
"Lalu apa rencanamu selanjutnya?" Tanya Javier pada Nadine.
"Membuatnya cacat, aku tidak ingin mengambil resiko lebih jauh lagi dengan membiarkan Alexander terus bebas berkeliaran. Jika aku hanya menyiksa mentalnya seperti ini lalu membebaskannya bukankah kemungkinan dia akan membalas dendam saat dia terbebas nanti. Tapi jika aku membuat tangan dan kakinya cacat, bagaimana dia bisa membalas ku?" Ucap Nadine sambil terus menatap Alexander yang sejak tadi terus tertawa bak orang tidak waras.
"Tapi bukankah dia masih bisa menyuruh orang untuk melukaimu atau Alicia dan Arion saat dia bebas nanti. Kenapa kita tidak membunuhnya saja, jika kau tidak ingin membunuhnya maka biarkan aku yang membunuhnya." ujar Javier sambil menatap wajah Nadine. Bahkan hanya menatap wajahnya saja sudah membuat hati Javier berbunga-bunga, apalagi jika suatu saat Nadine benar-benar menjadi miliknya. Mungkin dia akan menjadi pria paling bahagia dan paling beruntung di dunia ini.
"Aku tidak akan membunuhnya, kematian terlalu mudah untuknya. Aku ingin dia terperangkap dalam jurang penyesalan seumur hidupnya. Kalau soal dia akan menyuruh orang lain untuk menyakiti aku atau kedua anakku, aku sudah memikirkannya. Aku akan membuatnya bisu agar dia tidak akan bisa menggunakan mulutnya itu untuk menyakiti aku dan kedua anakku." tutur Nadine serius, Nadine tidak akan mengambil resiko lebih besar lagi dengan membiarkan Alexander hidup dengan bebas Tampa merasakan hukuman apapun.
"Bisakah kau merusak pita suara Alexander untukku javi? kalau untuk kedua kaki dan tangannya biarkan aku yang akan mengurusnya. Aku ingin membuat dia merasakan apa yang aku rasakan selama ini. Dia harus membayar mahal atas semua kejahatannya padaku juga pada semua anak-anakku. Bukan hanya padanya, tapi kedua orang tuanya juga harus membayar mahal atas kejahatan mereka padaku dan anak-anakku javi. Dengan menyaksikan Alexander yang cacat, itu akan menjadi pukulan paling menyakitkan untuk kedua orang sombong itu. Selain itu, apakah kau sudah mengambil seluruh aset Alexander? Karena seperti yang kau tau, jika Alexander memiliki banyak aset di luar perusahaan miliknya juga perusahaan milik keluarganya itu." Tutur Nadine, dia tidak akan menyisakan apapun untuk Alexander dan keluarganya. Dia akan merenggut semua yang keluarga Alexander miliki. Terserah setelah ini keluarga itu akan hidup bagaimana Nadine sama sekali tidak peduli. Lagipula itu bukanlah urusannya.
"Aku sudah mengambil semua aset milik Alexander, kau tenang saja. Semua aset itu sudah ku alihkan menjadi milik Arion dan Alicia."
"Apakah menurutmu aku terlalu jahat? aku membalasnya tampan ampun. Menyiksa fisik dan batinnya. Apakah menurutmu aku sangat jahat karena sudah melakukan semua ini?" Tanya Nadine sendu.
__ADS_1
"Tidak, kau tidak jahat. Kau melakukan hal ini karena Alexander sudah terlalu jahat padamu. Jadi anggap saja ini adalah balasan atas semua kejahatan yang sudah dia lakukan selama ini." ungkap Javier sambil merangkul bahu Nadine lembut.
"Ku pikir kau akan mengatakan bahwa aku wanita jahat karena sudah dengan tega menyiksa mental dan fisik orang lain seperti ini." ucap Nadine sambil menghela napas lega.
"Jangan terlalu mengkhawatirkan hal-hal yang tidak perlu dan tidak begitu penting. Itu hanya akan membuatmu pusing dan stres." Kata Javier lembut, bagi Javier hukuman Nadine bahkan tidak ada apa-apanya. Jika itu dia, sudah di pastikan saat ini tubuh Alexander sudah berubah menjadi potongan-potongan kecil. Dia akan menyiksa pria itu dengan penyiksaan yang paling menyakitkan hingga Alexander akan memohon kematian padanya. Jika dia menjadi Nadine, mungkin saat ini jantung Alexander sudah tidak berdetak lagi. Dia tidak akan pernah membiarkan orang yang mengusik dan menyakiti dirinya ataupun orang-orang di sekitarnya celaka. Dia akan menyingkirkan siapapun yang mencoba menyakiti dirinya dan keluarga yang sangat dia cintai.
"Terimakasih atas semuanya javi, jika tidak ada dirimu aku tidak akan bisa menyeret Alexander ke tempat ini dan menyiksanya seperti ini." ucap nadine sambil terkekeh kecil.
Bagas, Frans, Kevin, Richard dan Arnold yang melihat tawa kecil Nadine justru merasa merinding. Melihat Nadine tertawa seperti melihat seorang iblis yang sedang tertawa. Mereka masih tidak menyangka, jika ternyata sosok berwajah polos bak malaikat itu sangat mengerikan. Dia bahkan terlihat seperti ratu iblis di balik wajah malaikatnya itu.
"Kalau kalian ingin makan, pergilah." Usir Javier pada semua sahabatnya itu. Sungguh sahabat yang tidak pengertian, diakan sedang dalam proses pendekatan saat ini tapi mereka selalu saja merusaknya.
"Kalian ingin makan siang?" Tanya Nadine pada semua sahabat Javier dan di balas anggukkan kepala oleh mereka semua.
__ADS_1
"Ayo kita makan siang javi, aku yakin kau pasti lapar. Aku juga merasa sangat lapar, ternyata menonton orang bercinta juga bisa menguras energi ya." Celetuk Nadine asal.
Mendengar hal itu membuat javier melotot tidak percaya, sepertinya otak Nadine sekarang sudah terkontaminasi oleh hal-hal negatif dan berbau dewasa. z
"Sebaiknya setelah ini, jika Alexander ingin bercinta dengan para gigolonya itu kau jangan menontonnya. Lagipula apakah kau tidak merasa jijik? Aku bahkan merasa ngeri saat membayangkan percintaan mereka. Tapi justru kau melihat bahkan menikmatinya dengan sangat baik semua pertunjukan itu." cibir Javier kesal.
"hahaha, apa kau tau bagaimana menggemaskannya Alexander tadi saat mendesah ketika dia di setubuhi oleh kedua pria tadi. Sepertinya Alexander benar-benar menikmati aksi percintaan mereka. Bukankah dia pria yang munafik? padahal sebelumnya dia mati Matian menolak mereka berdua tapi setelahnya dia menjadi yang paling menikmati. Dia bahkan sampai keluar berkali-kali, ckkk benar-benar pria munafik." cibir Nadine sambil menatap remeh Alexander.
"Baiklah daripada kau terus bergosip Tentang betapa hebatnya percintaan mereka bertiga lebih baik kita makan siang dulu."
"Baiklah."
"Lalu kapan aku bisa merusak pita suara Alexander?" Tanya Javier
__ADS_1
"Setelah aku sudah puas menyiksanya, kalau pita suaranya di rusak sekarang dia tidak akan bisa mendesah keras lagi saat dia di setubuhi oleh para selir ya itu. Jadi berikan dia waktu sedikit lagi untuk menikmati semuanya." ucap Nadine sambil berjalan meninggalkan ruangan tempat penyekapan Alexander.
Bersambung