
Sesampai mereka di apartemen Javier, Nadine langsung membersihkan dirinya karena ternyata di sana sudah di siapkan baju untuknya. Ternyata Javier bergerak cukup cepat juga.
"Kau sudah selesai?" Tanya Javier pada Nadine.
"Yah aku sudah selesai. Kau memasak?" Tanya Nadine heran
"Ya aku memasak untukmu, bukankah kau lapar?" Tanya Javier sambil menyajikan satu persatu makanan di atas meja.
"Ya aku sangat lapar, pria itu tidak memberiku makan. Bukankah dia sangat menyebalkan." sungut Nadine, dia mulai kesal kembali saat mengingat kelakuan Alexander padanya.
"Sekarang makanlah." ucap Javier sambil menarik kursi untuk Nadine.
"Terimakasih." ucap Nadine
"Ini makanlah yang banyak." ucap Javier sambil memberikan piring yang sudah di isi dengan nasi di dalamnya.
"Kau ingin lauk apa? biar aku ambilkan." ucap Javier pada Nadine.
"Ambilkan saja aku semuanya, aku bukan tipe pemilih makanan." ucap Nadine, air liurnya hampir saja menetes saat mencium aroma yang menguar dari masakan Javier.
"Ini, makanlah yang banyak." ucap Javier setelah selesai mengisi piring Nadine dengan semua lauk yang sudah di masaknya.
"Kau tidak makan?" Tanya Nadine heran pasalnya Javier hanya melihatnya saja sejak tadi.
"ah aku juga akan makan." ucap Javier kikuk, lalu dia mulai mengisi piringnya juga dengan makanan.
Kedua orang itu mulai makan dengan khidmat tanpa ada pembicaraan sama sekali. Melihat Nadine yang makan dengan lahap merupakan kebahagiaan tersendiri untuk Javier, dia senang masakannya di sukai oleh wanita yang sangat dia cintai itu. Walaupun Nadine tidak bisa membalas cintanya tapi itu bukanlah masalah. Javier akan selalu melindungi Nadine dari jauh dan akan selalu memperlakukan dia dengan baik. Bukankah cinta tidak harus memiliki, asalkan bisa melihat yang di cintai bahagia itu sudah lebih dari cukup.
__ADS_1
"Ini minumlah." ucap Javier lalu menuangkan segelas air putih pada Nadine.
"Maaf aku tidak membuatkanmu jus, aku belum membeli buah." ucap Javier sambil tersenyum hangat.
"Tidak apa-apa, masakanmu sangat enak. Bahkan lebih enak daripada masakanku dan kelaya. Jika kau membuka sebuah restoran dan kau yang menjadi chefnya. Pelanggan restoranmu pasti akan sangat ramai. Wanita yang menjadi istrimu suatu hari nanti akan sangat beruntung." ucap Nadine sambil mengusap bibirnya dengan tisu. Nadine merasa dirinya sangat kenyang, ini adalah makanan terenak yang pernah dia makan. Sepertinya mulai hari ini dia akan sering datang untuk menebang makan di apartemen Javier.
"Aku tidak akan menikah, karena aku tidak tertarik dengan wanita-wanita di luar sana." ucap Javier sambil menatap dalam mata Nadine. Nadine yang memang orangnya tidak peka, jadi dia santai saja.
"Aku hanya akan menikah jika kau mau menjadi istriku Nadine." sambung Javier dalam hati.
"Javier, boleh aku tau alasan kenapa kau sangat membenci wanita sehingga banyak gosip di luar sana yang mengatakan bahwa kau gay?" Tanya Nadine penasaran, sebenarnya sudah lama bibirnya gatal ingin bertanya tapi saat itu mereka tidak dekat. Bukankah akan aneh jika dia bertanya hal pribadi sedangkan mereka hanyalah orang asing.
"Dulu saat usiaku 7 tahun aku pernah di lecehkan oleh seorang wanita. Dia adalah saudara tiri ibuku, wanita itu memiliki gangguan seksual pada dirinya. Dia menjadikan aku sebagai boneka seksualnya, aku saat itu mengeluh pada ibuku. Tapi ibuku tidak mempercayai diriku. Karena ibuku saat itu terlalu mempercayai saudaranya itu, hingga akhirnya dia melihat dengan mata kepalanya sendiri saat saudara yang sangat dia sayangi itu memperkosa diriku yang saat itu berusia 10 tahun. Wanita itu menjadikan aku sebagai bonekanya selama 3 tahun, aku tentu saja melawan. Tapi apa yang bisa di lakukan oleh anak berusia 7 sampai 10 tahun. Terlebih saat itu aku sama sekali tidak memiliki bekal ilmu bela diri pada diriku. Saat itu aku hanyalah seorang anak yang lemah, berbeda dengan kakak laki-lakiku." ucap Javier sambil meremas tangannya sendiri. menceritakan hal ini, membuka luka lamanya kembali. Hatinya selalu sakit dan marah saat mengingat peristiwa kelam itu.
"Lalu apa yang terjadi dengan wanita itu?" Tanya Nadine
"Dia di penjara selama 20 tahun, sebenarnya saat itu ayahku ingin menuntut wanita itu agar di penjara seumur hidup saja. Tapi ibuku memohon pada ayahku agar hukuman adiknya itu tidak terlalu di beratkan karena bagaimanapun wanita itu masihlah adiknya." ucap Javier sambil mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
Karena merasa tidak tega melihat sahabatnya itu menangis, Nadine segera berdiri dan melangkah mendekati Javier. Di rengkuhnya tubuh Javier kedalam pelukannya.
"Tidak apa-apa, sekarang jika ada wanita yang mengganggumu laporkan saja padaku. Aku akan memberinya perhitungan." ucap Nadine sambil mengelus punggung Javier. Nadine sangat tau bagaimana rasanya di lecehkan dan di perkosa. karena dia juga pernah mengalami hal itu sewaktu dirinya masih kecil dulu, itulah sebabnya Nadine takut berkomitmen dengan pria sampai dengan hari ini.
"Apa kau tau, wanita itu mengiris putingku dengan pisau. Kau tau itu sangat sakit, aku bahkan menangis memohon ampun saat itu. Tapi dia tidak melepaskan aku. Dia juga suka menggambar di tubuhku dengan jarum panas hingga tubuhku di dera luka bakar. Aku menangis setiap kali aku akan mandi. Saat itu aku ingin mengeluh pada ayahku tapi ayahku terlalu sibuk bekerja, dia sering keluar negeri bersama ibuku. Sedangkan kakak laki-lakiku bersekolah di sekolah asrama. Hanya aku saja, di titipkan pada wanita iblis itu." ucap Javier sambil menangis terisak di pelukan Nadine. Mendengar tangisan pilu dari sahabatnya itu membuat hati Nadine juga ikut sakit. Dia sangat tau bagaimana rasanya, di lecehkan tapi tidak memiliki tempat untuk menceritakan semua di dapatkannya.
"Lihat ini." ucap Javier sambil membuka baju miliknya.
"kau bisa melihatnya, semua bekas kekerasan yang di lakukan oleh wanita itu membekas dengan sempurna. Aku terkadang jijik saat melihat semua bekas luka ini. Kau tau sejak saat itu bahkan milikku tidak pernah bangun, kata orang biasanya milik pria akan bangun di pagi hari tapi milikku tetap tidur. Aku sebenarnya ingin konsultasi tentang ini tapi aku merasa sangat malu. Kau tau inilah juga salah satu alasan aku tidak pernah membuka bajuku bahkan di hadapan semua sahabat dan bawahanku. Aku takut mereka akan jijik padaku, bisakah kau tidak menceritakan hal ini pada siapapun?" Tanya Javier pada Nadine.
__ADS_1
"Jangan menangis jav, semua akan baik-baik saja dan jangan pernah mengatakan bahwa tubuhmu menjijikan. Kau masih terlihat **** apalagi dengan perut kotak-kotak milikmu itu." ucap Nadine kembali memeluk pria malang itu. Nadine tidak pernah menyangka kalau pria seperti Javier ternyata memiliki nasib yang sama sepertinya.
"Benarkah? Kau tidak jijik melihat semua bekas luka ini?" Tanya Javier khawatir
"Tidak, kenapa aku harus jijik."
"Javier jika kau ingin berobat karena milikmu yang tidak berdiri itu, aku akan menemanimu. Kita bisa berkonsultasi secara privat kan. Semua akan baik-baik saja, aku akan selalu mendukung dan berada di sisimu." Hibur Nadine.
"Um sebenarnya sekarang milikku sudah mulai bangun, ku rasa dia sudah sembuh sekarang." cicit Javier, dia merasa malu saat mengatakan hal itu. Apalagi jika Nadine tau bahwa saat ini miliknya mulai bereaksi karena posisi mereka yang saat ini cukup intim.
"Tapi dia hanya bereaksi jika di dekatmu saja." sambung Javier dalam hati, tidak mungkin dia mengatakan hal itu pada Nadine. Bisa-bisa dia di bunuh oleh wanita cantik di hadapannya ini.
"Benarkah dia sudah sembuh?" tanya Nadine antusias. Nadine merasa ikut bahagia untuk sahabatnya yang satu ini.
"Lalu bagaimana dengan bibimu itu? jika dia di penjara selama 20 tahun bukankah seharusnya dia sudah bebas sekarang?" tanya Nadine sambil mengusap air mata javier
"Ya, dia sudah bebas sejak 5 tahun yang lalu. kau tau sendiri saat ini usiaku sudah 35 tahun." ucap Javier sambil tersenyum kecut.
"lalu dimana dia saat ini?"
"Dia sudah menikah 2 tahun yang lalu dan mengikuti suaminya di Paris. Sejak wanita itu bebas aku belum pernah bertemu dengannya." papar Javier
"Apakah jika seandainya kau bertemu dengannya kau masih merasa takut?" Tanya Nadine hati-hati.
Mendengar pertanyaan Nadine Javier hanya terdiam, tangannya mengepal erat.
Melihat reaksi tubuh sahabatnya yang menegang seperti itu, Nadine akhirnya tau jawaban dari pertanyaannya itu tampa harus di jawab lagi.
__ADS_1
"Aku akan melindungimu saat dia datang, aku berjanji." ucap Nadine sambil tersenyum.
Bersambung