
"Apakah kalian baik-baik saja?" Tanya Nadine setelah dia memasuki mobilnya.
"Alicia tidur?" Tanya Nadine saat melihat putri kecilnya tidur dengan begitu nyenyaknya tampa perduli situasi yang terjadi di luar mobil mereka.
"Tadi Alicia merasa ketakutan, jadi aku suruh dia tutup mata aja. Eh taunya malah tidur dia." Ucap kelaya cengengesan.
"Tapi kalian baik-baik aja kan?"
"Ya kami baik-baik saja. Kak Nadine tidak usah khawatir." Ucap kelaya sambil tersenyum hangat.
"Jalankan mobilnya sekarang Aya." Ucap Nadine, dia tidak ingin kedua anaknya melihat pemandangan mengerikan yang ada di samping mobil mereka itu.
"Siap kak." ucap kelaya
"Apakah kalian berdua melihat apa yang terjadi tadi?" Tanya Nadine pada kedua anaknya, ada sedikit kekhawatiran di hati Nadine jika kedua anaknya itu melihat aksi brutalnya tadi. Bagaimana dia bisa lupa jika di dalam mobil ada kedua anaknya yang mungkin saja melihat aksi brutalnya tadi.
"Tidak mommy, Arion sama cia tidak melihat apa-apa. Aunty Aya menutup mata kami tadi." Ucap Arion cemberut, anak itu kesal sekali padahal dia ingin melihat sang ibu tadi. Dia merasa khawatir pada ibunya itu, bagaimana jika ayahnya menyakiti sang ibu tapi aunty menyebalkannya itu justru menutup kedua mata mereka berdua tadi.
"Hehehe itu untuk kebaikan bersama ok." ucap kelaya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sedangkan Arion hanya mendengus kesal melihat tingkah sok polos auntynya itu.
"Mommy baik-baik saja kan? Daddy tidak memukul mommy lagi kan?" Tanya Arion dengan cemas. Anak itu masih mengingat jelas bagaimana kasarnya sang ayah dulu, selalu memukuli sang ibu bahkan walau ibu mereka tidak melakukan kesalahan apapun.
"Tidak sayang, tadi mommy sama Daddy hanya saling menyapa saja. Tidak ada kekerasan apapun, jadi jangan khawatir ok." ucap Nadine sambil mengelus kepala Arion.
"Syukurlah, Arion senang kalau Daddy tidak menyakiti mommy lagi. Maaf ya mommy Arion belum bisa melindungi mommy, Alicia, dan aunty Aya sekarang. Padahal Arion udah makan banyak, tapi Arion tidak tumbuh tinggi juga. Padahal Oma bilang kalau mau tinggi harus makan yang banyak." Lirih Arion sedih. Arion sangat ingin sekali tubuhnya bisa cepat tinggi, agar dia bisa melindungi wanita-wanita berharga dalam hidupnya. Tapi sepertinya keinginan itu masih belum bisa di wujudkan.
"Jangan sedih ok, suatu saat Arion pasti akan tinggi. Arion harus lebih banyak bersabar." ucap Nadine sambil tersenyum lembut.
"Mommy Cia lapal." celetuk Alicia sambil menguap.
"Cia udah bangun? Tidurnya nyenyak sayang?" Tanya Nadine menatap Alicia lembut. Gadis kecilnya ini baru saja terbangun, sepertinya karena terlalu takut membuatnya tertidur tadi.
__ADS_1
"Iya mommy, aunty Aya tadi bilang kalau Cia takut Cia tidul aja anggap semuanya mimpi buluk. Jadi Cia tidul aja, Cia takut sekali tadi mommy." ucap Alicia sambil bergidik ngeri saat membayangkan adegan mengerikan saat mobil mereka di kejar tadi. Terlebih saat melihat sang ayah dan puluhan bodyguardnya membuat ketakutan Alicia kian menjadi. Anak itu masih belum bisa menghilangkan semua kekejaman sang ayah dulu padanya, juga pada sang kakak dan ibu mereka.
"Alicia mau makan apa?" Tanya Nadine mencoba mengalihkan pembicaraan karena melihat ketakutan kian besar Dimata putri kecilnya itu. Sepertinya dia harus membawa kedua anaknya ini ke psikiater anak nanti.
"Cia mau makan bakso mommy." Ucap Alicia semangat.
"Bakso aja nggak ada yang lain?" Tanya Nadine
"Sama nasi goleng mommy, sama sate ayam juga." tambah Alicia.
"Arion makan nasi goreng aja mommy." sambung Arion sambil menggelengkan kepalanya saat mendengar pesanan sang adik.
"Ha? kamu yakin mau makan semua itu?" Tanya Nadine menatap heran putrinya itu.
"yes mommy, Cia yakin selibu pelsen." ucap Alicia tersenyum ceria. Sepertinya tidak sulit mengembalikan mood anak itu.
"Baiklah, ay cari warung makan yang jual semua itu ya." perintah Nadine yang di jawab dengan anggukan kepala oleh kelaya.
Saat masih menunggu pesanan makanan mereka, Nadine dikagetkan dengan kedatangan Javier yang tiba-tiba saja sudah duduk di samping Alicia.
Jadi saat ini posisi mereka adalah Nadine, Alicia, dan Javier sedangkan di depan mereka ada kelaya dan Arion.
"Daddy viel, Daddy di sini juga?" Tanya Alicia heboh, matanya bahkan sampai berkedip-kedip lucu.
"Cia tidak mimpi kan ini?" sambung Alicia sambil mencubit pipinya sendiri.
"aw sakit, belalti tidak mimpi." ucap Alicia tersenyum senang.
"Daddy mau makan juga?" Alicia kembali bertanya pada Javier sedangkan Nadine tidak usah di tanya. Ekspresi wajahnya bahkan lebih asam di bandingkan asam Jawa. Dia yakin pria itu mengikuti mereka sampai kesini karena Nadine tidak pernah percaya dengan istilah kebetulan.
"iya Daddy juga makan di sini, tadi Daddy lapar jadi Daddy mampir ke sini. Taunya Daddy lihat Cia juga yaudah Daddy langsung samperin aja." ucap Javier sambil tersenyum hangat, matanya sesekali melirik Nadine. Sedangkan wanita yang diliriknya hanya menatapnya datar.
__ADS_1
"aku baru tau kalau uncle juga suka makan di pinggir jalan, padahal uncle terlihat seperti orang kaya." sindir Arion, entah kenapa dia tidak yakin dengan jawaban Javier tadi. Terlebih pria yang di panggil Daddy oleh sang adik itu sejak tadi terus melihat kearah ibunya. Apalagi senyum misterius pria itu, membuatnya makin curiga.
"Apa orang kaya nggak bisa makan di pinggir jalan?" Tanya Javier
"Bisa, siapa yang bilang tidak bisa. Hanya saja uncle tidak terlihat seperti orang yang suka makan di warung pinggir jalan seperti ini." ucap Arion santai.
"Uncle suka kok, suka banget malah." Ucap Javier sambil tersenyum kecil.
"ckkk" Nadine berdecak kesal melihat tingkah pria d samping putrinya itu.
"Ini makanannya tuan dan nyonya, Silahkan dinikmati."
"Makasih ya mas." ucap Nadine dan kelaya.
"makasih uncle." ucap Arion dan Alicia sedangkan Javier hanya tersenyum tipis.
"Daddy kok nggak makasih sih sama unclenya." tegur Alicia.
"Makasih pak." ujar Arion
"Dasar sombong." gumam Nadine tapi masih bisa di dengar oleh Javier.
"Emang Daddy sombong ya ?" tanya Alicia menatap Javier penasaran.
"Eeehh tidak, kata siapa Daddy sombong. Daddy nggak sombong kok." ujar Javier gelagapan. Jika Bagas dan teman Javier yang lain melihat Javier saat ini mereka pasti akan sangat tercengang, bagaimana tidak. Javier teman mereka yang di cap sebagai pria es batu itu sepertinya sudah mencair.
"Ternyata kau cukup cerewet juga, ku pikir kau pria yang tidak suka berbicara basa basi seperti ini." sindir Nadine
mendengar sindiran itu, Javier hanya menggelengkan kepalanya saja. Sepertinya akan sulit meluluhkan hati wanitanya itu, tapi itu akan menjadi tantangan untuk Javier.
Bersambung
__ADS_1