika yang sudah meretas kita adalah anak buah dari 2 kelompok mafia yang sudah menyerang kita."
"Tapi jika itu mereka, tidak mungkin mereka meretas sistem kita dengan menggunakan akun yang sama bukan." Ucap Alexander kesal. Saat ini Alexander tidak tau apa yang harus dia lakukan. Bahkan saat ini dia masih di perjalanan menuju markasnya tapi ternyata markas itu sudah hancur.
"Putar balik, kita akan kembali ke Indonesia sekarang. Tidak perlu lagi kita ke Jerman." perintah Alexander
"Lalu bagaimana dengan markas kita yang sudah di hancurkan bos?"
"Suruh beberapa orang untuk membersihkan semua markas kita yang sudah di serang. Perkuat pertahanan markas kita dan perintahkan tim bagian IT untuk memperkuat sistem kita. Bagaimana bisa kita di retas seperti ini. Suruh mereka juga untuk mencari orang yang sudah bermain-main denganku."
"Bos ada telpon dari Andre, semua obat-obatan yang kita coba selundupkan di Indonesia berhasil di razia oleh pihak kepolisian. Saat ini semuanya sudah di sita dan bukan hanya di Indonesia saja tapi di beberapa negara lain juga berhasil di temukan oleh pihak kepolisian." Lapor salah satu anak buah Alexander, Alexander yang mendengar itu semakin murka.
"Lalu bagaimana dengan anak buah kita! apakah ada yang tertangkap?" tanya Alexander, ada sedikit kekhawatiran dalam diri Alexander saat ini. Dia tidak menyangka bagaimana bisa semua masalah ini terjadi sekaligus dalam hidupnya.
"Untungnya semua anak buah kita berhasil lolos jadi tidak ada yang tertangkap hanya saja kita menderita banyak kerugian karena masalah ini bos."
"SIAL SIAL SIAL." Alexander berteriak frustasi, pria itu bahkan menjambak rambutnya sendiri karena terlalu kesal dengan masalah yang terjadi secara bertubi-tubi ini. Alexander bahkan tidak berani membayangkan total kerugian yang dia peroleh karena masalah ini, tapi yang pasti itu jumlah yang tidak sedikit.
Bersambung
__ADS_1