
"maaf" ucap Javier sambil mengusap sudut bibir Nadine yang terkena bumbu sate. Sedangkan kelaya dan Alicia yang melihat adegan romantis itu tersenyum bahagia.
"Kau.." Nadine semakin geram melihat tingkah Javier. Entah kenapa pria itu makin menyebalkan saja.
"Jangan terlalu suka marah, itu tidak baik untuk kesehatanmu." ujar Javier santai sambil memakan kembali bakso miliknya.
"Daddy."
"ya sayang, kenapa?" tanya Javier menatap Alicia sedikit heran saat melihat gadis kecil itu berdiri dari kursinya.
"Daddy kita tukelan tempat duduk yuk, Daddy duduk di tempat Cia aja Cia nggak suka duduk di sini. Kulsinya panas." ucap Alicia
"oh, baiklah." Javier lalu berdiri dan berganti posisi dengan Alicia. Alicia yang melihat Daddy kesayangannya saat ini duduk di samping ibunya tersenyum bahagia.
Dia berharap semoga Javier bisa menjadi daddy-nya suatu saat nanti. Dia sangat menyukai Javier karena pria itu sudah baik padanya.
"Berhenti menatapku itu membuatku risih." ucap Nadine sinis.
"Kau cantik hari ini." puji Javier jujur.
Mendengar pujian itu justru membuat Nadine makin kesal, entah kenapa melihat Javier selalu membuat darahnya mendidih. Padahal Javier tidak melakukan hal jahat padanya.
"Tidak baik melotot di depan makanan."
__ADS_1
"Siapa yang melotot, sepertinya ada yang salah dengan matamu itu tuan Javier."
"Mataku masih sangat normal, aku sering memeriksakan kesehatan setiap bulan dan semuanya normal."
"Apakah kau sudah memeriksa kejiwaanmu? sepertinya ada masalah dengan kejiwaanmu itu."
"Tenang saja semuanya sangat normal. Ah sekedar saran, jangan terlalu sering marah-marah itu akan membuat tekanan darahmu naik. Aku hanya takut kau mengalami struk karena terlalu sering marah-marah."
Mendengar ucapan Javier itu Nadine makin kesal. Rasanya dia ingin sekali menggetok kepala Javier dengan botol kecap di depannya itu. Tapi dia tidak ingin memberikan contoh yang buruk pada kedua anaknya itu. Nadine sepertinya telah lupa dengan adegan kekerasan yang sudah dia lakukan 1 jam yang lalu.
"Kalau marah sebaiknya di keluarkan jangan di pendam dalam hati, itu tidak baik. Kau tau?" ucap Javier sambil mengusap sudut bibir Nadine.
"Ada daun bawang tadi di sudut bibir kamu." ucap Javier santai.
"Daun bawangnya udah aku buang tadi."
"pembohong." Nadine makin kesal rasanya, dia heran kenapa bisa Alicia sampai sangat menyukai pria di sampingnya ini. Padahal wajahnya saja selalu membuat kesal saat melihatnya.
"Aku jujur, aku tidak tau bagaimana caranya untuk berbohong padamu." Ucap Javier sambil tersenyum manis.
"Kau tau senyummu itu persis seperti senyum pria mata keranjang." ucap Nadine menatap remeh Javier.
mendengar dirinya di katai mata keranjang Javier sangat shock. Bagaimana bisa pria berwajah tampan dan baik hati sepertinya di kira pria mata keranjang. Sedangkan berkencan dengan wanita saja dia belum pernah.
__ADS_1
"Uncle matanya jangan seperti itu, Arion takut mata uncle bisa copot nanti." ucap Arion sambil tertawa kecil.
"Daddy baksonya Daddy udah abis itu, Daddy pasti suka ya sama baksonya." ujar Alicia, gadis kecil itu merasa sangat bahagia. Dia merasa seperti sedang makan siang bersama ibu, kakak dan ayahnya saat ini. Gadis kecil itu bahkan tidak menyadari perdebatan-perdebatan yang di lakukan ibunya dan daddy-nya itu.
"Cia juga suka ya sama baksonya?" tanya Javier sambil mengusap kepala Alicia dengan lembut.
"Cia suka Cia suka." Alicia memekik heboh.
"Cia kalau makan ya makan dulu sayang, jangan teriak-teriak begitu." tegur Nadine.
"iya mommy, Oya mommy tau hali ini Cia bahagia banget." ucap Alicia tersenyum haru.
"bahagia kenapa? Karena baksonya enak?" tanya Nadine
"Enggak Cia bahagia kalena hali ini Cia bisa makan sama mommy sama Daddy juga. Kita kayak kelualga bahagia, tau tidak mommy Cia tadi cembulu sama temannya Cia. Dia celita setiap hali selalu makan siang sama mommy sama daddy-nya juga. Makan malam dan salapan pagi juga begitu." lirih Alicia, biar bagaimanapun dia hanyalah seorang anak yang tetap masih membutuhkan sosok seorang ayah. Tapi dia sudah tidak lagi mengharapkan Alexander untuk mengisi posisi itu dalam hidupnya. Dia sudah terlalu kecewa dan sakit hati pada pria yang bergelar sebagai ayah kandungnya itu. Rasa sakit yang pria itu torehkan sudah terlalu besar dan menimbulkan trauma untuk Alicia. Salahkah jika dia mengharapkan Javier menjadi ayahnya karena pria itu adalah pria yang bisa meluluhkan hatinya sejak pertemuan pertama mereka dulu.
"Mommy boleh tidak kalau setiap hali Cia minta Daddy sama mommy antelin Cia ke sekolah kayak teman-teman Cia? mommy tau, di sekolah Cia ada temannya Cia yang tidak punya Daddy kayak Cia dan semua teman-teman Cia tau. Jadi meleka ejek teman Cia itu anak halam, mommy Cia nggak mau di sebut anak halam lagi kayak dulu. Kata mba sali anak halam itu anak yang tidak di inginkan oleh ayahnya. Bi sali juga bilang kalau anak halam itu anak yang kehadilannya sangat di benci Allah. Dulu Cia sama kak lion selalu di sebut anak halam sama Daddy Alex, aunty Sofi, mommy sama daddy-nya Daddy Alex, sama semua maid di lumah Daddy juga. Cia sedih sekali setiap Cia di bilang anak halam mommy." ucap Alicia dengan mata yang berkaca-kaca.
Mendengar hal itu Nadine merasa sangat geram, sepertinya tekanan mental yang di alami oleh kedua anaknya di rumah Alexander tidak sesederhana itu. Entah makian apa saja yang sudah di terima kedua anaknya ini selama di sana. Nadine jadi merasa sedih, bahkan seorang pelayan pun berani menghina anaknya dan Alexander bagaimana bisa dia mengatakan hal yang menyakitkan itu juga pada kedua anak kandungnya sendiri.
"Daddy Cia boleh tidak diantal sekolah sama Daddy besok?" Tanya Alicia dengan mata penuh binar harapan.
"Boleh sayang, nanti besok Daddy jemput Cia ya. Mulai besok dan seterusnya Daddy akan antar terus jemput Cia ke sekolah. Jadi Cia nggak boleh sedih lagi ok." ucap Javier, dia menatap nanar Alicia. Bagaimana bisa anak sekecil itu menerima perlakuan tidak menyenangkan seperti itu selama ini terlebih di rumah ayah kandungnya sendiri. Javier tidak habis pikir dengan Alexander itu. Entah dimana hati pria itu, dia boleh saja membenci ibu dari anaknya tapi kedua anaknya tidak berhak menerima kebencian yang sama darinya. Seharusnya dialah yang menjadi sosok super Hero untuk anak-anaknya, yang akan membela mereka di saat semua orang menghina mereka. Tapi Alexander justru ikut menghina kedua anaknya, memang benar luka paling besar seorang anak itu bukanlah di sebabkan oleh orang lain tapi luka yang di sebabkan oleh orang tua mereka sendiri.
__ADS_1
Bersambung