
"Beraninya kau." geram Alexander, dia benar-benar murka saat melihat semua anak buahnya terkapar tidak berdaya dengan di penuhi luka di sekujur tubuh mereka. Alexander merasa harga dirinya tercoreng oleh Nadine saat ini, sejak dulu dia tidak pernah membiarkan dirinya kalah terlebih oleh seorang wanita tapi saat ini seorang wanita berani mengejek dirinya seperti ini. Alexander tidak bisa menerima hal itu, dengan amarah yang menggebu Alexander menghampiri Nadine. Saat Alexander ingin menampar Nadine, Nadine segera menangkis tangan Alexander dan meninju perut Alexander dengan keras.
"Apakah kau merasa marah Alexander?" Ujar Nadine santai sambil berjalan menghampiri Alexander yang saat ini menatapnya dengan penuh amarah.
"Inilah akibatnya jika hama sepertimu berani mengusik diriku." Ujar Nadine yang langsung melayangkan tendangan pada Alexander. Tapi tendangan itu berhasil di tangkis oleh Alexander.
"Hebat juga ternyata, ku pikir kau hanya hebat dalam melayani Sofia saja di atas tempat tidurmu." ejek Nadine lalu kembali melayangkan tinjunya pada Alexander. Aksi baku hantam antara kedua mantan suami istri itu tidak terelakkan lagi, bahkan semakin sengit. Di saat Alexander lengah, Nadine kembali menendang tubuh Alexander dengan kuat hingga Alexander jatuh terkapar. Tidak puas hanya dengan menendang Alexander, Nadine kemudian kembali melayangkan tinju di wajah Alexander. Alexander benar-benar merasa geram, dengan sekuat tenaga Alexander mencoba bangkit kembali dan membalas pukulan Nadine. Satu tendangan berhasil mengenai perut Nadine tapi hal itu bahkan tidak membuat Nadine meringis sedikitpun.
"Wah tendanganmu cukup hebat juga." Puji Nadine
"Aku pikir kau adalah pria yang lemah, yang hanya bisa bersembunyi di balik ketiak ibumu yang bermulut pedas itu." Sindir Nadine, merasa tidak terima di katai lemah Alexander makin meradang. Dia semakin brutal memukul Nadine tapi berhasil di tangkis oleh Nadine. Hingga satu tendangan kembali menghantam Nadine hingga membuat wanita dua anak itu tersungkur.
Melihat Nadine yang tersungkur seperti itu, Javier merasa tidak terima. Pria itu segera berlari mendekati Nadine. Saat Javier ingin membantu Nadine menghajar Alexander Nadine segera menghentikan Javier.
"Sebaiknya kau jangan ikut campur urusan yang bukan urusanmu tuan Javier. Kau tau aku sangat benci pada orang yang berani mengusik mangsaku. Pergilah dan jangan ikut campur." kata Nadine dingin.
"Tapi kau terluka, aku.
"Kalian terlalu berisik." murka Alexander lalu melayangkan tinjunya pada Javier tapi berhasil di tangkis oleh Nadine. Nadine lalu mendorong Javier ke samping dan menatap pria itu dengan tajam. Seakan memperingatkan Javier agar berhenti mengganggu kesenangannya saat ini. Mengerti arti tatapan wanitanya yang seperti tidak menyukai kehadirannya, Javier kemudian menyingkir dan membiarkan Nadine menyelesaikan urusannya saat ini.
__ADS_1
Nadine menatap Alexander dengan penuh seringai tajam dan penuh ejekan.
"Sekarang kau semakin lancang saja Nadine, kenapa kau tidak hentikan ini dan ikutlah denganku baik-baik dan jadilah penghangat ranjangku seperti dulu. Bukankah kau juga menyukai servisku itu, bahkan aku ingat kau selalu menjerit keenakan di bawahku. Kau juga berkali-kali memintanya lagi bahkan walau aku sudah tidak menginginkannya lagi. Kau pasti tidak lupa dengan rasanya bukan?" tanya Alexander penuh ejekan.
Andai saja saat ini Nadine tidak menyuruhnya untuk tidak ikut campur, rasanya Javier sangat ingin membunuh Alexander.
Sedangkan Nadine semakin murka saat mendengar ejekan yang di lontarkan mantan suaminya itu.
Dengan emosi yang menggebu-gebu Nadine langsung melemparkan pisau lipat yang sudah di pungutnya tadi kearah perut Alexander dan pisau itu menancap dengan sempurna di sana. Darah mulai merembes membasahi baju Alexander, hingga membuat baju berwarna putih itu berubah menjadi merah. Saat Alexander ingin mencabut pisau itu, Nadine lebih dulu menendang Alexander hingga tersungkur. Tidak puas hanya dengan menendangnya saja, Nadine kemudian meraih kerah baju Alexander menyuruhnya pria itu berdiri. Alexander mencoba untuk melawan tapi semua itu sia-sia karena semua serangannya berhasil di lumpuhkan oleh Nadine. Hingga akhirnya Nadine membanting tubuh Alexander dengan keras sembari mencabut pisau yang masih tertancap dengan sempurna di perut sixpack Alexander. Alexander memekik kesakitan saat pisau itu di cabut, tapi seakan belum merasa puas Nadine kembali menginjakkan kakinya di atas aset berharga milik Alexander hingga membuat Alexander berteriak kesakitan. Nadine menyeringai licik menatap wajah kesakitan itu, tidak ada sedikitpun rasa iba di wajah cantik Nadine yang ada hanyalah raut wajah penuh kepuasan.
Javier dan semua anak buahnya yang melihat aksi Nadine, meringis bahkan sampai memegang aset berharga mereka. Mereka merasa sangat ngeri saat melihat tindakan brutal wanita itu. Mereka bahkan tidak berani membayangkan betapa sakitnya milik Alexander saat ini. Mereka semua hanya berdoa semoga pria itu tidak berubah menjadi impoten karena ulah Nadine saat ini.
"Bukankah aku sudah memperingatkanmu agar menjauh dariku dan kedua anakku? Lalu kenapa kau mencoba masuk kembali ke dalam hidup kami hm?" Tanya Nadine mulai menggores pipi Alexander hingga terluka.
"Apakah salah jika aku menginginkan keluargaku untuk kembali utuh?" Tanya Alexander lirih, mata pria itu bahkan berkaca-kaca karena menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya terutama di daerah aset berharga miliknya. Bahkan walau kaki Nadine sudah tidak menginjaknya lagi tapi rasa sakit itu masih begitu terasa bahkan sangat sakit sekali rasanya.
"Kembali utuh? Aku tanya padamu, sejak kapan kau menganggapku dan kedua anakku sebagai keluarga? Bukankah selama ini kau hanya menjadikan aku sebagai budak nafsumu saja. Ternyata kau cukup pandai membuat lelucon ya tuan Alexander." Nadine menatap sengit Alexander, entah terbentur dimana kepala pria itu hingga dia bisa melupakan semua perbuatan jahatnya selama ini pada Nadine dan kedua anaknya.
"Bukankah selama ini kau mencintaiku? kau bahkan selalu mengejarku sejak dulu lalu kenapa sekarang kau seperti ini?"
__ADS_1
"Mencintaimu di masa lalu adalah sebuah kesalahan paling fatal dalam hidupku dan jika kau bertanya tentang cintaku untukmu. Sayangnya semua rasa itu sudah hilang, bahkan hatiku saat ini sudah mati rasa. Mau ku beri tau alasannya?" ucap Nadine menatap Alexander penuh ejekan.
"Baiklah akan ku beritahu, semua rasa cinta itu musnah karena semua penyiksaan fisik dan juga hinaan yang sering kau lontarkan untukku. Apakah kau lupa seberapa banyak siksaan fisik yang kau berikan padaku selama aku menjadi istrimu hm? apakah kau lupa seberapa banyak penghinaan yang kau lontarkan dulu? Aku heran, dulu kau sering mengatakan bahwa aku adalah wanita murahan, bahwa aku adalah pelacur rendahan yang hobi melemparkan tubuhnya pada semua pria, kau juga pernah mengatakan saat di persidangan perceraian kita waktu itu bahwa kau tidak akan pernah Sudi rujuk denganku karena aku adalah wanita yang tidak layak untukmu. kau tidak akan pernah Sudi untuk bersama dengan wanita yang suka menjual tubuhnya sendiri demi uang sepertiku lalu sekarang mengapa kau datang mengemis padaku untuk kembali menjadi istrimu. Bukankah seharusnya kau memiliki sedikit rasa malu tentang itu? Atau rasa malumu juga telah hilang karena obsesi memalukanmu itu?" Kata Nadine memandang sinis Alexander yang kini sedang menatapnya sendu. Mungkin pria itu menyesal atau entahlah Nadine juga tidak tau isi otak pria tidak berguna itu.
"Maafkan aku, dulu aku salah menilaimu. Maafkan aku jika terlalu banyak menyakitimu selama ini. Maafkan aku karena terlalu sering menghinamu dulu, seharusnya aku tidak pernah melakukan hal itu. Tapi saat ini aku menyesali semua itu, andai aku bisa memutar waktu kembali aku pasti tidak akan pernah menyakitimu seumur hidupmu." lirih Alexander, pria itu menangis tersedu-sedu menatap wajah wanita yang sudah dengan bodohnya dia sia-siakan hanya untuk wanita seperti Sofia.
"Tapi sayangnya kau tidak bisa memutar waktu, kau tau andai aku bisa memutar waktu aku tidak ingin mengenal apalagi bertemu dirimu karena kau pria yang sangat tidak pantas untukku. Ini hanya sekedar saran, di bandingkan kau repot-repot mengurusi hiudupku lebih baik kau mencari kebahagiaanmu sendiri. Anggap saja semua lukamu hari ini adalah sebuah pengingat untukmu agar tidak berani mengusik kami lagi. Jika kau berani mengusik kedua anakku lagi bukan hanya menendang, aku bahkan bisa saja memecahkan kedua telurmu itu hingga tidak tersisa apapun." Ucap Nadine lalu pergi meninggalkan Alexander yang terbaring tidak berdaya dengan banyak luka yang kini menghiasi tubuhnya.
"Javier, bisakah aku meminta bantuanmu?" Tanya Nadine pada Javier.
"Ya, apa yang kau inginkan?" Tanya Javier menatap lekat Nadine.
"Antarkan mereka semua ke rumah sakit dan satu lagi jangan membunuh apalagi menyakiti mereka semua." ucap Nadine sambil tersenyum manis.
"ah aku peringatkan jangan menyentuh mereka karena mereka semua adalah mainan milikku dan aku tidak suka mainanku di usik oleh orang lain. apa kau mengerti Javier." bisik Nadine sambil menepuk-nepuk bahu Javier.
"Baiklah aku pergi dulu, sampai jumpa." ucap Nadine sambil melambaikan tangannya sebelum memasuki mobilnya.
Bersambung
__ADS_1