TRANSMIGRASI QUEEN AZURA

TRANSMIGRASI QUEEN AZURA
Bab 44


__ADS_3

"Mommy." teriak Arion dan Alicia serentak. Mata kedua anak itu bahkan sudah di banjiri air mata saat ini.


"Kalian bertiga baik-baik saja?" Tanya Nadine cemas dan di jawab anggukan kepala oleh kelaya. Sedangkan kedua anak Nadine alicia dan Arion tidak mengatakan apa-apa. Kedua anak itu hanya diam sembari memeluk Nadine.


"Anak-anak mommy baik-baik aja kan?"Nadine kembali bertanya pada kedua anaknya itu.


"Iya mommy." jawab Alicia dan Arion serentak.


"Honey, aku nggak nyangka kalau kamu juga akan ada di sini." Ucap Alexander menghampiri Nadine dan kedua anaknya. Arion dan Alicia yang mendengar suara ayah mereka semakin ketakutan. mereka berdua khawatir ayah mereka akan menyakiti mereka berempat.


"Mommy." lirih Alicia semakin mengeratkan pelukannya pada Nadine.


Mata Nadine memicing tajam menatap Alexander, Nadine benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan Alexander hari ini. Pria itu bahkan hampir saja melukai kedua anak kandungnya itu. Bagaimana jika mobil yang di tumpangi kelaya dan kedua anaknya mengalami kecelakaan. Apa pria itu tidak memikirkan hal itu, Nadine makin geram.


"Aku tidak menyangka kau akan melakukan tindakan kekanakan seperti ini Mr. William." ujar Nadine sinis.


"Aku tidak akan melakukan hal ini jika kalian mau ikut denganku kembali ke rumah lama kita." Ujar Alexander sambil melipat tangan ke dadanya, pria itu menatap Nadine dengan raut wajah penuh kemenangan.


Nadine merasa semakin muak dengan pria di hadapannya ini, dia semakin terlihat seperti seorang pria bajingan.


"Kau terlalu banyak bermimpi sepertinya, sampai kau mengharapkan kembali wanita murahan sepertiku untuk kembali padamu lagi. Bukankah dulu sebelum perceraian kita kau pernah mengatakan bahwa kau tidak akan pernah memintaku untuk kembali lagi di hidupmu karena aku terlalu menjijikkan? Lalu mengapa hari ini kau justru mengemis pada wanita yang katamu menjijikkan ini untuk kembali lagi padamu?" Ejek Nadine.


Alexander mengepalkan tangannya dengan erat, lalu menatap Nadine menyeringai.


"Bukankah setiap orang bisa saja berubah? Dulu kau mungkin terlihat menjijikkan, tapi saat ini di mataku kau terlihat cukup seksi dan memukau. Lagi pula cinta terkadang tumbuh begitu saja tampa bisa kita cegah pada siapa dia akan tumbuh. Bukankah begitu sayang?" Tanya Alexander sambil mengelus pipi Nadine dengan lembut.


Mendapatkan perlakuan seperti itu, Nadine merasa semakin kesal dan muak pada Alexander. Tapi Nadine masih berusaha menahan emosinya karena saat ini kedua anaknya masih memeluk dirinya dengan erat.


Sehingga dia hanya memejamkan kedua matanya dengan erat sambil sesekali menghembuskan napas kasar.


"Yang kau rasakan itu bukanlah cinta melainkan obsesi." Ujar Nadine sambil menatap sinis Alexander.

__ADS_1


"Bagaimana bisa kau menyatakan cintaku sebagai obsesi sayang?" Tanya Alexander sambil membelai wajah dan leher Nadine.


"Bisakah kau jauhkan tangan menjijikkanmu itu dari wajah dan leherku?" Tanya Nadine sinis, dia sudah muak sekarang. Sepertinya pria dihadapannya ini memang tidak bisa di ajak berbicara baik-baik.


"Kelaya ajak anak-anak untuk masuk ke mobilku sekarang." Perintah Nadine


"no mommy Arion akan tetap di sini dan melindungi mommy." Ucap Arion menatap teduh wajah sang ibu.


"Masuk mobil ok." ucap Nadine sambil tersenyum hangat pada putranya itu.


"tapi mommy.


"Jangan khawatir, mommy akan baik-baik aja." imbuh Nadine.


"Cia juga ikut aunty Aya dulu ya. Kelaya bawa mereka berdua dan ingat jangan membuka pintu mobilnya apapun yang terjadi. Kunci dengan rapat dan tolong lindungi mereka berdua." perintah Nadine.


Kelaya lalu membawa kedua anak Nadine memasuki mobil Nadine yang terparkir tepat di depan mobil kelaya.


"Kenapa kau menyuruh mereka untuk pergi hm?" Tanya Alexander kembali menyentuh bibir Nadine dengan tangannya.


"Jangan pernah menyentuh tubuhku dengan tangan menjijikkanmu itu." Bentak Nadine lalu memelintir tangan Alexander dengan keras.


"Aw kau." Alexander memegang tangannya yang terasa sangat sakit. Sepertinya dia tidak bisa membawa istrinya ini dengan cara baik-baik.


"Kalian bawa dia ke mobilku." Perintah Alexander geram.


"Majulah." tantang Nadine sambil menyeringai sinis menatap satu persatu anak buah Alexander.


Terlihat 4 orang anak buah Alexander datang menghampiri Nadine dan dua di antara mereka mulai memegang tangan Nadine. Nadine yang emosinya sudah mencapai batas maksimal, memelintir tangan keduanya dengan kencang lalu membanting tubuh mereka. Lalu Nadine kembali berjalan ke arah 2 anak buah Alexander yang lain kemudian meninju mereka satu persatu. Alexander melotot melihat hal itu, bagaimana bisa mantan istrinya yang lemah itu dapat membanting anak buahnya yang badannya dua kali lipat lebih besar di bandingkan tubuhnya sendiri.


"Aku tidak akan pernah memaafkan kalian semua." Murka Nadine lalu mulai menghajar anak buah Alexander satu persatu. Nadine berlari dengan cepat ke arah 5 orang anak buah Alexander lalu menarik tangan mereka satu persatu dan mematahkannya dengan mudah.

__ADS_1


Perkelahian antara Nadine dan anak buah Alexander semakin sengit tapi itu tidak membuat Nadine merasa takut walaupun jumlah musuhnya saat ini jauh lebih banyak.


Nadine kembali berjalan menuju anak buah Alexander yang lain lalu meninju wajah dan perut mereka satu persatu. Terkadang kakinya juga ikut menendang mereka mulai dari dada, perut bahkan sampai menendang alat vital mereka.


Emosi Nadine makin tidak terkendali, amarah saat ini begitu menguasai ibu 2 anak itu.


Nadine terus menyerang mereka dengan beringasnya. Satu persatu anak buah Alexander tumbang karena pukulan Nadine. Saat ada yang ingin menyerang Nadine maka Nadine akan menggunakan tubuh anak buah Alexander yang lain sebagai tameng sehingga bukan Nadine yang terkena pukulan melainkan anak buah Alexander yang di jadikan tameng oleh Nadine.


Di saat salah satu anak buah Alexander ingin menembaknya Nadine meraih tubuh anak buah Alexander yang lain dan di jadikan sebagai perisai hidup. Darah terciprat di wajah Nadine, tapi Nadine sama sekali tidak takut bahkan melihat darah itu jiwa Nadine semakin semangat menyerang mereka.


Kini 50 orang anak buah Alexander itu telah tumbang, bersyukurlah Nadine tidak sampai membunuh mereka walau mereka mungkin saat ini menderita cidera cukup serius seperti tangan dan kaki patah dan wajah yang penuh memar. Ada juga yang terkena tembakan tadi tapi tembakan itu hanya mengenai bahu pria itu saja jadi tidak sampai membuatnya mati.


Nadine menatap mereka semua dengan sinis, hingga Nadine berjalan ke arah salah satu anak buah Alexander yang tadi menarik rambut indahnya dan melemparkan pisau lipat kearahnya. Beruntung Nadine memiliki refleks yang cukup bagus hingga dia dapat menghindari pisau itu jika tidak pasti dia sudah terluka saat ini.


"Kau tau salahmu?" tanya Nadine pada salah satu anak buah Alexander yang saat ini merintih kesakitan karena perutnya di injak oleh Nadine.


"Kesalahan terbesarmu adalah karena sudah mau bekerja pada pria sepertinya." ucap Nadine sambil menunjuk Alexander yang berdiri terpaku menatap Nadine yang memukuli anak buahnya satu persatu.


"Kau tau aku paling benci pada pria yang menarik rambutku dengan lancang." ucap Nadine murka lalu menarik rambut pria itu dengan kuat kebelakang hingga pria itu mendongak menatap Nadine.


"dan kau tau aku juga sangat benci tubuhku di sentuh oleh pria dan dengan lancang kalian mencoba menyentuhku." Lalu Nadine menghempaskan kepala pria itu dengan cukup keras hingga membentur aspal.


Setelah anak buah terakhir Alexander tumbang, Nadine mulai melangkah menuju Alexander yang saat ini menatapnya terkejut.


Kaki Alexander bahkan berdiri kaku saat ini, entah kenapa dia bahkan tidak bisa beranjak dari tempatnya berdiri saat ini.


"Huh aku heran bagaimana bisa kau di sebut sebagai mafia jika kekuatan anak buahmu selemah itu." ucap Nadine sinis.


Mendengar ucapan Nadine Alexander sangat terkejut, bagaimana bisa Nadine mengetahui fakta bahwa dirinya adalah seorang mafia.


Di sisi lain, saat ini seluruh anak buah Javier menatap Nadine ngeri. Mereka melihat cukup jelas pertarungan Nadine tadi dan itu cukup mengerikan. Sedangkan Javier menatap takjub wanitanya itu, ternyata dia tidak membutuhkan bantuan darinya untuk mengahadapi Alexander. Sungguh mengecewakan.

__ADS_1


Bersambung


Maaf ya hari ini cuma bisa up satu chapter saja🤧


__ADS_2